Opini: Memutus Rantai Rasisme, Warisan Kolot yang Tak Lagi Relevan

Melawan Rasisme, Warisan Kolot yang Tak Lagi Relevan (Ultimagz)
Ilustrasi rasisme. (Sumber: Bangor Daily News)
Share:

I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sepenggal kalimat di atas merupakan bagian dari pidato Marthin Luther King yang bertajuk “I Have a Dream”. Berdiri di atas anak tangga Lincoln Memorial, aktivis kesenjangan ras dan pemimpin gerakan hak sipil Amerika ini menyampaikan angan-angannya akan dunia yang lebih baik pada 28 Agustus 1963. Naasnya, 57 tahun setelah impian itu diperdengarkan pada publik, dunia masih bergelut pada permasalahan yang sama, rasisme.

Pada 25 Mei 2020, seorang pria berkulit hitam ditangkap dengan kekerasan oleh petugas kepolisian Minneapolis. George Floyd, dituduh membeli rokok dengan uang dolar palsu. Laporan yang dilayangkan oleh penjaga toko tempat ia berbelanja mengantarkannya pada kehadiran polisi 17 menit kemudian.

Media The New York Times merekonstruksi CCTV di sekitar toko tersebut, hingga berhasil membuat satu potong penuh klip yang menunjukkan saat George dijatuhkan di atas tanah. Leher George ditindih lutut petugas kepolisian bernama Derek Chauvin. Tampak Chauvin menekan leher George selama delapan menit empat puluh enam detik, membuatnya kehilangan nyawa karena kehabisan napas.

Please, I can’t breathe,” kata George berulang kali yang tidak digubris petugas kepolisian tersebut.

Setelah ditahan selama enam menit, tubuh George mulai terkulai. Orang-orang di sekitar tempat kejadian mendesak para polisi yang datang untuk mengecek nadi George. Salah satu petugas polisi yang hadir di tempat, JA Kueng, berusaha mencari nadi George di pergelangan tangannya, tetapi tidak ia temukan. Meski demikian, para polisi masih bergeming di tempat. George dinyatakan meninggal satu jam kemudian.

Kematian George Floyd memercikkan amarah di penjuru dunia. Walau kejadian itu terjadi di Negeri Paman Sam, aksi unjuk rasa menuntut keadilan terhadap hidup orang berkulit hitam muncul di banyak negara, seperti Inggris, Prancis, Australia, Korea Selatan, Jepang, dan masih banyak lagi. Suara yang disatukan atas tajuk #BlackLivesMatters ini mengutarakan penghilangannya diskriminasi rasial atau rasisme.

Hilangnya nyawa George Floyd bukanlah kasus kesenjangan rasial pertama di Amerika Serikat. Namun, bila orang-orang sadar akan permasalahan yang telah mengakar dari zaman leluhur ini sudah tidak lagi relevan, George Floyd bisa menjadi nyawa terakhir yang gugur karena isu ras.

Makna Rasisme dan Cerminannya di Dunia Nyata

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menuliskan bahwa rasisme adalah paham atau golongan yang menerapkan penggolongan atau pembedaan ciri-ciri fisik (seperti warna kulit) dalam masyarakat. Pembedaan ciri ini juga berlaku pada suku, agama, ras, adat (SARA).

Asal mula rasisme sendiri terjadi pada masa kolonialisme. Paul Spoonley pada bukunya yang berjudul “Ethnicity and Racism” menjabarkan bahwa konsep ras muncul pada sistem interaksi sosial di dunia ketika negara-negara Eropa sedang menjunjung tinggi semangat ekspansi. Negara yang dijajah akan dipandang lebih rendah dari ciri fisik. Oleh karena itu, negara Eropa yang masyarakatnya berkulit putih memandang orang berkulit gelap lebih hina karena disandingkan dengan pemikiran ‘lebih lemah’.

