Gangguan Bipolar dan Semua yang Berawal dari Sebuah Kesadaran

Ilustrasi orang yang mengalami bipolar disorder(ULTIMAGZ/Kyra Gracella)
Ilustrasi orang yang mengalami bipolar disorder. (ULTIMAGZ/Kyra Gracella)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Bila lagu percintaan bergenre pop mengatakan bahwa semua berawal dari tatap, apa yang dialami dan dirasakan seseorang dengan gangguan bipolar (bipolar disorder) tidaklah demikian. Menyadari bahwa diri sendiri mengalami gangguan bipolar dimulai dari pemahaman dan penerimaan bahwa ada yang salah dengan diri sendiri.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri memandang penting hidup sehat dan kesejahteraan manusia. Itulah yang menyebabkan PBB menyematkan poin ketiga dari total 17 poin tujuan Sustainable Development Goals (SDG), untuk memastikan hidup sehat dan mempromosikan kesejahteraan di segala usia yang sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan. 

Perlu diingat, kesehatan itu tidak hanya fisik semata, tetapi juga mental. Gangguan kesehatan mental memiliki banyak jenis dan terus bertambah dengan dampak yang signifikan pada kesehatan dan konsekuensi sosial, hak asasi manusia, dan ekonomi di seluruh dunia sebagaimana dijelaskan WHO di situs resmi mereka. 

Mengutip dari alodokter.com, mental illness atau yang disebut juga gangguan kesehatan mental adalah istilah yang mengacu pada berbagai kondisi yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, suasana hati, atau perilaku seseorang. Kondisi ini bisa terjadi hanya sesekali atau berlangsung dalam waktu yang lama. 

Jenis gangguan mental tentu ada banyak. Sebut saja depresi, skizofrenia, gangguan kecemasan, hingga gangguan bipolar. Oleh sebab itu, pengidap bipolar disorder Reva memahami dan mengalami betul pentingnya hidup sehat dan sejahtera terutama tentang kesehatan mental.

Pada mulanya, Reva mulai menyadari ada yang salah ketika ia cenderung melukai orang terdekat ketika sedang emosi atau marah. Ia tidak memedulikan ketika kata-kata yang ia lontarkan bisa melukai orang lain atau tidak karena yang ada di pikirannya hanyalah “yang penting saya luapkan”. Demikian pula emosi lainnya yang bisa ia rasakan tanpa sebab.

Perempuan berusia 27 tahun ini hanya mengira bahwa apapun yang ia lakukan tersebut hanyalah sebuah bentuk emosi dan sesuatu yang akan ia coba ubah secara perlahan-lahan. 

“(Waktu itu) belum ada pikiran untuk pergi ke profesional karena menurut saya ini adalah sesuatu yang bisa saya perbaiki,” jelasnya dalam wawancara yang dilakukan lewat surel dengan ULTIMAGZ, Rabu (19/05/21).

Butuh waktu berbulan-bulan untuk mengetahui ada yang salah dengan dirinya dan memahami bahwa ia tidak mampu memperbaiki dengan kemampuannya sendiri. Sampai pada akhirnya, sahabatnya yang sedang menjalani pendidikan S2 Psikiatri membantunya dalam mengedukasi terkait kesehatan mental. Alhasil, mulai saat itu Reva mulai pergi berobat ke Poli Jiwa Dewasa RSCM Kencana.

Dari tempat tersebutlah Reva didiagnosis memiliki gangguan bipolar pada 2020. Gangguan bipolar yang mungkin Ultimates kira hanyalah penyakit moody-an atau memiliki kepribadian ganda ternyata lebih dari itu.

Melansir healthline.com, gangguan ini disebut pula sebagai penyakit manik depresif. Gangguan bipolar adalah penyakit mental yang ditandai dengan perubahan mood yang ekstrim. Lebih detailnya, bipolar merupakan gangguan mood dengan dua kutub, yaitu kutub senang berlebih (manik) dan kutub sedih berlebih (depresi).

