“Pick-Me Girl”, Jembatan Misoginis di Antara Perempuan

Internalized Misogyny
Ilustrasi “I’m Not Like Other Girls”. (Foto: PV Torch)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Tahukah Ultimates tren “Pick-Me Girl” yang ramai di jagat dunia maya, terutama di TikTok? Dari namanya, tren ini terdengar begitu menarik. Namun, bila ditelisik lebih dalam, tren ini justru dapat berkembang menjadi sesuatu yang toxic dan mengarah pada sebuah tindakan menjatuhkan antar perempuan atau internalized misogyny.

Tren ini dipopulerkan melalui TikTok dengan tagar #PickMeGirl yang berhasil mengumpulkan lebih dari 700 juta tampilan, sebagaimana dilansir dari distractify.com.

Tren ini sering diwujudkan dengan slogan-slogan seperti “Gue gak seperti cewek-cewek lainnya”, “Daripada kayak perempuan lain yang suka drakor, gue lebih suka nonton film thriller atau action deh.”, “Gue gak suka dandan-dandan, mendingan natural aja”, dan masih banyak lainnya.

Tren yang awalnya dianggap dapat dibuat sekadar untuk seru-seruan atau dengan menyenangkan ini justru berkembang menjadi toxic. “Pick-Me Girl” secara terbuka telah menjadi tindakan merendahkan perempuan karena menyinggung seksualitas, mengkritik penampilan orang lain, bahkan tidak setuju dengan persamaan hak perempuan.

Urbandictionary.com menuliskan bahwa “Pick-Me Girl” digunakan untuk menggambarkan perempuan yang secara sadar atau tidak sengaja bersandar pada pola patriarki dan misoginis untuk mendapatkan validasi oleh pria.

Pengguna TikTok telah memperhatikan stereotip ini dan membuat video lelucon komedi yang bertindak sebagai “Pick-Me Girl” dan mengolok-olok karakter wanita.

Pick-Me Girl dan Kaitannya dengan Internalized Misogyny

Melansir dari kompas.com, internalized misogyny disebutkan sebagai sebuah tindakan ketika perempuan secara tidak sadar memproyeksikan ide-ide seksis ke perempuan lain dan bahkan ke diri mereka sendiri.

Internalized misogyny tidak langsung merujuk pada keyakinan akan inferioritas perempuan. Ini mengacu pada produk sampingan dari pandangan masyarakat yang menyebabkan perempuan malu, ragu, dan meremehkan diri mereka sendiri dan orang lain dari jenis kelamin mereka, sebagaimana dikutip dari bustle.com.

Berbahaya sekali ketika tren ini berkembang menjadi sebuah usaha untuk membedakan perempuan yang terlibat dalam “Pick-Me Girl” dengan perempuan di luar sana yang seakan-akan ‘lebih rendah’. Dengan harapan, dapat membuat perempuan yang menyuarakan sudut pandang mereka tampak lebih menarik bagi pria.

Internalized misogyny ini membuat perempuan mengambil bagian dalam tren versi baru untuk mencoba memisahkan diri dari gadis-gadis yang mereka katakan “Pick-Me Girl“. Hal ini tentu dapat mengancam keberlangsungan pemberdayaan perempuan.

Lebih mengenaskannya lagi ketika tanpa kita sadari, dengan membuat konten semacam #PickMeGirl ataupun melakukan hal yang serupa di dunia nyata serta maya, kita sudah melakukan praktik yang dinamakan internalized misogyny. Atau bahkan, kita sudah terlibat dalam melestarikannya.

 

Ilustrasi pesan seksis oleh perempuan untuk perempuan. (Foto: Twitter/@SheSaysIndia)
Ilustrasi pesan seksis oleh perempuan untuk perempuan. (Foto: Twitter/@SheSaysIndia)

 

Ketika perempuan dituntut untuk melakukan atau menjadi sesuatu yang diharapkan masyarakat tidak sesuai dengan keinginannya, hal ini dapat merusak fisik dan kesehatan mental perempuan.

Sebagai individu yang mengidentifikasi perempuan, tugas pertama kita sesama perempuan adalah saling menguatkan dan mendukung, bukan malah menjatuhkan. Mengapa harus saling menjatuhkan ketika kita mampu saling menguatkan dan membuat wanita lebih berdaya, serta terlepas dari kukungan patriarki?

Apa yang Perlu Dilakukan untuk Menghentikannya?

Ketika ada perempuan lain dihina karena perilaku tertentu, masyarakat dapat tumbuh untuk percaya bahwa mempermalukan perempuan lain adalah normal. Para perempuan mengadopsi mentalitas bahwa jika mereka berbeda, mereka akan diperhatikan dan dipilih daripada gadis-gadis lain.

Sehingga, tren “Pick-Me Girl” ini membagi perempuan menjadi dua kubu karena kedua belah pihak saling mempermalukan dan menganggap diri mereka superior.

Belajarlah untuk saling menghargai satu sama lain. Bukan berarti kita harus menyukai setiap gadis yang ditemui, melainkan menghina gadis lain karena tidak cocok dengan stereotip gender tidak akan membuat kita merasa dan menjadi lebih kuat.

Kini, hal yang harus diperhatikan seharusnya tidak hanya semata harus bijak dalam mengikuti tren yang ada, tetapi bijak dalam bertindak dan mendukung perempuan untuk berdaya.

Ketika terdapat seseorang yang berbeda dari kita, hal tersebut tidak serta-merta membuatnya tampak lebih rendah atau kurang layak daripada kita. Lagi pula, siapa yang berhak memutuskan bagaimana seorang perempuan harus hidup selain dirinya sendiri?

Tidak ada yang salah dengan perempuan yang menjalani hidup mereka dan memiliki pendapat, terlepas dari apakah pendapat itu tumpang tindih dengan pendapat beberapa pria.

Pada akhirnya, perempuan yang fokus pada diri mereka sendiri dan kebahagiaan mereka sendiri akan lebih baik daripada perempuan yang pergi keluar dari jalan mereka untuk menghindari persetujuan pria, dan menghabiskan waktu mereka mencoba mendikte bagaimana perempuan lain menjalani hidup mereka.

Sebagai sesama wanita dengan keberagaman yang ada, memperlakukan satu sama lain secara hormat tentu bisa dilakukan. Penghormatan bukanlah sesuatu yang sulit ketika kita mampu saling merangkul dan menguatkan.

Tidak ada yang mampu mengeluarkan kita dari lingkaran setan ini bila semuanya tidak bermula dari diri kita sendiri untuk melakukan perubahan.

Sudahi pandangan seksis dan misoginis yang terus terjadi antar sesama perempuan. Semua bisa kita mulai dari pemahaman betapa toxic-nya tren “Pick-Me Girl” dan kaitannya dengan internalized misogyny ini.

 

Penulis: Andia Christy (Junarlistik 2019), Alycia Catelyn (Jurnalistik 2020)

Editor: Andi Annisa Ivana Putri 

Sumber: urbandictionary.com, mironline.ca, girlslife.com, eviemagazine.com, get-kalm.com, kompas.com, distractify.com, bustle.com