“The Irregulars” Bawa Sentuhan Supernatural ke Dunia Sherlock Holmes

the irregulars ep 3 scene
Lima karakter utama "The Irregulars" (dari kiri ke kanan) Leopold, Jessica, Bea, Spike, dan Billy. (Foto: Hollywood Reporter)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Sherlock Holmes adalah tokoh detektif asal Inggris yang dari novel karangan Arthur Conan Doyle. Tidak sedikit cerita tentang Sherlock Holmes yang diangkat ke layar lebar, biasanya mengenai investigasi kriminal. Namun, bagaimana jadinya jika ternyata kasus-kasus yang diterima Sherlock hanya kedok bagi kekuatan supernatural?

“The Irregulars” membawa angin segar bagi dunia detektif Sherlock Holmes. Dalam novel Arthur Conan Doyle, the Baker Street Irregulars adalah sebutan bagi anak-anak jalanan yang dipekerjakan Sherlock Holmes untuk mencari informasi. Seperti yang dikatakan John Watson dalam seri, dirinya dan Sherlock adalah pria terhormat dan tidak mungkin mencari informasi dari jalanan. Maka dari itu, mereka membutuhkan pihak lain untuk mengumpulkan informasi.

Dirilis pada Jumat (26/03/21) lalu di Netflix dan rampung dengan delapan episode, “The Irregulars” menceritakan lima remaja yang tinggal di jalanan London pada era Victoria. Mereka harus memecahkan kasus-kasus kriminal yang ternyata disebabkan oleh kekuatan gaib yang berpotensi mengacaukan dunia. 

Uniknya, serial ini menjadikan Sherlock Holmes (Henry Lloyd-Hughes) seorang pecandu narkoba yang tidak lagi prima sebagai detektif. Sebagai gantinya, John Watson (Royce Pierreson) melakukan semua investigasi dan berujung mempekerjakan Bea (Thaddea Graham). Bersama dengan gerombolannya, Bea, Jessica (Darci Shaw), Billy (Jojo Macari), Spike (Mckell David), dan Leopold (Harrison Osterfield) beraksi layaknya detektif sungguhan.

Serial ini terus menimbulkan rasa penasaran di setiap akhir episodenya. Menonton delapan episode rasanya tidak seperti telah menghabiskan delapan jam. Ada kasus baru di setiap episode dan berjalan selaras dengan alur maju. Ternyata, terdapat benang merah di semua kasus-kasus yang dipecahkan Bea dan kawan-kawan. Contohnya Bird Man di episode pertama mendapat kekuatan dengan cara yang sama seperti Tooth Fairy di episode kedua.

Lalu, sentuhan supernatural menjadi nilai tambah sendiri untuk “The Irregulars”. Serial ini tidak seperti adaptasi Sherlock Holmes lain yang hanya berpaku pada kejahatan biasa. Kekuatan yang bukan berasal dari bumi dan sedikit sentuhan horror menjadikan “The Irregulars” tidak bosan untuk ditonton. Ultimates akan terus dibuat penasaran dengan apa arti mimpi buruk Jessica. Dalam mimpinya, ia dikejar oleh sosok bertopeng yang seakan ingin membunuh dirinya.

Lebih tepatnya, elemen ‘kekuatan gaib’ ini seperti menggantikan ‘special methods’ Sherlock Holmes yang hilang. Kemampuan deduksi yang baik malah terlihat pada Bea dibanding Sherlock atau Watson. Bea mampu menggabungkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan teman-temannya untuk memecahkan kasus penculikan bayi dan membebaskan diri mereka dari mantra penyihir.

Namun, jika Ultimates mengharapkan serial ini seperti serial Sherlock Holmes yang diperankan Benedict Cumberbatch atau film yang diperankan Robert Downey Jr., sebaiknya siap-siap kecewa. Sherlock Holmes dalam “The Irregulars” tidak berperan banyak. Pun Sherlock bukanlah tokoh utama serial ini. 

“The Irregulars” lebih cocok dibandingkan dengan “Stranger Things”. Tokoh utamanya sama-sama sekumpulan remaja. Premis ceritanya juga serupa melawan sesuatu yang bukan dari bumi. 

Sayangnya, para karakter spin-off Sherlock Holmes ini kurang bisa menunjukkan kerjasama mereka sebagai tim. Terlalu banyak rahasia dan dendam yang disimpan masing-masing sehingga tidak terlalu terasa persahabatannya.

Terlepas dari semua, “The Irregulars” cocok ditonton untuk melepas penat di akhir pekan.

 

Penulis: Jessica Elisabeth Gunawan

Editor: Andi Annisa Putri

Foto: hollywoodreporter.com