Pada kasus Reva sendiri, saat manik ia hanya tidur dua hari sekali selama tiga jam. Ia merasa punya tenaga berlebih, tetapi tidak bisa fokus karena terlalu banyak topik yang bisa ia pikirkan dalam waktu bersamaan.

Di lain waktu, ketika episode depresi menyerang, akibatnya bisa fatal. Bahkan, dapat berujung bunuh diri. Oleh karena itu, gangguan bipolar tidak boleh dianggap remeh. Pun, harus diobati selayaknya sakit fisik.

Psikoterapi dan obat-obatan sangat dibutuhkan bagi seseorang dengan gangguan bipolar. Reva melakukan psikoterapi setiap satu hingga dua minggu sekali, dibantu pula dengan meminum mood stabilizer setiap harinya tanpa boleh putus. Alhasil, mood-nya menjadi lebih stabil dan setiap emosi terjadi karena ada penyebabnya. 

Pengidap Bipolar Tidak Hanya Berperang Dengan Penyakit, Tapi Juga Stigma

Dengan stigma negatif terhadap penyakit mental terhadap seseorang dengan gangguan bipolar, tidak mudah bagi banyak orang untuk mengakui bahwa mereka sakit mental. Terlebih lagi, stigma seperti kurang beriman yang sering disematkan. Padahal menurutnya, penyakit mental itu nyata dan tidak berhubungan dengan masalah keimanan. 

“Orang dengan agama manapun bisa terkena penyakit fisik seperti kanker atau stroke. Begitupun dengan penyakit mental,” tambahnya.

Tidak jarang pula yang menganggap seseorang dengan penyakit mental less capable dalam melakukan sesuatu seperti pekerjaan. Menurut Reva, sama seperti orang terkena penyakit maag, orang dengan gangguan bipolar pun bisa berfungsi dengan normal jika ditangani dengan benar. 

I must say, the hardest part of this journey is acceptance. Salah satunya adalah acceptance dari orang-orang terdekat,” ucap Reva.

Alhasil, Reva memutus rantai komunikasi dengan orang-orang yang tidak paham atau bahkan tidak mau memahami apa yang sedang ia lewati. Reva menilai, persepsi orang lain dapat memperburuk kondisinya sehingga ia lebih memilih untuk dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung kesembuhannya. Bukan dengan mereka yang memperburuk perjuangannya untuk sembuh dengan melakukan psikoterapi dan meminum obat yang sudah ia lakukan.

Oleh karena itu, dukungan tentu sangat bernilai tidak hanya bagi Reva tapi juga bagi para pejuang kesehatan mental lainnya. Perlu digaris bawahi bahwa penyakit mental itu memiliki berbagai macam jenis, sama seperti penyakit fisik. Dengannya, perlu dipahami dan diterima bahwa penyakit mental pun bisa sembuh tentunya dengan diagnosis serta penanganan yang tepat. Pun, yang terpenting sebenarnya adalah kesadaran kalau kita sakit. Untuk bisa sadar kalau kita sakit, tentunya dengan mengenali diri kita sendiri.

Maka dari itu, tidak salah ketika kita mencoba memesan satu atau dua sesi dengan profesional supaya bisa dibantu deteksi lebih dini. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula kita dapat berusaha untuk sembuh. 

Setelah berobat, Reva menemukan sesi terapi sangat menyenangkan, bahkan lebih aman dibanding dengan temannya sendiri. Ia begitu lepas menceritakan banyak hal kepada tim psikiater, tanpa takut untuk tidak didengar ataupun dihakimi. Justru dengan melakukannya inilah ia akan dibantu untuk dapat sembuh.

“Kalau memang benar sakit, segeralah berobat dan jangan pernah self diagnose,” tutup Reva.

Semua memang bermula dari pemahaman dan penerimaan bahwa ada yang salah dengan diri sendiri. Reva merupakan bukti nyata hal tersebut. 

 

Penulis : Andia Christy

Editor : Andi Annisa Ivana Putri, Maria Helen Oktavia, Xena Olivia

Foto : Kyra Gracella