Contohnya, pada masa pendudukan Belanda di Hindia-Belanda, dibentuk sebuah rezim segregasi rasial yang terdiri dari tiga tingkat. Tingkat tertinggi diduduki oleh kaum Europeanen atau ras kulit putih. Kelas kedua adalah Vreemde Oosterlingen, sebutan untuk warga Timur Asing yang meliputi Tionghoa, Arab, dan India. Sementara kelas terakhir adalah Inlander yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia disebut sebagai pribumi. Pribumi merupakan istilah untuk menamai penduduk lokal nusantara.

Pengelompokkan ras di masa penjajahan juga dialami oleh warga keturunan Maori di antara komunitas ras kulit putih di Selandia Baru dan warga kulit hitam di Amerika Serikat. Politik Apartheid yang ditentang oleh tokoh revolusioner Nelson Mandela juga merupakan contoh nyata dari diskriminasi rasial. Afrika Selatan pada awal 1930an, di bawah koloni Inggris, mengelompokkan warga berdasarkan keturunan dan ras. Kelompok yang dianggap lebih rendah tentunya tidak memiliki privilege seperti yang dimiliki kelompok superior.

Kasus-kasus tersebut sejatinya muncul lebih dari satu abad yang lalu. Namun, bebasnya negara-negara dari penjajahan tidak serta merta membebaskan mereka dari diskriminasi ini. Pola pikir kaum ‘penjajah’ dan ‘yang dijajah’ masih melekat kuat hingga menimbulkan rasa tidak suka yang sangat tidak logis.

Indonesia dan Dosa Besarnya Atas Rasisme

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan jargon yang dielu-elukan masyarakat Indonesia. Berbeda-beda tapi tetap satu. Bangku sekolah selalu menyiramkan pupuk kalimat itu ke setiap pikiran anak-anak Indonesia. Sebuah semboyan yang idealis, namun tidak realistis.

Hingga kini, Indonesia masih berada dalam pertarungan panjang melawan isu rasisme. Diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dan masyarakat Papua masih menjadi polemik yang tidak jelas kapan usainya.

Awal mula kebencian terhadap etnis Tionghoa dapat ditemukan ujungnya pada 400 ratus tahun yang lalu. Dalam buku “Jakarta: Sejarah 400 tahun karya Susan Blackburn, etnis Tionghoa sudah ada terlebih dahulu sebelum pelayar Belanda tiba di Nusantara. Setelah VOC masuk, masyarakat Tionghoa digandeng sebagai mitra bisnis dan mendapat perlakuan istimewa dibanding masyarakat lain. Meski begitu, hubungan mesra ini tidak berlangsung lama karena munculnya pemberontakan.

Memasuki era pasca-kolonialisme, penelitian yang dilakukan oleh Amy Freedman dengan tajuk “Political Institutions and Ethnic Chinese Identity in Indonesia” mengatakan bahwa ketidaksukaan masyarakat Indonesia secara umum kepada etnis Tionghoa merupakan produk politik pecah belah Presiden Soeharto. Selama masa pemerintahannya, segelintir etnis Tionghoa mendapat keuntungan material dan menjadi kaya. Sejumput kecil pengambil keuntungan ini dianggap representasi seluruh etnis Tionghoa di Indonesia.

Pada masa itu pula, Soeharto menginginkan etnis Tionghoa untuk melakukan asimiliasi dengan warga lokal. Selama proses ini berlangsung, banyak aturan mengikat yang sejatinya diskriminatif, seperti aturan penggantian nama, pelarangan segala bentuk penerbitan dengan bahasa dan aksara Cina, pembatasan kegiatan keagamaan, pelarangan perayaan hari raya tradisional Tionghoa di muka umum. Puncaknya, pada kerusuhan Mei 1998, ratusan warga keturunan Tionghoa tewas dan diperkosa.

Infografis kekerasan tionghoa di indonesia (ULTIMAGZ)
Infografis: tirto.id

Wujud dari diskriminasi rasial yang dialami oleh saudara di Indonesia Timur mungkin berbeda, tetapi luka yang ditimbulkan sama perihnya. Masih tergolong baru, pada Agustus 2019, asrama mahasiswa Papua di Surabaya didatangi oleh oknum TNI untuk mempertanyakan kenapa bendera merah putih yang dipasang di depan asrama bisa masuk ke dalam selokan.

