SERPONG, ULTIMAGZ.com – Seseorang yang kerap tersenyum belum tentu merasa bahagia. Sering kali mereka menutupi kesedihan atau depresi dengan melekukkan bibirnya agar terlihat senang. Namun, apakah Ultimates tahu bahwa senyuman bisa digunakan sebagai cara untuk menyembunyikan depresi?
Tindakan seperti ini sering disebut dengan smiling depression. Melansir halodoc.com, depresi yang tersenyum atau smiling depression adalah istilah untuk seseorang yang hidup dengan depresi sembari tampak sangat bahagia atau puas di luar. Buruknya, tindakan ini dapat memicu upaya bunuh diri.
Secara umum, mereka yang kerap merasa bahagia dan mudah tertawa di depan orang lain ternyata memiliki luka di dalam hatinya. Meski sampai saat ini smiling depression belum digolongkan sebagai gangguan mental, kondisi ini dapat mengganggu kondisi primer seseorang.
Oleh karena itu, beberapa gejala yang menunjukkan seseorang mengalami depresi yang tersenyum adalah perasaan yang tertekan, hilangnya ketertarikan untuk melakukan aktivitas yang digemari, insomnia, mudah lelah, merasa memiliki kesalahan yang tidak dapat dimaafkan, dan adanya keinginan untuk membunuh diri. Ini adalah gangguan depresi mayor dengan gejala atipikal, dan akibatnya banyak yang tidak tahu bahwa mereka mengalami depresi atau tidak mencari bantuan.
Walaupun terdapat beberapa gejala, mereka yang termasuk dalam smiling depression lebih sering tertawa, aktif, cerita, dan optimis. Keadaan ini lebih berbahaya dibandingkan pengidap depresi biasa yang cenderung lemah dan mudah menangis.
Baca juga “Mindfulness Meditation, Praktik Mencintai Diri Sendiri di Masa Kini”
Terdapat beberapa hal yang dapat memicu seseorang menjadi smiling depression. Pemicu yang paling utama adalah karena seseorang merasa dirinya tidak berguna. Ini juga didukung oleh stigma negatif masyarakat terhadap orang dengan gangguan mental yang membuat seseorang merasa tidak ada yang mendukung.
Pemicu lainnya adalah media sosial. Dengan adanya depresi dan merasa tidak dibutuhkan orang lain, membuat seseorang menjadi depresi terus-menerus ketika melihat kesuksesan rekannya di media sosial. Sebab, media sosial dapat menimbulkan perasaan membandingkan dan tidak mampu.
Jika Ultimates merasa menjadi salah satu pengidap depresi ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya sebelum menjadi lebih buruk lagi. Cobalah untuk bercerita ke orang yang dipercaya seperti orang tua, teman, sahabat, kekasih, dan orang terdekat lainnya. Jangan pernah memendam perasaan negatif yang kian menumpuk. Jika merasa semakin parah, Ultimates bisa menghubungi psikolog ataupun psikiater.
Selain bercerita, Ultimates juga harus menyadari bahwa kondisi ini ada dan serius. Dengan mengubah pola pikir, kerap beberapa orang mudah mencari jalan keluar dari situasi ini. Mereka dapat memilih dan memutuskan solusi yang mampu meredam depresi dan kekesalannya.
Cara lainnya adalah melakukan meditasi. Melansir magdalene.co, studi dari Rutgers University di Amerika Serikat memperlihatkan mereka yang meditasi dan beraktivitas fisik dua kali seminggu mengalami penurunan tingkat depresi hingga 40% dalam waktu delapan minggu. Mencari kesibukan agar lebih produktif juga dapat mengurangi pikiran negatif yang ada dalam diri kita.
Penulis: Maria Katarina
Editor: Alycia Catelyn
Foto: unsplash.com
Sumber: magdalene.co, idntimes.com, halodoc.com
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.