Memahami Adat dan Budaya Patriarki Bali Melalui Novel Tarian Bumi

Share:

Perempuan Bali itu, Luh, Perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup.

SERPONG, ULTIMAGZ.com–Bali dikagumi oleh banyak orang karena budayanya. Namun, orang-orang tersebut tidak melihat dari sudut pandang orang Bali tentang bagaimana adat membentuk jalan hidup seseorang sedemikian rupa. Dalam buku Tarian Bumi, Oka Rusmini mengupas kehidupan seorang perempuan Bali yang berusaha ‘mendobrak’ adat yang sudah melekat pada dirinya, bahkan sejak ia lahir.

Novel ini mengisahkan hidup seorang gadis berkasta Brahmana bernama Ida Ayu Telaga Pidada. Kasta sendiri memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat di Bali. Kasta Brahmana, yakni kasta tertinggi mendapat perlakuan istimewa dan senantiasa dituntut untuk bersikap selayaknya seorang bangsawan sejati. Sejak kecil Telaga sudah dididik keras agar tahu cara membawa diri agar gelar Ida Ayu, gelar yang hanya dimiliki oleh seseorang yang berkasta Brahmana, tidak tercoreng.

Meskipun fokus cerita ada pada hidup Telaga yang besar di griya (sebutan untuk rumah kaum Brahmana), novel ini juga menceritakan hidup nenek dan ibu dari Telaga. Nenek Telaga Ida Ayu Sagra Pidada merupakan keturunan Brahmana murni sehingga senantiasa bersikap angkuh dan memandang rendah orang yang berbeda kasta. Sikap berbeda ditunjukkan oleh ibu dari Telaga yang bernama Luh Sekar yang merupakan orang biasa berkasta Sudra, kasta terendah. Berkat kerja kerasnya menjadi seorang penari, ia berhasil dinikahi oleh Ida Bagus Ngurah Pidada. Berasal dari kasta rendah, Luh Sekar selalu mencoba untuk beradaptasi di lingkungan griya agar pantas menjadi istri seorang kaum Brahmana. Oleh karena itu, sejak kecil Telaga tumbuh dengan beban dan mimpi-mimpi ibunya. Telaga diharapkan menjadi penari tercantik dan terbaik. Ia juga diharapkan untuk menikah dengan seorang Ida Bagus, seseorang yang juga berasal dari kaum Brahmana.

Jalan cerita nenek dan ibu Telaga tanpa sadar membentuk pemikiran kompleks di diri Telaga bahwa menjadi seorang perempuan Bali tidaklah mudah. Ada batasan-batasan seperti kasta dan hak yang membuat seorang perempuan seringkali tidak berdaya. Adat Bali yang menganut sistem patriaki acap kali mengagungkan lelaki dan menganggap perempuan tidak memiliki posisi yang layak. Misal, jika seorang lelaki Brahmana ingin menikahi wanita Sudra maka hal itu bisa saja terjadi. Namun jika seorang wanita Brahmana ingin menikahi lelaki Sudra maka wanita itu harus melepas gelar Brahmananya dan turun kasta.

Nenek Telaga pernah berkata “Menikahlah kau dengan laki-laki yang memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kauh memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil resiko.” (Rusmini, 2000:18)

Selain memberikan gambaran mengenai kehidupan gadis berkasta melalui sosok Telaga, Oka Rusmini juga menjelaskan mengenai adat-adat Bali. Penyebutan orang lain (meme, odah, kakiang), penyebutan diri (tiang), dan juga ritual-ritual Bali lainnya sengaja disebutkan sesuai dengan pelafalan Bali sehingga pembaca mendapat pemahaman lebih mengenai adat Bali.

Novel yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman (Erdentanz) dan Bahasa Inggris (Earth Dance) ini bagus untuk membuka pandangan terhadap apa yang sebenarnya terjadi di balik indahnya sistematika teratur adat Bali. Adat yang sudah menjadi warisan selama turun temurun terkadang memberi kekangan terhadap keluwesan jalan hidup. Banyak ketidakadilan yang sebenarnya terjadi dibalik eksotisnya Bali di mata dunia terutama dalam hal diskriminasi gender dan ras. Melalui tokoh-tokohnya, Oka Rusmini melakukan kritik terhadap budaya dan adat yang merugikan. Gaya bahasa yang tidak terlalu berat membuat novel ini terasa ringan untuk dibaca namun memiliki makna yang dalam.

Sayangnya, novel ini tidak menggambarkan waktu yang jelas sehingga pembaca harus menerka sendiri, apakah latar waktu yang ada dalam novel ini berada pada masa kini atau masa lampau. Setelah membaca hingga bagian tengah barulah pembaca dapat menyimpulkan cerita ini berlatar modern karena terdapat mobil dan juga hotel.

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Goodreads.com