Kol Goreng, Sehatkah bagi Tubuh?

Kol Goreng, Sehatkah untuk Tubuh? (ULTIMAGZ)
Kol goreng menjadi hidangan pelengkap pecel lele, pecel ayam, nasi uduk, dan ayam penyet. (Foto: cnnindonesia.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.COM – Kol goreng sering kali hadir sebagai menu lalapan saat menyantap makanan berat, mulai dari pecel lele hingga ayam penyet. Bahkan, tidak sedikit orang yang meminta lalapan kol mentah untuk ikut digoreng. Namun, sehatkah mengonsumsi kol goreng?

Kol sendiri memiliki manfaat untuk mencegah kanker, menurunkan risiko penyakit jantung, meredakan peradangan, dan menjaga saluran pencernaan tetap sehat. Dikutip dari alodokter.com, kol juga memiliki kandungan vitamin C, vitamin K, Vitamin B6, protein, mangan, serat, kalsium, kalium, magnesium, dan vitamin B1 (thiamin).

Sayangnya, sayuran ini ternyata bisa membahayakan tubuh jika tidak diolah dengan benar, salah satunya dengan melalui proses penggorengan. 

Terdapat dua hasil dari proses penggorengan kol. Jika dilakukan secara singkat, kol akan memiliki tekstur yang lebih lunak, sedangkan kol akan menjadi kering dan renyah jika digoreng dalam waktu yang lebih lama. Warnanya pun berubah menjadi lebih coklat. 

Dilansir dari cnnindonesia.com, dokter spesialis gizi klinis Maya Surdjaja menjelaskan proses penggorengan terdiri dari dua tahapan. Pertama, terjadi proses dehidrasi yang menyebabkan kelembapan dalam makanan berkurang. Selanjutnya, proses minyak membuat lemak yang terkandung di dalamnya menyerap ke dalam makanan. Proses ini membuat cairan dalam kol digantikan dengan minyak. Apalagi, menurut Maya, sayuran adalah jenis makanan yang paling banyak menyerap minyak jika digoreng. 

Dengan itu, kandungan air, vitamin, dan antioksidan dalam kol akan berkurang. Semakin lama digoreng, semakin banyak kandungan gizi yang terbuang. 

Makanan pendamping ini juga memicu berbagai masalah dan penyakit dalam tubuh. Berikut beberapa bahaya kol goreng.

  1. Memicu timbulnya Kanker

Proses menggoreng kol membuat kadar radikal bebas yang bersifat karsinogenik (radikal yang memicu tumbuhnya sel kanker) meningkat. Maka dari itu, kol yang digoreng terlalu lama dalam suhu minyak yang tinggi akan meningkatkan risiko terkena kanker.

       2. Meningkatkan risiko penyakit jantung

Mengonsumsi makanan yang digoreng, termasuk kol goreng, mampu meningkatkan kadar kolesterol dalam darah dan memicu tekanan darah tinggi. Kedua hal ini dapat memicu meningkatnya risiko penyakit jantung. 

       3. Membuat rentan terkena obesitas

Kol yang digoreng mengandung kolesterol dan minyak jahat. Bila terus menerus dikonsumsi, kol goreng berisiko menambah berat badan yang berujung pada obesitas. Gorengan juga memengaruhi hormon yang meningkatkan napsu makan dan menambah kadar lemak dalam tubuh.

Lalu, bagaimana cara menyantap kol goreng dengan risiko minim? Jika tetap ingin menikmati kol goreng, Ultimates dapat menggoreng sendiri dengan minyak baru dan suhu rendah. Hal ini dapat mengurangi pembentukan senyawa karsinogenik. Kol goreng juga bisa diimbangi dengan kol rebus atau sayuran rebus lainnya agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

Kol mentah menjadi alternatif yang paling baik. Selain itu, cara lain mengonsumsi kol yang tidak kalah nikmat adalah dengan merebus atau mengukus kol. Cara ini membuat nutrisi dan khasiat kol tetap terjaga. 

Berdasarkan penjelasan di atas, ada baiknya Ultimates mempertimbangkan untuk mengurangi konsumsi kol goreng. Jangan lupa untuk menjaga kesehatan, ya!

 

Penulis: Maria Katarina 

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: cnnindonesia.com

Sumber: cnnindonesia.com, alodokter.com, sehatq.com, klikdokter.com