• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Wednesday, March 18, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Budaya

Idola Bukan Karakter Fiksi: Menimbang Etika Shipping Culture K-pop

Aurelia Lisbeth by Aurelia Lisbeth
March 18, 2026
in Budaya, Opini
Reading Time: 11 mins read
Seseorang menyukai video fan edit ship K-pop di media sosial. (ULTIMAGZ/Iskandar Gautama)

Seseorang menyukai video fan edit ship K-pop di media sosial. [foto id="398"]

0
SHARES
23
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Shipping culture merupakan fenomena yang mendukung, memasangkan, atau berfantasi bahwa dua atau lebih karakter (idola nyata maupun fiksi) memiliki hubungan romantis. Fenomena ini telah marak berkembang di dunia K-pop, khususnya sebagai sarana hiburan fandom. Tidak hanya itu, peristiwa ini juga kerap kali menjadi strategi bisnis yang disadari dan digunakan oleh industri, yang secara tidak langsung memberi tekanan psikologis bagi para idola.

Untuk mendalami fenomena ini, ULTIMAGZ melakukan survei melalui Google Form terhadap 54 responden penggemar K-pop pada Selasa (10/03/2026) hingga Jumat (13/03/2026).  Hasil survei mengungkap bahwa mayoritas responden meyakini agensi memanfaatkan fenomena ini demi meraup keuntungan. Sementara itu, idola yang menjadi subjek utama justru merasakan dampak psikologis secara langsung. Di tengah perdebatan soal batas etis shipping culture, pertanyaan mengenai siapa yang paling diuntungkan atau dirugikan menjadi semakin relevan untuk dibahas.

Awal Mula Shipping Culture

Fenomena shipping culture sebenarnya sudah terjadi dan dilakukan sejak dahulu tanpa sengaja atau disadari. Namun, penggunaan istilahnya baru tercatat sejak 1996. Melansir usatoday.com, menurut Merriam Webster, istilah “shipping” berasal dari forum penggemar X-Files, yaitu serial televisi asal Amerika yang sudah tayang sejak 1993.

Penggemar menggunakan istilah “relationshippers” untuk mereka yang menyukai hubungan romantis antara Dana Scully dan Fox Mulder (pemeran serial X-Files). Istilah ini kemudian disingkat menjadi “shippers”, seperti kata “relationship” yang disingkat menjadi “ship”. Oleh karena itu, istilah “shipping” merujuk pada arti mendukungnya hubungan romantis antara dua individu.

Fenomena ini dilakukan oleh para penggemar buku, film, acara televisi, dan apa pun yang memiliki komunitas penggemar. Sebagai contoh, salah satu film populer yaitu Harry Potter memiliki komunitas penggemar yang besar. Akibatnya, fenomena shipping culture di komunitas ini pun luas.

50 peringkat teratas ship pada situs Archive of Our Own. (X/ @wwxwashere)
50 peringkat teratas ship pada situs Archive of Our Own. (X/ @wwxwashere)

Berdasarkan data yang dirangkum dari situs archiveofourown.org, pasangan karakter dari film Harry Potter masuk ke dalam peringkat 15 besar ship terpopuler di 2025. Peringkat ini dinilai berdasarkan jumlah tulisan fiksi penggemar yang bertambah dari pasangan karakter tersebut. 

Karakter yang dipasangkan oleh penggemar dinilai dari kecocokan daya tarik tanpa dihubungkan dengan jalan cerita. Mulai dari hubungan antara lawan hingga sesama jenis, karakter yang dipasangkan sesuai dengan pendapat dari para penggemar yang melihatnya.

Shipping Culture di Dunia K-pop

Meskipun awalnya shipping culture dimulai dari karakter fiksi, hubungan antara dua orang di dunia nyata juga termasuk di dalamnya. Di dunia hiburan seperti K-pop, para idola sering dipasangkan oleh penggemarnya, baik dengan rekan satu grup maupun grup lainnya.

Pada industri musik K-pop, kegiatan shipping sudah marak terjadi sejak awal tahun 2000. Para idola biasanya melakukan interaksi dengan ‘pasangan’ tetap yang ditentukan oleh agensi ataupun penggemar (Sedlmeir, 2024). Mereka dipasangkan ke dalam tulisan fiksi penggemar dan fan art, seperti gambar, desain grafis, dan lain-lain.

Salah satu contohnya adalah fiksi penggemar dari grup K-pop generasi pertama, yaitu Highfive of Teenagers (H.O.T) yang debut pada 1996. Dalam Real Person Fiction (RPF), para penggemar memasangkan idola favorit mereka dengan anggota lain dari grup yang sama (Hong dalam Sedlmeir, 2024). Dikarenakan banyak grup K-pop terdiri dari anggota dengan jenis kelamin yang sama, aktivitas shipping antara laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan lebih sering ditemui.

