Mengenal Hoarding Disorder, Kebiasaan Menimbun Benda

Mengenal Hoarding Disorder, Kebiasaan Menimbun Benda (ULTIMAGZ)
Ilustrasi Hoarding Disorder. (Foto: discovermagazine.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Mungkin Ultimates memiliki hobi untuk mengoleksi barang-barang tertentu. Jika benar, berarti kalian termasuk kolektor. Biasanya, benda-benda yang dikoleksi memiliki sisi unik atau hanya sekedar hobi saja seperti uang kuno, barang-barang antik, dan lainnya.  Namun, Ultimates harus tahu perbedaan hobi mengoleksi barang dengan hoarding disorder.

Dilansir dari sehatq.com, hoarding disorder adalah gangguan ketika seseorang terus menerus mengumpulkan barang yang tak perlu. Gangguan ini membuat penderitanya enggan untuk membuang benda milikinya walaupun sudah rusak. Barang yang dikumpulkan tersebut juga tidak memandang jenis tertentu. Bahkan, seringkali barangnya juga sudah rusak. 

Kebiasaan buruk ini juga membuat kualitas hidup seseorang menurun. Bahkan, hubungan personal dengan orang lain akan berantakan jika kebiasaan ini dilakukan secara terus-menerus.

Secara resmi, Asosiasi Psikiater Amerika memasukkan hoarding disorder ke dalam edisi terbaru Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5) sebagai gangguan mental yang serius. Menurutnya, kebiasaan ini merugikan orang lain seperti lingkungan yang tidak sehat dan buruknya hubungan dengan orang lain.

tidak bisa berpisah dengan benda-benda baik yang berharga maupun tidak. Ciri lainnya meliputi sulit menemukan hal penting karena terlalu banyak benda, menyimpan benda gratis dan tidak berguna, sulit membuang benda karena merasa suatu hari akan membutuhkannya, dan merasa stres dengan banyaknya barang namun tidak berusaha mengurangi jumlahnya. 

Mengutip hipwee.com, setidaknya ada tiga alasan yang membuat orang mengidap hoarding disorder. Pertama, kenangan dari barang tersebut yang membuat mereka sayang untuk membuangnya. Seringkali hadiah dari sahabat atau orang yang disayang membuat pemilik ingin terus menyimpan barang tersebut.

Kedua, mereka meyakini barang-barang itu memiliki cita rasa keindahan. Terakhir, mereka tidak ingin membuang barang secara percuma dengan asumsi barang tersebut dapat didaur ulang atau diperbaiki.

Hoarding disorder bukanlah hal yang langka. Perempuan atau laki-laki sama-sama bisa mengalami gangguan ini. Namun, mereka yang tergolong dewasa berusia 55 tahun ke atas tiga kali lebih rentan mengalami hoarding disorder dibandingkan yang usianya lebih muda. Secara garis besar, mereka yang berumur 50 tahun membutuhkan bantuan psikiater untuk menangani hoarding disorder.

Tidak dipungkiri remaja juga mampu mengalami gangguan ini. Hal ini terjadi karena mereka masih tinggal dengan orang tua atau teman sekamar. Hoarding disorder mulai mengintervensi remaja sejak usia 20-30 tahun.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Jawabannya berawal dari diri sendiri. Ultimates harus bisa mengosongkan ruangan dari benda-benda yang tidak bermanfaat. Mulailah belajar untuk memilah barang yang harus dibuang dan yang masih harus disimpan. Yang terpenting, Ultimates juga harus menolak dorongan untuk menimbun lebih banyak.

Faktor lingkungan seperti dampingan anggota keluarga juga memotivasi diri untuk berubah. Namun, jika tak kunjung membaik, Ultimates dapat berkonsultasi dengan psikiater untuk mendapatkan penanganan yang baik.

 

Penulis: Maria Katarina

Editor: Andi Annisa Ivana Putri

Foto: discovermagazine.com

Sumber: sehatq.com, hipwee.com, alodokter.com, klikdokter.com