“Joker” Tak Hanya Tuai Rasa Iba

Joker merupakan film alternatif univers penjahat kota Gotham yang menceritakan kisah awal bagaimana Arhur Fleck menjadi Joker. (Foto: cnet.com)
Share:

Artikel ini mengandung bocoran (spoiler) film Joker (2019)

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Joker yang tayang pada awal bulan Oktober ini menuai ragam reaksi dan interprestasi dari penontonnya. Film ini menceritakan metamorfosis Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) menjadi penjahat dari Gotham City. Dalam film Joker, penonton bisa bersimpati dengan Arthur karena dirinya menderita masalah psikologis yang dideritanya sejak kecil, hingga mengkritik tindakan Joker yang mengacaukan Kota Gotham. 

Arthur Fleck adalah badut panggilan yang bermimpi menjadi komedian tapi selalu gagal. Penyakit mental yang diderita menuntut dirinya harus meminum macam-macam obat agar dirinya bisa bekerja menafkahi ibunya. Arthur berusaha menjadi sosok yang bisa memberi tawa kepada orang lain, tetapi akhirnya sia-sia. Terisolasi, dirundung, dan diabaikan oleh masyarakat Gotham City membuatnya merasa asing di tengah lingkungannya.

Ketidakpedulian masyarakat kelas atas kepada masyarakat marginal terlihat pada kesenjangan sosial ekonomi yang ditampilkan pada film karya Todd Phillips ini. Gambaran tersebut ditampilkan dari lingkungan tempat tinggal Arthur dan keluarga calon Walikota Gotham City, Thomas Wayne yang terpandang dan kaya. Apartemen yang ditinggali Arthur dan ibunya memiliki fasilitas yang kurang memadai dan perlu banyak pembenahan, sedangkan rumah keluarga Wayne bak istana yang memiliki kesan mewah dan berada.

Tidak hanya itu, ketidakadilan yang diterima Arthur lainnya berasal dari pembicara kondang, Murray Franklin (Robert De Niro). Dalam gelar wicara yang dibawakannya terlihat cuplikan stand up comedy Arthur kala terkena penyakit sarafnya. 

Akting Joaquin Phoenix mampu membuat penikmat film mengakui kepiawaian aktor berusia 44 tahun ini. Dalam penayangan perdana di Venice Film Festival, Joker mendapatkan standing ovation selama delapan menit. Di festival film yang sama, film ini juga menyabet Golden Lion Award sembari diiringi pujian para kritikus atas penampilan Phoenix.

Dedikasi Phoenix dalam memerankan Joker menjawab keraguan penonton akan kemampuannya dalam memerankan karakter itu. Karakter Joker sendiri melekat ke beberapa aktor tenama seperti Jack Nicholson (1989), Cesar Romero (1966-1968), dan yang paling melekat di hati penonton Heath Ledger (2008). Penggemar karakter penjahat sempat mempertanyakan apakah bisa Phoenix mengimbangi pengaruh Ledger dalam memerankan Joker. Namun, usaha Phoenix membuat penonton senang dan puas akan akting yang dilalukannya saat memerankan Joker.

Dalam membangun karakter Joker, Phillips dan Phoenix mampu menciptakan citra baru sosok Joker. Salah satu yang berhasil diimplementasikan adalah respon Joker setelah melakukan pembunuhan. Bukannya menyesal dan berduka, Joker digambarkan menari-nari di kamar mandi lantaran latar belakang Arthur yang menyukai musik.

Film Joker menuai ragam reaksi dan tanggapan dari penonton. Beberapa menilai film ini dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Nyatanya, penonton diajak berpikir untuk membedakan antara kejadian yang merupakan khayalan di benak Arthur dan kejadian yang sesungguhnya. Hal ini menyebabkan interpretasi yang berbeda antarpenonton. Perbedaan pesan ini mempengaruhi tanggapan penonton terhadap film ini.

Joker menarasikan sosok yang ingin menjadi bagian dalam masyarakat, tetapi mengalami penolakan. Kesenjangan sosial dan ekonomi kerap tampil melalui visualisasi yang dapat mudah dicerna. Jika dilihat lebih dalam, Joker menampilkan kesulitan penderita kesehatan mental dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Joker mendapatkan simpati penonton, tapi masih ada sisi gelap yang menjadi pertanyaan penonton.

 

Penulis: Theresia Amadea

Editor: Abel Pramudya

Foto: cnet.com