Hal ini tercermin dalam temuan survei ULTIMAGZ yang menunjukkan bahwa konten shipping sesama jenis menjadi yang terbanyak ditemui oleh penggemar. Secara rinci, konten laki-laki dengan laki-laki berada di urutan pertama sebanyak 75,9 persen, laki-laki dengan perempuan pada urutan kedua sebanyak 50 persen, dan perempuan dengan perempuan sebanyak 40,7 persen.

RPF umumnya terinspirasi dari peristiwa nyata yang kemudian dikembangkan dengan imajinasi penggemar menjadi sebuah karya. Salah satu ship yang selalu disebut sebagai pelopor shipping culture di dunia K-pop adalah hubungan antaranggota grup TVXQ. Hal ini terbukti dengan banyaknya cuplikan video dan blog yang dibuat penggemar untuk membahas pasangan idola dari grup tersebut. Bahkan, setelah lebih dari 22 tahun sejak TVXQ debut, masih banyak penggemar yang membahas hubungan antaranggota grup tersebut.

Kompilasi cuplikan dan tulisan fiksi karya penggemar TVXQ bertema shipping. (YouTube, asianfanfics.com)
Kompilasi cuplikan dan tulisan fiksi karya penggemar TVXQ bertema shipping. (YouTube, asianfanfics.com)

Dari Layar ke Strategi Bisnis

Namun, sayangnya hal ini juga menjadi sarana pemanfaatan oleh industri K-pop sebagai strategi pemasaran. Agensi memanfaatkan pasangan idola dalam grup untuk mendapatkan sorotan dan meraih lebih banyak penggemar. Strategi ini terlihat dari anggota-anggota grup OMEGA X yang berperan dalam drama pendek bertema boys love, yaitu A Shoulder to Cry On. Selain itu, agensi juga memasangkan anggota dari grup tersebut dengan idola lain dalam serial drama pendek Semantic Error yang diperankan oleh Park Seo-ham dan Park Jae-chan.

Melansir koreajoongangdaily.joins.com, selama delapan minggu berturut-turut, serial ini berada di peringkat teratas aplikasi siaran dan meraih puncak daftar tontonan terbanyak. Akibat kepopuleran tersebut, kedua pemeran menjadi sorotan publik. Pengikut Instagram Jae-chan naik drastis dari sekitar 5.000 menjadi 848.000 pengikut, sementara pengikut akun Seo-ham menjadi 1,1 juta pengikut (Sedlmeir, 2024).

Tidak hanya itu, sering kali agensi memanfaatkan kepopuleran yang didapatkan idola dari shipping culture. Hal ini terlihat dalam survei yang dilakukan ULTIMAGZ, yaitu 47 dari 54 responden merasa shipping culture dimanfaatkan oleh agensi dalam berbagai bentuk untuk memopulerkan idola mereka.

“Menurutku, fenomena shipping culture bisa saja dimanfaatkan oleh agensi sebagai strategi promosi. Biasanya, agensi menampilkan interaksi yang dekat antara dua idol melalui fanservice, konten bersama, atau project tertentu agar menarik perhatian fans,” tulis A dalam survei.

Ketika Shipping Culture Sampai ke Idola

Banyaknya pasangan populer yang dibuat oleh penggemar ternyata diketahui oleh para idola. Umumnya, penggemar yang melakukan shipping antara dua idola di dunia nyata tidak menunjukkannya secara gamblang. Akan tetapi, ketika aktivitas pemasangan idola tersebut populer dan memiliki komunitas penggemar yang besar, kabarnya akan terdengar sampai ke telinga idola itu sendiri. 

Yunjae, nama gabungan dari Yun-ho dan Jae-joong, merupakan salah satu dari banyaknya ship yang digemari oleh penggemar. Mereka adalah anggota dari salah satu grup generasi kedua K-pop, yaitu TVXQ.

Sebelumnya, Yunjae memang sudah terkenal di kalangan penggemar karena berasal dari grup yang tidak hanya populer di Korea, tetapi juga secara internasional. Pada salah satu konten All About Dong Bang Shin Ki (nama lain dari TVXQ), terdapat video berpasangan antara Yun-ho dan Jae-joong. Dalam video tersebut, Yun-ho berpesan kepada penggemar untuk tidak menyebarkan rumor aneh mengenai dirinya karena hal itu dapat menimbulkan kesulitan.

Konten berpasangan All About Dong Bang Shin Ki oleh Jae-joong dan Yun-ho TVXQ (YouTube/AADBSK Sub)
Konten berpasangan All About Dong Bang Shin Ki oleh Jae-joong dan Yun-ho TVXQ (YouTube/AADBSK Sub)

Jae-joong kemudian memperjelas pernyataan Yun-ho dengan memberikan contoh seperti ungkapan bahwa ia berpacaran, berpegangan tangan, dan berciuman dengan laki-laki. “Jangan menjadikan novel fantasi itu menjadi rumor buruk,” ujar Jae-joong dalam konten tersebut. Mereka pun menegaskan bahwa hubungan yang terjalin antaranggota hanya sebatas persaudaraan erat. 

