Banyak Merasa Khawatir Pasca Pandemi, Kamu Tidak Sendirian

Post pandemic anxiety
Ilustrasi orang yang khawatir akan kehidupan setelah pandemi COVID-19. (ULTIMAGZ/Frizki Alfian)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com- Pernahkah kamu merasa khawatir menjalani kehidupan setelah pandemi COVID-19 berakhir? Cemas melakukan transisi dari online ke offline? Jika iya, mungkin Ultimates sedang mengalami post pandemic anxiety.

Post pandemic anxiety merupakan perasaan khawatir terhadap situasi pasca pandemi. Fenomena ini merupakan hal yang wajar dan dirasakan oleh mayoritas orang. Berdasarkan kuesioner mandiri yang dilaksanakan melalui Instagram, 60% dari 149 responden (90 responden) merasakan kekhawatiran bertransisi kembali setelah pandemi.

“Sudah terbiasa jaga jarak , jadi khawatir kalau harus dekat-dekat atau akrab waktu berkumpul,” ujar salah satu responden, Maria Oktaviana mahasiswa Jurnalistik UMN angkatan 2020.

Seperti dasarnya manusia, perubahan merupakan hal yang berat dan seringkali tidak nyaman. Melihat pandemi yang sudah berlangsung lebih dari setahun, tentu saja banyak perubahan drastis yang akan dialami saat situasi kembali ke normal sehingga dapat memicu post pandemic anxiety. Post pandemic anxiety sendiri memiliki berbagai wujud berbeda dalam setiap orang. Beberapa orang memiliki bentuk rasa khawatir sebagai berikut.

  1. Ketidakpastian keamanan 

Benarkah aman jika nanti Ultimates dapat dengan bebas bertemu dengan orang lain? Maukah Ultimates melepas masker jika pandemi dinyatakan telah usai? COVID-19 merupakan varian virus baru yang ada kurang dari dua tahun terakhir ini yang masih memiliki banyak pertanyaan. Sebab dapat berkembang menjadi varian-varian berbeda dan ahli-ahli masih mempelajarinya. Ketidakpastian situasi inilah yang dapat menjadi kecemasan seseorang untuk bisa melanjutkan kehidupannya pasca pandemi.

  1. Sulit menyesuaikan diri kembali 

Semasa pandemi, interaksi jarak jauh alias daring sudah menjadi mandat “new normal”. Kebiasaan ini dapat menyebabkan social anxiety atau kecemasan sosial saat kembali berinteraksi tatap muka. Psikiater Northwestern Medicine Central DuPage, Leslie Adams menemukan bahwa kembali bersosialisasi cenderung menyebabkan kecemasan bagi banyak orang, bahkan golongan ekstrover.

Adams berpendapat bahwa kecemasan ini dapat disebabkan oleh periode isolasi yang membatasi bentuk komunikasi non-verbal, salah satunya kontak mata, isyarat wajah, dan bahasa tubuh. Manusia bergantungan dengan gestur tersebut untuk berkoneksi, sedangkan bentuk komunikasi ini tidak selalu nampak dalam interaksi daring.

  1. Kehilangan rutinitas semasa pandemi

Apakah Ultimates lebih menyukai rutinitas di rumah saja? Rutinitas yang memungkinkan kita bisa lebih banyak bertemu keluarga ataupun merasa lebih bebas dan nyaman dalam bekerja. Lori Gottlieb, psikoterapis di Los Angeles dan penulis buku terlaris Maybe You Should Talk to Someone mengatakan bahwa kliennya merasa seharusnya ia tertekan dalam kondisi pandemi tetapi ternyata ia menyukainya karena lebih santai atau lambat. Hal ini membuat segelintir orang yang menyukai gaya hidup pandemi khawatir dan sedih harus menghidupi gaya hidup pasca-pandemi.

  1. Survivor guilt

Pandemi COVID-19 telah merenggut banyak sekali nyawa. Setiap hari orang-orang mengalami kehilangan dan kesedihan. Hal ini menyisakan emosi atau trauma yang masih bisa terbawa walau pandemi sudah berakhir. Di antara emosi yang dirasakan, terdapat juga rasa bersalah karena selamat melewati masa pandemi. Inilah yang disebut dengan survivor guilt yaitu kondisi ketika seseorang menjadi satu-satunya yang selamat dari sebuah musibah mematikan. Dr. Cynthia Ackrill, seorang ahli stres dan editor majalah American Institute of Stress’s Contentment menjelaskan bahwa rasa bersalah karena selamat itu bukan hanya soal nyawa.

