Teater KataK Peringatkan Mahasiwa Baru untuk Tidak Menjadi ‘Binatang’

Penampilan Teater KataK dalam acara Maxima 2018 X future pada Sabtu (25/08/18) di Universitas Multimedia Nusantara (ULTIMAGZ/Gabriela Vivien).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Dalam memeriahkan MAXIMA 2018 di UMN, Sabtu (26/08/18), Teater KataK mempersembahkan pementasan ke-55nya, yaitu “Mala Kanya Sunya” melalui pantonim. Terlepas dari aksi jenaka para pemain, pementasan tersebut berakhir dengan bad ending sehingga mengejutkan para mahasiswa baru yang tidak memperkirakan bahwa sang tokoh utama, si Anak Hutan ditembak mati oleh seorang pemburu jahat.

Mala Kanya Sunya berkisah tentang seorang istri yang membuang bayinya di sebuah hutan karena ditolak dan dikasari oleh suaminya. Bayi tersebut ditemukan oleh tiga binatang hutan, yaitu monyet, ayam, dan ular. Singkat cerita, sang bayi tumbuh dewasa bersama ketiga binatang tersebut dan menjadi sosok anak hutan yang berperangai seperti monyet.

Kemudian, datanglah para pemburu ke dalam hutan untuk berburu. Si Anak Hutan bertemu dan kaget dengan seseorang yang berpenampilan menyerupai dirinya, dan melaporkan pada monyet, ayam, dan ular.

Saat masih kebingungan atas kehadiran para pemburu, terdengar suara tembakan pistol diikuti oleh jatuhnya badan ular. Ular diseret oleh para pemburu, sebagaimana monyet dan ayam yang harus terusir.

Apa daya, si anak hutan tidak berhasil menyelesaikan pentas dengan ‘klise’ happy ending mengalahkan para pemburu yang jahat. Pentas berakhir dengan anti klimaks, di mana si Anak Hutan harus mati setelah ikut ditembak oleh pemburu.

Apakah maksudnya?

Ternyata, Mala Kanya Sunya merupakan karya yang menceritakan ironisnya keadaan manusia zaman sekarang. Apakah Anda menyadari bahwa di pementasan tersebut, para manusia bertingkah seperti binatang, sedangkan para binatang bertingkah seperti manusia?

Para manusia berperilaku dengan tidak mengindahkan sesama, seperti melakukan kekerasan kepada istri, membuang bayi di hutan, dan bahkan menembak mati binatang dan sesama manusia sendiri. Sedangkan di sisi lain, para binatang yang tidak mempunyai akal masih mau merawat bayi yang ditemukannya di hutan dan tumbuh bersamanya sampai besar. Siapakah yang manusia dan binatang bila seperti ini jadinya?

Pesan inilah yang ingin disampaikan Reynold, penulis naskah Mala Kanya Sunya. Ia ingin para penonton, khususnya para mahasiswa baru untuk tidak menjadi sosok manusia yang berperilaku seperti binatang.

Contohnya dari pentas tadi, apakah benar tindakan istri yang membuang bayinya karena tidak dibantu oleh suami? Sayang, banyak sekali manusia yang bersikap seperti sang istri tadi, membenarkan tindakan yang jelas salah dan merugikan orang lain.

Terlebih lagi, di dunia perkuliahan yang berbeda dengan masa SMA, para mahasiswa cenderung akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai berbagai macam latar belakang, baik itu jurusan, agama, budaya, etnis, dan suku. Kecenderungan ini mendorong kebutuhan para mahasiswa untuk semakin “memanusiakan manusia”. Walaupun terdengar sederhana, banyak sekali di luar sana manusia yang “membinatangkan” sesama yang berlatar belakang berbeda.

Apakah Anda ingin menjadi binatang atau manusia? Semua keputusan berada di tangan Anda.

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Gilang Fajar Septian

Fotografer: Gabriela Vivien