“Perahu Kertas”: Tentang Mimpi, Kenyataan, dan Cinta

Perahu Kertas
Buku "Perahu Kertas" oleh Dee Lestari. (Foto: whathefan.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — “Perahu Kertas” merupakan salah satu novel karya Dewi “Dee” Lestari yang menceritakan kehidupan para tokoh yang dimulai sejak bangku kuliah pada 1999. Novel ini berpusat pada hubungan dua tokoh utamanya, yaitu Kugy dan Keenan. 

Kisah mereka bermula ketika keduanya mulai berkuliah di Bandung. Kugy yang bercita-cita ingin menjadi penulis dongeng berkuliah di Fakultas Sastra. Kemudian ada Keenan, pelukis muda berbakat yang dipaksa untuk kuliah di Fakultas Ekonomi oleh ayahnya di Bandung. Bersama dengan sahabat Kugy sejak kecil, Noni, serta pacar Noni, yakni Eko, yang juga adalah sepupu Keenan, mereka berempat menjadi sekelompok sahabat yang kompak. 

Novel yang pernah masuk layar lebar pada 2012 ini memiliki kisah yang menarik di dalamnya. “Perahu Kertas” memiliki alur yang bisa menyentuh sisi emosional pembacanya. Secara keseluruhan, novel ini mengajarkan untuk tidak mudah menyerah dalam menjalani kehidupan, juga tentang ketegaran. 

Alur utamanya menceritakan bagaimana Kugy dan Keenan sama-sama berjuang untuk mimpi mereka. Keduanya menemukan kecocokan dan saling jatuh cinta, meski banyak rintangan ketika keduanya dihadapkan pada orang-orang berbeda setelah perpisahan mereka. 

Ada satu kutipan menarik yang disampaikan Keenan kepada Kugy tentang mimpinya untuk menjadi seorang penulis dongeng, “Gy, jalan kita mungkin berputar, tetapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin”. Hal ini yang membangkitkan semangat Kugy untuk kembali mengejar impiannya walau ia harus siap menerima apa pun yang terjadi dalam kenyataan yang akan dihadapinya.

Ultimates akan disuguhkan dengan segala kejutan yang dihadirkan Dee dalam karyanya. Tiap masalah yang timbul akan membawa pembaca pada tingkat ketegangan yang berbeda-beda. Walau begitu, ada pula beberapa bagian cerita yang bisa ditebak. Hanya saja, Dee tidak segera memberi jawaban sehingga membuat pembaca gemas dan tidak berhenti menyelami novel ini.

Baca juga: “Inteligensi Embun Pagi”: Penutup Spektakuler Saga Supernova

Menyajikan latar tempat yang sangat familier bagi mahasiswa, buku ini sangat cocok bagi Ultimates yang menyukai kisah romansa yang unik dan hanya terjadi di bangku perkuliahan. Cerita yang disajikan Dee berlatar tahun 1999 hingga 2006, seolah memberikan gambaran tentang kehidupan masa itu kepada para pembaca pada tahun 2020. 

Terlepas dari kisah yang menarik, novel yang diterbitkan pada 2009 oleh Bentang Pustaka ini dikemas dengan gaya bahasa yang lugas dan ringan, serta sesuai dengan kondisi masyarakat. Hal itu menjadikan novel ini mudah dimengerti oleh pembaca dari berbagai usia. 

Akan tetapi, banyaknya latar tempat yang digunakan berisiko membuat pembaca bingung dalam memahami latar jika asing dengan tempat yang diceritakan. Contohnya, bab 32 memiliki latar tempat di Ubud, tetapi di bab berikutnya cerita bisa dengan mudahnya berpindah latar tempat ke Jakarta. Oleh karena itu, “Perahu Kertas” membutuhkan pemahaman dan konsentrasi tinggi dari para pembacanya.


Penulis: Carolyn Nathasa Dharmadhi

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: whathefan.com

Sumber: deelestari.com