Aksi yang seharusnya berjalan damai ini tiba-tiba menjadi ricuh akan lontaran rasial. Dalam video yang tersebar di media sosial menunjukkan massa yang berteriak “monyet!” kepada para mahasiswa Papua yang ada di dalam.

BBC Indonesia pernah melakukan wawancara kepada mahasiswa Papua yang melanjutkan studi di tanah Jawa. Dari hasil wawancara tersebut, empat mahasiswa tersebut sering mendapat diskriminasi rasial berupa ejekan verbal. Hanya karena perbedaan bahasa, dialek, warna kulit, dan ras mampu membuat orang Indonesia menyakiti saudara sebangsanya.

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

“Hargai kami sebagai manusia.” #papualivesmatter #blacklivesmatter #papua #rasisme #bbcindonesia

A post shared by BBC News Indonesia (@bbcindonesia) on

nbsp;

Bukan hanya ketidakadilan verbal, pertumpahan darah di tanah Papua juga merupakan hal keji yang jarang disorot media. Pembantaian Nduga (Nduga Massacre) yang terjadi pada 1 Desember 2018 misalnya. Serangan ini merupakan pembunuhan yang dilayangkan kepada para tenaga kerja pembangunan jalan. Para pembunuh disinyalir bagian dari konflik papua dan otoritas Indonesia membebankan kesalahan kapada separatis bersenjata.

Tentunya, Pembantaian Nduga hanyalah ujung gunung es dari diskriminasi rasial lainnya yang menimpa warga Papua. Masih banyak nama yang tidak kita ingat dan nyawa yang tidak kita doakan karena keterbatasan informasi dan empati terhadap apa yang terjadi di Indonesia bagian timur.

Melawan Rasisme demi Pluralisme yang Ideal

Indonesia sudah terlalu tua untuk bergelut dalam permasalahan sosial yang sama. Menuju tahun kemerdekaan yang ke-75, seharusnya Indonesia sudah bisa benar-benar memaknai semboyan yang terpampang jelas di bawah lambang negara Burung Garuda.

Rasisme adalah pola pikir kolot. Nyawa tidak bisa dipandang hanya dari ciri fisiknya. Kulit yang membungkus tubuh mungkin berbeda warna, putih, kuning, atau hitam. Namun, tulang yang ada di dalamnya sama-sama berwarna putih.

Suku yang mengalir di dalam darah mungkin berbeda, dengan keunikan dan daya tarik masing-masing. Namun, darah yang mengalir sama-sama berwarna merah. Pada akhirnya kita semua adalah satu spesies yang sama tanpa embel-embel identitas duniawi ketika meninggalkan dunia ini.

Melawan rasisme adalah hal kecil yang perubahannya tidak akan berlangsung dengan cepat. Cacat pikir ini sudah diwarisi dari generasi ke generasi, akan tetapi, selalu ada generasi yang bisa menghentikan kesalahan di masa lampau.

Sadarilah berbagai ucapan rasis yang bisa saja berseliweran di dekatmu.

“Cari pasangan yang kulitnya putih, jangan hitam.”

“Untung anaknya si A ikut mamanya, jadi kulitnya putih.”

“Kamu kok mau berteman sama si B? Dia kan dari suku ini, pasti dia (masukkan stereotype suku-suku di Indonesia.)”

Setiap orang memiliki kapabilitasnya masing-masing. Bila kamu bukan seorang tokoh publik yang memiliki pengaruh besar dalam mengubah pikiran orang lain, lakukanlah untuk dirimu dan orang terdekatmu terlebih dahulu.

Koreksi perkataan mereka untuk melunturkan nilai-nilai rasis yang tanpa sadar mereka yakini. Ajak mereka untuk sadar bahwa manusia tidak dapat ditentukan nilainya dari ciri fisik.

Sila kedua Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” ada di atas sila “Persatuan Indonesia”. Mau sampai kapan kita bersatu tetapi tidak menjadi adil dan beradab?

 

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Agatha Lintang

Foto: Bangor Daily News

Infografis: Tirto.id

Sumber: Tirto.id, NYTimes, BBC, tionghoa.info, dictio.id