Mahasiswa, Latih Kemampuan Literasi dengan “Making Connection”

Ilustrasi membaca buku. (Foto: ULTIMAGZ/Kasyful)
Ilustrasi membaca buku. (Foto: ULTIMAGZ/Kasyful)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com — Pernahkah Ultimates merasa bingung saat ingin menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan maupun gambar? Jika Ultimates membiarkannya, hambatan tersebut bisa memengaruhi kecepatan dalam membuat tugas maupun skripsi. Maka dari itu, Ultimates dapat melatih kemampuan literasi mulai dari sekarang dengan strategi making connection

Making connection atau membuat koneksi merupakan saat di mana seseorang menghubungkan suatu bahan bacaan dengan 3 hal lainnya. Debbie Khumara selaku praktisi pendidikan mengenalkan strategi tersebut untuk menanggapi masalah rendahnya angka literasi pada siswa. 

Menurutnya, kemampuan literasi bukan sekadar bisa membaca. Namun, seseorang harus bisa memilah informasi tersebut untuk mengetahui kebenarannya, membuat keputusan, hingga mengkritisi. 

“Jadi ketika kita membaca itu bukan cuman selesai membaca tutup, udah habis selesai ceritanya, tidak. Akan tetapi, banyak yang bisa kita bahas dari bacaan itu,” kata Debbie lewat akun YouTube REFO Indonesia pada Senin (21/09/20) 

Berdasarkan pemberitaan Theconversation.com, kemampuan literasi yang rendah bertolak lurus dengan rendahnya jumlah hasil yang dihasilkan Indonesia dalam suatu periode (produktivitas negara).

Bukan hanya itu, literasi rendah juga membawa dampak pada tingkat kesejahteraan. Ukuran kesejahteraan diambil dari rendahnya pendapatan per kapita, yaitu tingkat pendapatan semua orang bila didistribusikan secara merata dalam sebuah negara. Kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan juga merupakan akibat dari tingkat literasi yang rendah. 

 

Asah kemampuan literasi dengan making connection

Bagi Debbie, making connection dapat membantu Ultimates untuk mengasah pikiran. Dengan berpikir dan menemukan, ada proses yang terjadi di dalam otak yang bisa menghubungkan antara sinapsis-sinapsis. 

Sinapsis merupakan titik temu antarterimnal dalam neuron pada otak. Jika sinapsis terus dilatih untuk berproses, pengetahuan bisa lebih bertahan di dalam otak dan sebaliknya. 

“Kita aja orang dewasa susah menulis kan, coba kalau suruh nulis skripsi, suruh nulis tesis. Susah menuangkan pikiran kita dalam tulisan itu,” tutur Debbie dalam web seminar yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama REFO Indonesia.

Maka dari itu, Debbie menekankan perlunya latihan untuk menulis ide dengan making connection. Berikut ini merupakan tiga hal yang harus Ultimates koneksikan saat membaca. 

1.Text-to-self

Ilustrasi tahap text-to-self. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi tahap text-to-self. (Foto: pexels.com)

Tahap ini merupakan yang paling mudah menurut Debbie. Di mana Ultimates harus menghubungkan pengalaman diri sendiri dengan sumber bacaan. 

Jika Ultimates masih bingung bagaimana cara merenungkannya dengan diri sendiri. Berikut ini ada beberapa panduan pertanyaan dari Debbie yang bisa membantu Ultimates untuk mengekspresikan pikiran.

  • Bagian cerita ini mengingatkan saya pada…
  • Saya merasa seperti… (tokoh),  ketika saya…
  • Bagaimana cerita ini serupa dengan kehidupan saya?
  • Bagaimana cerita ini berbeda dengan kehidupan saya?
  • Apa yang saya rasakan ketika membaca cerita ini?

2. Text-to-text

Ilustrasi tahap text-to-text. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi tahap text-to-text. (Foto: pexels.com)

Setelah membandingkan bacaan dengan diri sendiri, Ultimates juga harus mengkoneksikan dengan bacaan lainnya. Akan tetapi, Ultimates juga dapat mencari persamaan maupun perbedaan dari bacaan terkait dengan lagu maupun film yang sudah Ultimates ketahui.

“Setiap kali membaca kita punya pengetahuan. Otak kita kan kayak komputer ya, punya memori. Memori yang pernah ada di sini harus kita hubungkan dengan apa yang kita baca. Jadi semakin banyak kita baca, semakin kita connect, makanya disebut making connection,” imbuh Debbie.  

Untuk tahap text-to-text, Debbie memberikan 4 panduan pertanyaan untuk membantu Ultimates.

  • Bagaimana bacaan (cerita) ini mengingatkan saya pada bacaan lain?
  • Bacaan ini serupa dengan bacaan yang pernah saya baca yaitu…
  • Bacaan ini berbeda dengan bacaan yang pernah saya baca…
  • Saya pernah membaca cerita yang serupa dengan cerita ini, yaitu…

3. TexttoWorld

Ilustrasi tahap text-to-world. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi tahap text-to-world. (Foto: pexels.com)

Tahapan ketiga merupakan langkah yang paling sulit dilakukan. Pasalnya ketika selesai membaca, Ultimates harus mengkoneksikan bacaan dengan dunia sekitar. 

Debbie menjelaskan, dunia sekitar bisa mewakili isu yang sedang terjadi atau fakta pada kehidupan nyata. Tidak selalu harus berpatokan pada nilai moral dalam bacaan tersebut. Sebagai panduan Ultimates, Debbie memberi empat pertanyaan di bawah ini. 

  • Bagaimana bacaan ini mengingatkan saya pada dunia sekitarnya?
  • Bacaan ini membuat saya berpikir mengenai… (kejadian di lingkungan sekitarnya atau di dunia)
  • Bacaan ini membuat saya berpikir mengenai…
  • Bagian cerita ini (…) berhubungan dengan dunia sekitar saya…

Dalam pengaplikasiannya, Debbie berharap agar Ultimates dapat menjawab pertanyaan tersebut secara komprehensif atau menyeluruh. Jangan hanya menjawab dengan kalimat tergolong singkat. Ia pun menegaskan pentingnya mengasah literasi dengan making connect agar bisa menerapkan hasil bacaan dalam kehidupan sehari-hari. 

“Penting sekali karena penerapannya menghubungkan bacaan dengan dunia sekitar menjadi penting bagi pelajaran lain. Dengan adanya koneksi tersebut, anak-anak jadi terkoneksi antara pembelajaran dan kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. 

 

Penulis: Elisabeth Diandra Sandi

Editor: Abel Pramudya

Foto: pexels.com

Sumber: theconversation.com