Ave Maryam: Balada Cinta di Lingkup Biara

Film "Ave Maryam" yang mengisahkan kisah hidup biarawati tayang perdana pada Kamis(11/04/19).
Share:

Kenapa harus takut mempertanyakan dosa jika Tuhan sendiri hanya bisa dicari melalui pertanyaan?

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Film Ave Maryam karya Ertanto Robby Soediskan tayang perdana di bioskop pada Kamis (11/04/19). Film ini merupakan angin segar bagi sinema Indonesia karena mengangkat tema kehidupan seorang biarawati. Meski dibalut dengan nuansa Katolik yang sangat kental, Ave Maryam bukanlah film religi.

Secara keseluruhan film ini membahas kisah hidup Suster Maryam (Maudy Koesnadi). Pada awalnya, kehidupan Maryam sebagai biarawati berjalan sebagaimana harusnya, mengabdi kepada Tuhan dan menjauhi nafsu duniawi. Hal tersebut berubah kala kedatangan Romo Yosef (Chicco Jerickho), hatinya sontak didera kebimbangan.

Ave Maryam ternilai hemat suara, baik narasi maupun dialog jarang sekali diucapkan. Untuk bisa memahami makna ceritanya diperlukan penafsiran pribadi dari penonton. Layaknya menyatukan potongan puzzle, satu adegan dapat dipahami apabila adegan berikutnya telah ditayangkan.

Meski minim dialog dan narasi, Ertanto tidak membuat potongan puzzle di filmnya sukar ditemukan. Adegan yang runut membuat pemahaman dapat terbentuk dengan mudah antarbabak.

Sinematografi di film ini pun ternilai estetik. Berlatar di Semarang tahun 1998, gereja dan asrama biarawati mendominasi film ini. Sudut pengambilan gambar yang stabil dan dominan putih membuat mata penonton dimanjakan dengan suasana tenang.

Selain itu, terdapat pula beberapa adegan one shot, yakni pengambilan adegan secara kontinu menggunakan satu kamera dari satu sudut pandang. Gaya ini tak acap ditemui dalam film pada umumnya dan menambah poin keindahan di film ini.

Sayangnya, film yang telah menyelesaikan proses shooting pada 2016 ini terkena pemotongan durasi oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Durasi yang dipangkas pun tak singkat yaitu 12 menit. Alasannya, terdapat adegan yang dianggap terlalu vulgar untuk ditayangkan di bioskop secara umum. Kebijakan LSF ini membuat penonton harus berpuas diri dengan anti klimaks di bagian yang krusial.

Kisah cinta terlarang yang sudah basi diangkat pada sebuah film dikemas secara apik, membuat penonton turut bersimpati melihatnya. Bahkan terdapat pertanyaan yang menggantung sepanjang film, “Pilih Tuhan atau ciptaannya?”

Jika harus mendeskripsikan film Ave Maryam dalam beberapa kata, maka kata yang tepat adalah singkat, padat, dan jelas. Dengan durasi hanya 73 menit, penonton dibuat terhanyut dalam gelombang emosi para karakter karena dengan mudah merasakan konflik batinnya. Pun, film ini tak memiliki karakter antagonis, sehingga konflik hanya dialami secara batin oleh para tokoh utama.

Ave Maryam bukanlah film yang ringan, tetapi tidak sampai memutar otak untuk memahaminya. Ada pesan di dalam film ini yang membuatnya berbobot, tetapi tetap mudah dinikmati.

Sebelum bernama Ave Maryam, film ini berjudul Salt is Leaving the Sea. Film ini telah melanglang buana di Cape Town Film Festival, Hanoi Film Festival, Hong Kong Asian Film Festival, dan Jogja-NETPAC sebelum akhirnya tayang komersil di bioskop Indonesia.

 

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Ivan Jonathan

Gambar: lifestyle.bisnisa