Survivor guilt bukan hanya dalam hal seseorang kehilangan nyawa, (tetapi) seseorang kehilangan pekerjaan mereka, seseorang kehilangan rumah dan saya tidak. Bagaimana saya bisa baik-baik saja ketika banyak orang kehilangan begitu banyak hal? Kami merasa bersalah karena baik-baik saja,” jelas Dr. Cynthia, dilansir dari health.com.

Terdapat motif kekhawatiran lain yang mungkin dapat dirasakan seseorang dengan level keparahan yang berbeda. Namun, tidak bisa dipungkiri kekhawatiran kecil ataupun besar dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang. Natarajan Kathirvel dalam salah satu artikel di U.S. National Library of Medicine (NLM) menjelaskan bahwa dampak kesehatan mental dari pandemi ini dapat bertahan selama beberapa tahun setelah pandemi. Hal ini disebabkan banyak kejadian depresi dan trauma yang hebat. Dengan begitu, sangat wajar bagi seseorang jika masih sulit menerima keadaan pasca pandemi.

Tips Mengatasi Post Pandemic Anxiety

post pandemic anxiety

Bagi Ultimates yang sedang merasakan post pandemic anxiety, berikut adalah tips yang kamu dapat ikuti untuk mengurangi rasa kekhawatiranmu.

  1. Pahami batasanmu

Jika kamu merasakan post pandemic anxiety, kenali dahulu penyebab kamu merasa cemas. Apakah jumlah orang di sekitarmu? Peraturan pembatasan dan masker? Kekhawatiran akan tertular? Atau situasi sosial yang mungkin canggung? Jika kamu dapat mengidentifikasi penyebab utama kecemasan ini, maka kamu akan lebih mudah menyiasati dan menghadapinya.

  1. Perlahan-lahan kembali ke rutinitas dahulu

Kamu tidak perlu buru-buru kembali kepada rutinitas pra pandemimu, gunakan waktu untuk perlahan-lahan menyesuaikan diri. Saat kamu mulai merasa lebih nyaman untuk bersosialisasi atau bepergian, secara bertahap tambahkan lebih banyak aktivitas ke rutinitas mingguan kamu.

  1. Terima perasaanmu

Perlu diingat, post pandemic anxiety adalah perasaan yang normal. Jika kamu merasakan kekhawatiran dan keraguan, ingatlah untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya, izinkan diri sendiri untuk merasakan kecemasan tersebut. Perasaan ini pada akhirnya akan berlalu. Pastikan untuk memantau emosi kamu secara teratur, dan beri diri kamu istirahat jika kamu merasa kewalahan atau cemas berlebih.

  1. Visualisasi situasi sosial di pikiran

Ultimates juga dapat membayangkan bentuk-bentuk interaksi sosial yang kamu pernah lakukan sebelum pandemi. Dengan membayangkan, kamu dapat seolah-olah berlatih dan menyiapkan diri untuk melakukan interaksi sosial kembali. Rasionalisasinya ini dapat kamu lakukan untuk mengurangi kecemasan dan konsep-konsep negatif mengenai bersosialisasi.

  1. Cari support-system

Berbicara dengan keluarga dan teman dapat membantu kamu menghadapi post pandemic anxiety. Cobalah untuk berterus-terang dan mengomunikasikan kecemasan yang kamu alami, dengan berbagi kamu akan semakin menyadari bahwa kamu tidak sendiri dan semakin dikuatkan oleh dukungan kerabat dan teman.

Namun, jika kecemasan pasca-COVID Anda menyebabkan tekanan yang signifikan pada kehidupan sehari-hari, mungkin sudah waktunya untuk kamu mencari bimbingan dari professional kesehatan mental. Kamu dapat beralih ke layanan konseling online melewati aplikasi ataupun layanan konseling universitas kamu.

 

Penulis: Arienne Clerissa, Vellanda 

Editor: Andi Annisa

Foto: ULTIMAGZ/Frizki Alfian

Sumber: www.health.com, www.washingtonpost.com, kompas.com, www.healthline.com, ehealthmedicare.com