Menilik Pentingnya Menjaga Ekosistem Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang. (Foto: pexels.com)
Ekosistem terumbu karang. (Foto: pexels.com)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Terumbu karang merupakan biota laut yang kaya akan manfaat. Selain indah dipandang, terumbu karang juga menjadi tempat ikan kecil untuk tinggal. Ia juga turut menyumbang oksigen dalam kehidupan seluruh makhluk hidup, di laut maupun di darat. Terumbu karang membentuk ekosistem utama dalam menjaga kehidupan laut. Namun, terumbu karang semakin terancam dan bila punah, bencana akan datang ke seluruh sektor kehidupan bumi.

Mengenal Terumbu Karang

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan ekosistem terumbu karang. Dikelilingi perairan, terumbu karang menjalar dan menemani masyarakat pesisir dalam mencari nafkah. Indonesia adalah rumah bagi 16% dari terumbu karang dunia, yang mana merupakan posisi kedua sebagai negara terbanyak pemilik terumbu karang, dilansir dari wri.org.

Melansir dari goodnewsfromindonesia.id, terumbu karang (coral reefs) merupakan salah satu ekosistem utama pesisir dan laut yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur, khususnya jenis-jenis karang batu dan algae berkapur. Mengutip laporan World Resources Institute (WRI), terumbu karang berperan sebagai sumber pangan dan pendapatan yang penting, menjadi tempat asuhan bagi berbagai spesies ikan yang diperdagangkan, menjadi daya tarik wisatawan penyelam dan pengagum terumbu karang dari seluruh dunia, memungkinkan terbentuknya pasir di pantai pariwisata, dan melindungi garis pantai dari hantaman badai.

Laporan Coral Reef Targeted Research & Capacity Building for Management (CRTR) mengatakan bahwa dalam skala global, nilai ekonomi total barang dan jasa yang dihasilkan oleh terumbu karang secara kasar diperkirakan mencapai US$ 375 milyar per tahun dengan nilai tertinggi berasal dari sektor rekreasi, jasa perlindungan pantai, dan produksi makanan.

Selain menjadi penopang ekosistem lautan dan ekonomi manusia , terumbu karang juga mampu menjadi pemasok oksigen. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, terumbu karang merupakan salah satu makhluk yang mampu melakukan proses fotosintesis, yaitu mengubah karbondioksida menjadi oksigen.

Peneliti Bidang Oseanografi LIPI Kurnaen Sumadiharga menjelaskan, proses fotosintesis dapat dilakukan oleh tumbuhan yang memiliki zat hijau daun. Menurutnya, terumbu karang terdiri dari unsur binatang karang bernama Polip, melakukan simbiosis mutualisme dengan tumbuhan alga, yakni ganggang hijau, dikutip dari lipi.go.id.

“Tumbuhan inilah yang sesungguhnya melakukan proses fotosintesa, sekalipun di dalam air,” kata Sumadiharga, dalam lipi.go.id.

Keberadaannya yang Terancam

Namun, manfaatnya yang sedemikian banyak seakan terlupakan, dan membuat ekosistem terumbu karang terancam dalam kehidupan. WRI mengatakan, 85 persen dari terumbu karang di Kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) secara langsung terancam oleh aktivitas manusia.

Grafik jenis ancaman terumbu karang. (Foto: wri.org)
Grafik jenis ancaman terumbu karang. (Foto: wri.org)

Melansir laporan WRI, salah satu ancaman bagi terumbu karang adalah penangkapan ikan berlebihan.

“Jika dilihat dari presentasi tutupan berdasarkan tingkat aktivitas pemanfaatan kawasan, terlihat jelas kalau kegiatan penangkapan ikan dan pariwisata menyebabkan tekanan yang cukup besar bagi ekosistem terumbu karang,” dukung Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang Ikram Sangadji, dalam mongabay.co.id.

Joleah Lamb dalam theconversation.com mengatakan bahwa sampah plastik berperan pula dalam terancamnya terumbu karang. Sampah plastik bisa melukai jaringan karang yang kemudian membuat terumbu karang terkena beragam penyakit karang, salah satunya sindrom putih, dilansir dari theconversation.com. ‘Sindrom putih’ disebarkan oleh bakteri dan kemudian menjadi penyebab kematian karang dengan meninggalkan jaringan putih, dikutip dari nationalgeographic.grid.id.

Selain itu, sampah plastik menutupi permukaan karang dan bisa menghalangi sinar. Ini menciptakan kondisi rendah oksigen yang mendukung pertumbuhan berbagai mikroorganisme yang dapat merusak terumbu karang, dikutip dari theconversation.com.

Sementara itu, dalam merestorasi terumbu karang yang telah rusak, dibutuhkan waktu tiga sampai lima tahun untuk melihat hasil penanamannya, dilansir dari mongabay.co.id. Peningkatan suhu laut pun memicu kematian karang di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya karbon dioksida atmosfer akibat aktivitas manusia menyebabkan pemanasan dan pengasaman laut yang kemudian mengancam ekosistem terumbu karang, dilansir dari mongabay.co.id. Waktu yang cukup lama, ditambah dengan terumbu karang yang merupakan biota yang cukup sensitif dengan perubahan suhu, membuat restorasi terumbu karang sulit dilakukan.

Manusia sebagai Penyembuh

Melihat perilaku manusia yang mana merupakan penyebab terbesar dari terancamnya terumbu karang, sudah selayaknya manusia menebus kesalahannya. Banyaknya lapisan yang menjadi faktor penyebab rusaknya terumbu karang, menjadikan kerjasama antara pemerintah, lembaga penggiat lingkungan, dan masyarakat sipil penting dilakukan untuk menanggulangi hal ini.

Tak cukup hanya mengandalkan restorasi, penanganan terumbu karang juga harus dilakukan dari sumbernya. Penangkapan ikan yang berlebih harus ditekan, begitupun dengan pembuangan sampah plastik ke lautan. Layaknya air yang tumpah akibat keran yang terus menyala, kita harus menutup kerannya baru membereskan air yang tumpah. Begitu pula dengan penyelamatan terumbu karang.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Xena Olivia

Foto: pexels.com, wri.org

Sumber: wri.org, goodnewsfromindonesia.id, ccres.net, lipi.go.id, mongabay.co.id, theconversation.com, nationalgeographic.grid.id