Melanggar Tabu Nilai Budaya dengan Menstrual Cups

Ilustrasi dari menstrual cup. (Foto: Intimina)
Ilustrasi dari menstrual cup. (Foto: Intimina)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Menstrual cups mendapatkan banyak perhatian selama beberapa tahun terakhir. Oleh beberapa orang, alat ini hanya dipandang sebagai tren yang ramah lingkungan, tetapi bagi perempuan di seluruh dunia, alat ini memberikan opsi hemat biaya dan aman untuk menghadapi menstruasi.

Saat ini tampaknya menstrual cups menjadi hal yang tabu dan setiap orang punya alasan tersendiri untuk tidak menggunakannya. Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak terlalu terbuka untuk membahas topik seputar menstruasi, penggunaan produk sanitasi, dan kesehatan seksual. Menstruasi kerap dianggap sebagai topik yang tabu, sampai-sampai sebagian perempuan yang sedang menstruasi menganggapnya memalukan dan tidak nyaman.

Salah kaprah perihal keperawanan

Banyak pengguna menstrual cup pertama kali merasa takut bahwa alat ini akan merusak selaput dara mereka, atau yang sering dipahami sebagai “hilangnya keperawanan”.

Perlu ditekankan bahwa korelasi antara selaput dara dan keperawanan lebih bersifat mitos daripada ilmiah. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa produk sanitasi seperti menstrual cups dan tampon dapat merusak selaput dara dan “menghilangkan” keperawanan perempuan.

Namun bagi banyak orang, selaput dara masih dipandang sebagai representasi dari konsep keperawanan. Karena selaput dara harus dijaga tetap utuh, menggunakan menstrual cups atau tampon untuk perempuan Indonesia muda adalah larangan secara mutlak karena dapat merobek jaringannya yang rapuh. Begitu pemikirannya.

Sebelum membahas menstrual cup lebih dalam, perlu penyamaan persepsi perihal apa arti keperawanan, karena hal ini bisa menjadi istilah yang memecah belah dan disalahpahami.

Sebagai permulaan, keperawanan hanyalah sebuah konstruksi sosial untuk menandai pertama kali seseorang berhubungan seksual. Bagi perempuan, hal ini juga digunakan sebagai derivasi akhlak dan moral. Biarpun, gagasan tersebut sewenang-wenang dan tidak berdasar. Memiliki atau tidak memiliki selaput dara tidak menentukan identitas seseorang.

Kedua, konsep keperawanan hanya dikaitkan dengan aktivitas seksual. Dilansir dari intimina.com, selaput dara sebenarnya hanya terdiri dari lipatan tipis jaringan yang biasanya hilang secara alami saat perempuan memasuki masa remaja. Pada saat perempuan mulai menstruasi, biasanya selaput dara mereka sudah berlubang dan, dalam banyak kasus, hampir hilang. Ini berarti, penggunaan menstrual cups berdampak kecil pada selaput dara, dan dalam banyak kasus tidak akan memengaruhinya sama sekali.

Cara kerja menstrual cups

Menstrual cups adalah jenis produk sanitasi perempuan, berbentuk seperti cangkir kecil yang terbuat dari karet atau silikon. Cangkir kecil berbentuk corong fleksibel ini dimasukkan ke dalam vagina untuk menangkap dan mengumpulkan cairan menstruasi. Setelah digunakan, cangkir dapat digunakan hingga 12 jam, tergantung aliran darah.

Bagian-bagian dari menstrual cup. (Foto: ocean-mimic.com)
Bagian-bagian dari menstrual cup. (Foto: ocean-mimic.com)

Erin Higgins, seorang ginekolog, mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengetahui apakah menstrual cup akan berhasil adalah dengan membeli dan mencobanya. Menstrual cups memiliki berbagai formasi dan ukuran. Jika yang satu tidak cocok, ukuran berikutnya mungkin berhasil.

Baca juga: Mengenal Menstrual Cup, Alternatif Penampung Darah Haid Perempuan dari Lateks

“Anda dapat menggunakan cangkir sepanjang siklus Anda, tetapi Anda mungkin perlu menggantinya lebih sering pada hari-hari dengan aliran deras untuk mencegah kebocoran. Untuk melakukan ini, cukup angkat dan bilas cangkir Anda setelah 12 jam, atau saat terjadi kebocoran,” kata Higgins, dilansir dari health.clevelandclinic.org.

Melansir shethepeople.tv, Tanaya Narendra, seorang dokter yang fokus pada kesehatan perempuan dan kesehatan seksual, menjelaskan bagaimana cara penggunaan menstrual cups agar dapat mengumpulkan dan menahan darah.

