Risiko Diabetes Pada Minuman Kekinian

ancaman diabetes minuman kekinian (ultimagz)
Potret minuman Boba Milk Tea yang kekinian. (ULTIMAGZ/Dionisius Adrian)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Banyak makanan dan minuman yang masuk ke dalam kategori ‘kekinian’ atau berkenaan dengan masa kini. Namun, kandungan gula dalam beberapa minuman kekinian dapat meningkatkan risiko terkena diabetes.

Penyakit diabetes terbagi menjadi dua, yaitu diabetes insipidus dan diabetes melitus. Jenis diabetes melitus sering dikaitkan dengan pola makan tidak sehat. Kandungan gula dalam darah yang melebihi batas normal menyebabkan pankreas tidak dapat menghasilkan hormon insulin atau pengatur glukosa dengan cukup. Minuman manis kekinian yang dikonsumsi secara berlebihan bisa menjadi salah satu pemicunya.

Salah satu jenis minuman yang terkenal masa kini adalah bubble tea atau biasa disebut dengan istilah boba. Minuman asal Taiwan ini menjadi populer karena keunikan bola-bola kenyal yang berasal dari tepung tapioka. Selain itu, bubble tea memiliki berbagai macam rasa dan varian.

Berdasarkan sebuah penelitian yang dikomisi oleh Channel News Asia, mahasiswa program diploma Ilmu Pangan dan Gizi Terapan menguji beberapa merek bubble tea untuk mengetahui berapa banyak gula yang terdapat di dalamnya. Mereka mengambil varian Brown Sugar Boba Milk Tea sebagai sampel penelitian karena minuman tersebut sedang populer di kalangan remaja. Ternyata, minuman tersebut mengandung 92,5 gram gula atau setara dengan 22 sendok teh gula.

Sesuai dengan Peraturan Kementerian Kesehatan (Permenkes) Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan Pada Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menyarankan konsumsi gula dibatasi sebanyak 50 gram per orang setiap harinya. Jumlah itu setara dengan kurang lebih 12 sendok teh gula.

Apabila melihat kembali dari penelitian pada paragraf sebelumnya, berarti orang yang minum satu porsi bubble tea dengan varian terkait sudah kelebihan mengonsumsi 10 sendok teh gula per harinya dari saran Permenkes. Maka dari itu, mengonsumsi minuman kekinian dengan jumlah yang berlebihan setiap hari dapat meningkatkan risiko untuk terkena diabetes.

Dalam jurnal ilmiah bertajuk “Asupan Gula, Garam, dan Lemak di Indonesia: Analisis Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014” juga menyebutkan, konsumsi gula penduduk Indonesia rata-rata masih di batas normal. Namun, sudah ada 11,8 persen penduduk yang menyantap gula lebih dari jumlah rekomendasi karena mengonsumsi minuman manis.

Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 pun menuliskan bahwa prevalensi diabetes melitus pada masyarakat Indonesia meningkat dengan cepat. Bila pada 2013 angka prevalensi bagi penduduk di bawah usia 15 adalah 6,9 persen, perolehan data tiga tahun kemudian naik menjadi 8,5 persen. Selain itu, jurnal berjudul “Diabetes in Asia” mengungkapkan, diabetes tipe ini berkembang lebih cepat di Asia dibandingkan wilayah-wilayah lain. Dengan Tiongkok menduduki posisi negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak, Indonesia berada di peringkat ketujuh pada 2019.

Penelitian Susanti dan Difran Nobel Bistara dalam jurnal “Hubungan Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus” menuliskan cara pencegahan terkena diabetes. Dengan mengubah gaya hidup seperti mengontrol pola makan dan olahraga yang teratur, Ultimates dapat menghindari diri dari penyakit diabetes. Selain itu, diet yang baik bisa membantu menjaga jumlah gula darah.

Pasalnya, lebih baik mencegah daripada terkena karena diabetes memiliki berbagai macam dampak buruk pada tubuh manusia. Penyakit ini bisa menyebabkan amputasi, disabilitas hingga kematian. Selain itu, diabetes bisa mengurangi usia harapan hidup sebanyak 5 sampai 10 tahun. Sebagai catatan, faktor penyebab diabetes bukan hanya berasal dari menyantap makanan dan minuman kekinian saja. Maka dari itu, sebenarnya boleh-boleh saja mengonsumsi makanan dan minuman kekinian, tetapi perlu diingat juga bahwa sesuatu yang berlebihan tidak baik bagi kesehatan.

 

Penulis: Nadia Indrawinata

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Fotografer: Dionisius Adrian

Sumber: p2ptm.kemkes.go.id, persagi.org, health.detik.com, journal.ugm.ac.id, kesmas.kemkes.go.id, mediaindonesia.com, researchgate.net