Wawancara: Octavianti Fransisca dalam Permasalahan Perempuan

Share:

TANGERANG, ULTIMAGZ.com – Bersama dengan tema ‘Respect Women‘ Ultimagz bulan ini, kami telah melakukan wawancara dengan salah satu alumnus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) jurusan Public Relations 2013 Octavianti Fransisca.

Fransisca ialah founder dari Inspirator Freak yang merupakan media daring yang berfokus pada konten inspiratif untuk anak muda di Indonesia sejak tahun 2013. Kini, ia juga disibukkan dengan aktivitas menjadi pembicara perihal tema stress-management, mindset, hingga pemberdayaan manusia (SDM).

Dalam tema Respect Women Ultimagz, kami telah merangkum perbincangan dengan Fransiska pada bahasan permasalahan perempuan, antara lain kesetaraan gender, kekerasan terhadap perempuan, dan solusi apa yang dihadirkan dari diri Fransisca.

Berikut rangkuman wawancara kami dengan Fransisca:

Menurut Fransisca pribadi, apa sebetulnya yang dimaksud dengan ketidaksetaraan gender (gender inequality)?
Ketidaksetaraan gender, ya. Pada hakikatnya, sejarah memang menyatakan kalau laki-laki dan perempuan itu mempunyai tugas yang berbeda. Laki-laki pada zaman nenek moyang kita, tugasnya: berburu, beternak, dan menjaga keluarganya. Lain hal, perempuan tugasnya menjaga dan mengurus anak, bersih-bersih rumah, dan kegiatan domestik lainnya. Seiring perkembangan teknologi dan tahun-menahun, peran perempuan jadi lebih independen. Kami bisa punya jabatan, memimpin sebuah organisasi, dan kegiatan lain yang lebih impactful di masyarakat. Jadi, Ketidaksetaraan itu adalah kondisi di mana peran perempuan dibatasi atau dihalang-halangi untuk berkarya. Namun, selama ada kondisi yang tidak membebaskan perempuan untuk bersuara dan berekspresi, maka pada kondisi itulah yang kita dapat sebut tidak adanya kesetaraan gender (gender equality).

Apakah Fransisca sendiri pernah mengalami kondisi yang mengacu pada artian gender inequality pada pengalaman di organisasi atau tempat kerja?
Pernah, di tempat kerja. Jadi, mungkin lebih mengarah ke underestimate (dipandang rendah) dalam beberapa kondisi, sebagai perempuan. Misal, pas event, aku diinstruksikan untuk kerja di balik meja saja, dibandingkan untuk survei ke lapangan. Padahal, maksudnya kan tidak semua perempuan itu takut panas dan nggak suka survei ke lapangan. Terkadang, aku, as a woman juga mau ke lapangan untuk melihat langsung, dibandingkan hanya dapat report foto.

Cara Fransisca dalam menghadapinya bagaimana dalam kondisi tersebut?
Kalau aku, cara menghadapinya adalah dengan walk the talk. Dari diri aku pribadi harus terus mengutarakan perasaan atau keinginan aku dalam berpendapat bahwa aku bisa cek untuk turun ke lapangan dan bisa dibutuhkan di lapangan (saat event tersebut). Setelah kita mengutarakan bukti dan yakin pada pendirian tersebut, pada akhirnya pasti bakal diakui oleh rekan-rekan yang lain.

Permasalahan lain, bagaimana tanggapan Fransisca soal kekerasan seksual (sexual violence)?
Kalau kekerasan seksual ini, menurutku bukan cuma soal alat kelamin dan kekerasan secara fisik. Dan juga, bukan soal korbannya yang selalu perempuan. Bahkan sekarang pria pun juga banyak yang menjadi korban kekerasan seksual. Adanya blow up dari media, beredarnya berita soal pornografi yang membuat kekerasan seksual ini berkembang. Bisa saja dalam menjalin hubungan pacaran, ada ancaman hingga pemaksaan dan lain-lain—yang bisa membuat dalah satu di antaranya merasa tertekan. Contoh: ada teman aku dia (perempuan) cerita ke aku bahwa si pasangannya (laki-laki) mengajaknya untuk berhubungan seksual, dan kalau temanku ini menolak, nanti dia akan diputusin. Singkat cerita, si temanku ini sudah sayang sekali sama dia, sampai pada akhirnya memutuskan untuk menyerahkan virginitasnya ke si cowok itu. Temanku sudah sampai stres dan kalau dilihat sekilas itu salah temanku. Padahal, adanya perasaan tertekan pada sebuah hubungan (pressure in relationships) disebabkan oleh karena pemaksaan tersebut, itu sebetulnya sudah termasuk dalam kategori kekerasan seksual.

Pesan dari Fransiska untuk pembaca Ultimagz
Hi teman-teman pembaca Ultimagz. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Coba mulai untuk mendekatkan diri kamu sama komunitas dan orang-orang yang bisa membuat kamu improve yourself lebih baik lagi untuk berprestasi dan berkarya di masa muda. Bukan hanya teman nongkrong, tapi teman yang bisa make something buat negeri ini.

Salam,

Sisca.

 

Penulis: Josephine Claudia

Editor: Felix

Foto: Dokumen pribadi Octavianti Fransisca