Friedrich Silaban, Sketsa Anak Pendeta di Masjid Istiqlal

friedrich silaban
(arsitekturindonesia.org)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Di hari arsitektur sedunia, tepat hari ini, Rabu (18/03/20), ada baiknya kita merawat sejarah tentang dramatisnya proses pembangunan salah satu rumah ibadah yang dibanggakan masyarakat Indonesia. Mulai dari perbedaan kepercayaan antara sang pembuat dan karyanya, sampai proses yang panjang karena ketidakpercayaan pemerintahan baru kepada ‘orang lama’.

Pemerintah pusat kala itu menggelar sayembara arsitektur untuk pembuatan desain masjid Istiqlal pada 22 Februari 1955. Dari 30 pendaftar, hanya 27 orang yang mengumpulkan karyanya, dan akhirnya hanya 22 orang yang lolos persyaratan. Kemudian terpilihlah lima karya terbaik dan presiden pertama Indonesia sekaligus ketua tim juri sayembara Ir. Soekarno mengumumkan sang pemenang, membacakan sebuah nama.

Friedrich Silaban, begitulah namanya. Dari rumahnya di Jl. Gedong Sawah, Bogor, dia mengiriskan pensil, melukis sketsa masjid Istiqlal. Friedrich Silaban membawa 12 lembar gambar untuk ikut serta dalam sayembara Masjid Istiqlal. Lembaran kertas itu pun menjelaskan secara detail angan-angannya terhadap rumah ibadah megah di pusat pemerintahan.

“Berkode ‘Motto Ketuhanan’, dalam 12 lembar tersebut terdapat gambar situasi dan tapak, denah, beberapa tampak, beberapa potongan, beberapa perspektif eksterior bangunan, dan sebuah perspektif interior,” sebagaimana tertulis pada deskripsi salah satu sketsa masjid Istiqlal yang diabadikan oleh arsitekturindonesia.org.

Namun menurut salah satu keluarga dekatnya, Friedrich mengalami pergumulan batin dalam membuat desain rumah ibadah tersebut.

“Tuhan, kalau di mata-Mu saya salah merancang masjid, maka jatuhkanlah saya, buatlah saya sakit supaya saya gagal. Tapi jika di mata-Mu saya benar, maka menangkanlah saya,” kata anak ketiga Friedrich, Poltak Silaban menirukan doa ayahnya, dilansir dari historia.id.

Doanya terkabul, pada 5 Juli 1955 karyanya keluar sebagai yang terbaik, dan dia harus mulai mengejawantahkan gambar masjid dengan tema Ketuhanan itu. Istiqlal mulai dibagun pada 24 Agustus 1961, dan anak pendeta itu tidak pernah bolos dalam proses pembangunan Masjid tersebut.

(arsitekturindonesia.org)

Merujuk pada artikel Harian Kompas keluaran 21 Februari 1978, Friedrich mengutarakan inspirasi dari desainnya itu. Dia juga menjelaskan bahwa desain masjid dengan kapasitas 200 ribu orang ini menyesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia, dinding dibuat minimal sehingga udara dapat mudah keluar masuk.

“Patokan saya dalam merancang hanyalah kaidah-kaidah arsitektur yang sesuai dengan iklim Indonesia dan berdasarkan apa yang dikehendaki orang Islam terhadap sebuah masjid,” jelas pria lulusan sekolah teknik di Jakarta, Koningin Wilhelmina School itu.

Pun demikian, proses ini harus memakan waktu lama karena serangkaian pergulatan politik saat itu. Siapa tak kenal peristiwa G30S yang melengserkan Soekarno dan menaikkan Soeharto.

Friedrich sebagai salah satu ‘anak kesayangan’ Soekarno dituding macam-macam oleh rezim yang baru berdiri itu. Dia dituduh seorang komunis dan soekarnois, rumahnya dijaga oleh intel orde baru. Padahal menurut pengakuan anak Friedrich yang lain, dia sempat mengkritisi konsep Nasionalis Agama dan Komunis (NASAKOM) ala Soekarno.

“Nasakom Pak? Poros tiga bahan? Kalo di teknik, poros tiga bahan itu rapuh,” jelas Silaban kepada Soekarno.

Namun penguasa tunggal orde lama itu tetap bergeming pada keinginannya dan tidak mendengarkan Friedrich. “Hei Sil (Silaban), kalau soal teknik, boleh kamu ngomong. Tapi kalo soal politik, ini presidenmu,” bantah Soekarno.

Namun akhirnya Friedrich dipilih lagi oleh penguasa orde baru untuk mengawal pembangunan masjid. Bahkan dalam keadaan yang sudah renta dia tetap menyelesaikan apa yang dia mulai. Hingga akhirnya pada 22 Februari 1978 masjid itu secara resmi dibuka.

“Pada 1980-an, papi sudah tidak bisa jalan. Namun, dia bersikeras ingin melihat kubah Istiqlal yang baru saja selesai. Maka, dia ditandu oleh para staf keliling melihat setiap jengkal Istiqlal,” ungkap Poltak.

Friedrich mengembuskan nafas terakhirnya pada 14 Mei 1984. Sebagai penghormatan atas jasanya yang besar bagi dunia arsitektur Indonesia,  Jalan Gedong Sawah, Bogor tempat dia tinggal dahulu berganti nama menjadi Jalan F. Silaban.

Penulis: Andrei Wilmar

Editor: Abel Pramudya

Foto: arsitekturindonesia.org

Sumber: historia.id, kompas.com, tirto.id, nationalgeographic.grid.id, katadata.co.id, arsitekturindonesia.org