Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: “Menjadi Apatis dengan Berpikir Positif”

Melalui buku pertamanya, bloger superstar, Mark Manson menunjukkan pada kita bahwa kunci untuk menjadi lebih kuat dan lebih bahagia adalah dengan berhenti memaksa diri untuk menjadi 'positif' di setiap saat. (Foto: Harian Nasional)
Share:

Judul Asli: The Subtle Art of Not Giving A F*ck

Judul: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Penulis: Mark Manson

Penerbit: PT. Gramedia Widiasrana Indonesia

Cetakan: 15, Desember 2018

Tebal Buku: 246 halaman

ISBN: 978-602-452-698-6

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Beberapa tahun belakangan ini mungkin sebagian dari kita menyadari bahwa sejumlah kutipan, seperti ‘selalu berpikiran positif’, ‘jangan pernah menyerah’, ‘raihlah cita-cita setinggi langit’, dan nilai positif lainya telah familier di kehidupan sehari-hari. Namun, muncul keraguan di sini. Apakah benar ungkapan positif tersebut efektif di kehidupan sebenarnya?

Ternyata tidak. Seorang hakim bertugas untuk mengadili para tersangka secara adil dan kritis berdasarkan keterangan saksi dan bukti-bukti yang ditemukan oleh para pihak berwajib, bukan sekadar berpikir positif terhadap semua pihak. Pria atau wanita juga sebaiknya bijak jika menyerah untuk mendekati atau mengejar si idaman hati setelah ditolak. Selain itu, menyerah dalam meraih pekerjaan impian sering terjadi karena kenyataan hidup yang membuat seseorang susah berpikir positif.

“Bodo amat dengan berpikir positif,” itulah kutipan dari Mark Manson, seorang penulis blogger dari Amerika yang mempunyai berjuta-juta pembaca serta menuangkan pemikiran tersebut di dalam buku pertamanya yang best seller di dunia, The Subtle Art of Not Giving a F*ck.

“Ayo kita akui saja, keadaan sangat buruk dan kita harus hidup menerimanya,” tulis Mark.

Melalui bukunya, Mark menghadirkan satu pendekatan baru untuk menjalani hidup, yaitu bersikap bodo amat. Mengapa bodo amat? Menurut Mark, orang-orang sudah terjangkit wabah psikologis yang memiskinkan diri secara spiritual, yaitu perasaan tidak menerima bahwa kadang terdapat hal yang tidak menyenangkan di dalam hidup ini.

Misalnya, di saat seseorang ingin mencoba menghasilkan karya yang baru. Alih-alih menghasilkan karya, memulai untuk membuatnya saja pun tidak. Hal ini bisa terjadi karena mereka cenderung sudah takut duluan terhadap potensi terjadinya hal yang tidak menyenangkan, yakni kegagalan, penolakan, ketidakpastian, dan lainnya yang enek untuk dirasakan.

Tidak heran Mark jengkel terhadap orang-orang yang mendewakan perasaan positif dan menghindari pahitnya kenyataan. Dalam bukunya, Mark menyusun sembilan bab yang berisikan perasaan negatif, tapi relevan untuk menghadapi dunia yang nyata: “Jangan Berusaha”, “Kebahagiaan itu Masalah”, “Anda Tidak Istimewa”, “Nilai Penderitaan”, “Anda Selalu Memilih”, “Anda Keliru tentang Semua Hal”, “Kegagalan adalah Jalan untuk Maju”, “Pentingnya Berkata Tidak”, dan terakhir, tapi tidak terburuk “…Dan Kemudian Anda Mati.”

Dalam bab satu, Mark menjelaskan seni bersikap bodo amat menjadi tiga hal. Pertama, masa bodo amat bukan berarti acuh tak acuh, melainkan masa bodo nyaman saat menjadi berbeda. Kedua, sebelum mengatakan “bodo amat”, pembaca harus peduli dahulu terhadap sesuatu yang kebih penting dari kesulitan. Ketiga, memilih suatu hal untuk diperhatikan.