“Rahim Anda memiliki lubang keluar kecil yang disebut serviks dan tepat di bawah leher rahim adalah vagina Anda, yang seperti terowongan panjang. Di dalam terowongan pas dengan cangkir. Karena berada tepat di bawah rahim, semua darah yang keluar dari rahim terkumpul di dalam cangkir. Saat cangkirnya penuh, Anda bisa membuangnya ke toilet, membilasnya, dan memasukkannya kembali ke dalam,” jelas Narendra.

Untuk mengetahui lebih mengenai cara pemakaian menstrual cups, Ultimates bisa membaca infografik di bawah.

Infografik mengenai cara pemakaian menstrual cups. (Foto: ibuprofesionaljakarta.com)
Infografik mengenai cara pemakaian menstrual cups. (Infografik: ibuprofesionaljakarta.com)

Kelebihan menstrual cups

Menstrual cups sering kali lebih murah dibandingkan menggunakan tampon dan pembalut untuk jangka panjang karena dapat digunakan kembali sehingga menghasilkan lebih sedikit limbah. Namun, perlu diperhatikan sebelum menggunakan ulang menstrual cup, cangkir harus direbus dalam air panas untuk mensterilkannya.

Dilansir dari womensweb.in, seorang perempuan mengalami menstruasi selama sekitar 40 tahun hingga menopause dan selama periode ini seorang perempuan menggunakan tujuh juta pembalut yang tidak dapat didaur ulang. Satu pembalut membutuhkan waktu sekitar 500-800 tahun untuk terurai, maka seorang perempuan menyumbang sekitar 125 kilogram sampah yang tidak dapat didaur ulang selama tahun-tahun menstruasinya.

Infografik mengenai perbandingan harga yang harus dikeluarkan perempuan untuk produk sanitasi. (Foto: Jeanny Primasari/Zero Waste Nusantara)
Infografik mengenai perbandingan harga yang harus dikeluarkan perempuan untuk produk sanitasi. (Infografik: Zero Waste Nusantara/Jeanny Primasari)

Dari infografik di atas, bisa disimpulkan bahwa manfaat menggunakan menstrual cups melampaui lingkungan dan kesehatan sehingga menstrual cups dapat menjadi solusi paling ekonomis bagi perempuan. Harga satu menstrual cup sekitar Rp350.000,- hingga Rp700.000,- dan dapat menghemat pengeluaran bulanan untuk produk sanitasi.

Baca juga: Sindrom Pramenstruasi (PMS), Masa Sebelum Menstruasi

Melansir hipandhealthy.com, menstrual cups terbuat dari bahan silikon yang membuat ini menjadi pilihan yang jauh lebih aman dibandingkan dengan tampon dan pembalut. Silikon tidak menyerap kelembapan alami tubuh. Di sisi lain, tampon dan pembalut menyerap sekitar 35 persen kelembapan alami tubuh, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam tingkat kelembapan di vagina. Selain itu, karena berbahan silikon, menstrual cup tidak mengandung pemutih, gel penyerap, ataupun pewangi.

Dengan menstrual cup, perempuan juga tidak perlu khawatir akan bau yang keluar karena cairan tidak terpapar ke udara seperti halnya pada pembalut dan tampon.

Patahkan tabu menstrual cups

Dampak pencemaran plastik terhadap lingkungan belakangan ini menjadi berita utama. Maka dari itu, kepedulian terhadap lingkungan adalah salah satu faktor di balik meningkatnya minat pada produk yang dapat digunakan kembali atau ramah lingkungan.

Mengutip dari ocean-mimic.com, cangkir kecil fleksibel yang terbuat dari karet lateks atau silikon ini telah berhasil masuk ke pasar global kebersihan perempuan, mencapai lebih dari 20 persen pangsa pasar pada 2018. Dengan demikian produk ini cepat mengejar kepopuleran tampon (sekitar 25 persen) dan pembalut (sekitar 40 persen). Diperkirakan, menstrual cups akan terus tumbuh sekitar 7 persen per tahun antara 2018 dan 2026.

Kalau Ultimates tertarik untuk menggunakan menstrual cups, gunakanlah! Menstrual cups adalah pintu gerbang untuk bersikap terbuka dan jujur tentang menstruasi.

Persepsi seputar menstruasi perlu diubah. Masyarakat perlu berhenti membuat orang merasa jijik dan malu dengan topik seputar menstruasi. Menstruasi adalah bagian penting dan normal dari sistem reproduksi perempuan. Terus terang tentang menstruasi mungkin hanya menjauhkan perempuan dari perasaan malu.

Biarlah ada dunia di mana perempuan di seluruh dunia memiliki pengetahuan dan merasa nyaman dengan menstruasi mereka. Biarlah ada dunia di mana perempuan mendapatkan hak untuk berbicara dengan bebas tentang tubuh mereka sendiri.

 

Penulis: Alycia Catelyn, Jurnalistik 2020 

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: intimina.com

Sumber: intimina.com, health.clevelandclinic.org, shethepeople.tv, womensweb.in, hipandhealthy.com, ocean-mimic.com