Intinya, “masa bodo” merupakan sikap nyaman saat Anda berada di keadaan yang berbeda dari yang lain, baik kaya, miskin, suci, berdosa, berhasil, gagal, atau biasa-biasa saja. Kemudian, rasa “masa bodo” ini tidak digunakan untuk sesuatu hal yang tidak perlu untuk dipedulikan. Misalnya, ketika Anda hanya bisa bersedih terhadap mantan Anda setelah tiga tahun putus hubungan, maka itu berarti Anda tidak mempunyai hal lain yang lebih berharga untuk disesali, seperti pekerjaan, prestasi, atau lainnya untuk membahagiakan Anda di masa depan.

Lalu, hal ketiga yaitu memilih suatu hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Apalah daya jika tiap evaluasi pekerjaan, Anda hanya memperhatikan kritikan atau ejekan tidak berdasar tanpa melihat kritikan positif? Tentu saja, cepat atau lambat Anda akan hancur dan menjadi minder. Paling buruk, bisa saja Anda bahkan tidak ingin mengevaluasi diri, malah menyiksa diri sendiri sampai memilih untuk tidak bekerja.

“Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif.”

Walaupun tidak umum, pernyataan tersebutlah yang dipercayai oleh Mark mengenai dunia yang juga disebut “hukum kebalikan” oleh filsuf Alan Watts. Intinya, hukum kebalikan ini menjelaskan bahwa semakin kuat seseorang ingin merasa positif setiap saat, maka ia akan merasa semakin tidak puas dan demikian juga sebaliknya.

Analoginya, bayangkan antara makan permen manis dan sayur pahit. Permen manis memang memberikan rasa manis, tapi juga berpotensi sakit gigi dan diabetes jika berlebihan. Namun, sayur pahit memberikan rasa pahit, tapi semakin dikonsumsi, kita akan semakin sehat. Tentunya, hal ini juga berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti dalam bersantai-santai menghabiskan waktu membiarkan perut melar atau melakukan bina raga di pusat kebugaran sampai otot lemas dan sakit.

Selain itu, Mark juga menyempatkan diri untuk menengok fenomena “penyelamat” dan “korban” yang bisa terlihat di Indonesia secara nyata. Singkat kata, penyelamat adalah mereka yang merasa luar biasa hebat di atas orang lain sehingga berhak menerima perlakuan istimewa. Korban adalah sebaliknya, mereka merasa luar biasa payah di bawah orang lain sehingga berhak menerima perlakuan istimewa.

Sejatinya, sisi penyelamat bisa dilihat pada dengan mereka yang melakukan intoleransi di Indonesia saat ini. Mereka merasa dirinyalah yang benar saat mengingatkan dan memperlakukan orang lain walaupun secara kenyataan hal tersebut justru kontraproduktif.

Sekali lagi, para pahlawan ini terbuai atas merasa benar sendiri (perasaan positif). Mereka cenderung tidak merefleksikan tindakannya yang bisa melukai orang lain atau bahkan melanggar hukum (perasaan negatif). Apakah kita masih ingin mengatakan bahwa perasaan negatif tidak penting? Memang, perasaan negatiflah yang menghentikan kita untuk melakukan hal yang produktif. Namun di sisi lain, perasaan negatif, seperti merasa bersalah dan terbuka akan koreksilah yang menghentikan kita memperlakukan orang lain seperti binatang.

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat merupakan buku pengembangan diri universal yang tidak mengenal batas usia maupun profesi untuk belajar menelan pahitnya kenyataan demi menikmati hidup yang lebih baik. Selain terkenal di Amerika, buku ini telah dicetak untuk ke-15 kalinya dalam jangka waktu satu tahun sejak tahun 2018 di Indonesia.

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Harian Nasional