Antara Hiburan dan Ekspresi Diri 

Di balik pro dan kontra yang melingkupinya, shipping culture menyimpan dimensi yang lebih personal bagi sebagian penggemar. Bagi sebagian orang, shipping bukan sekadar kesenangan sesaat, melainkan sebuah ruang aman untuk mengeksplorasi identitas diri. Berdasarkan hasil survei, 40 dari 54 responden yang mengenal fenomena shipping culture menyatakan sikap pro.

Salah satu nilai yang paling menonjol adalah potensi kreatif yang lahir dari aktivitas ini. Penggemar yang terlibat dalam shipping kerap menghasilkan karya nyata berupa fan fiction, fan art, penyuntingan video, dan desain grafis. Dalam komunitas penggemar K-pop, konten-konten ini membentuk ekosistem kreatif yang bahkan menarik minat orang-orang di luar fandom.

Lebih dari itu, bagi sebagian penggemar yang belum sepenuhnya nyaman mengekspresikan ketertarikan pada hubungan sesama jenis di kehidupan nyata, fandom menjadi tempat pertama mereka untuk merasa diterima. Konten shipping yang bertema Boys Love (BL) atau Girls Love (GL) dapat membuka ruang diskusi yang relatif aman dan bebas penghakiman. Selama berada dalam ranah fiksi dan tidak melibatkan konten eksplisit yang dipublikasikan secara terbuka, shipping dapat berfungsi sebagai medium ekspresi diri yang sah. 

“Selama tidak memengaruhi atau mengganggu kehidupan nyata dari idola tersebut, tidak masalah. Justru terkadang dari fenomena shipping, idola lebih dikenal,” tulis salah satu responden dalam survei.

Bahkan, shipping culture juga terbukti berkontribusi terhadap pertumbuhan popularitas sebuah grup. Penggemar yang aktif membuat konten terkait pasangan idola favoritnya secara tidak langsung berperan sebagai promotor organik yang memperluas jangkauan fandom.

Dari Hiburan ke Obsesi: Sisi Negatif Shipping Culture

Namun, shipping culture tidak selamanya berjalan dalam koridor yang sehat. Masalah dapat muncul ketika shipping melampaui batas fiksi dan merambah ke kehidupan nyata para idola. Sebagian penggemar mengembangkan keterikatan parasosial yang begitu kuat terhadap pasangan idola tertentu, sehingga mereka bereaksi keras ketika idola tersebut terlihat berinteraksi dengan orang lain. Kasus yang kerap muncul adalah gelombang kebencian dan serangan siber yang menghantam idola ketika rumor hubungan di luar ‘pasangan fandom’-nya mulai beredar.

Melansir kpopwise.com, keterikatan parasosial yang berlebihan dapat menciptakan rasa kepemilikan pada diri penggemar terhadap idolanya. Hal ini dapat berujung pada cyberbullying dan pelecehan terhadap siapa pun yang dianggap menghalangi akses mereka ke idola. Survei ULTIMAGZ menunjukkan bahwa 14 dari 54 responden menyatakan kontra terhadap shipping culture, dengan alasan mulai dari potensi konflik antarfandom hingga konten eksplisit yang beredar bebas. 

“Untuk awal-awal masih aman, tapi aku lihat makin ke sini makin menyimpang dan shipper mereka ini suka meresahkan,“ tulis salah satu responden. 

Kondisi ini bahkan diperparah oleh industri yang justru turut memantik fenomena tersebut. Seperti yang sudah terlihat dari kasus Semantic Error hingga strategi sub-unit, agensi terbukti memanfaatkan shipping sebagai mesin bisnis. Praktik ini kerap disebut sebagai queerbaiting. 

Melansir oxfordstudent.com, dalam industri K-pop, queerbaiting berwujud fan service homoeroik yang sengaja dirancang agensi untuk menarik audiens LGBTQ+ tanpa benar-benar memberikan representasi yang autentik. Akibatnya, para penggemar ditempatkan untuk berinvestasi secara emosional pada sebuah narasi yang sejak awal tidak pernah dimaksudkan sebagai kenyataan.

Selama ini, diskusi mengenai shipping culture cenderung berpusat pada penggemar. Padahal, terdapat pihak yang paling terdampak, tetapi paling jarang didengar suaranya, yaitu sang idola. Survei ULTIMAGZ mengungkap kekhawatiran yang konsisten di antara responden mengenai dampak shipping terhadap kesejahteraan psikologis idola.

Dampak yang paling banyak disebut adalah rasa canggung di antara dua idola yang dipasangkan. Ketika hubungan persahabatan atau kerja sama profesional diproyeksikan sebagai romansa oleh jutaan penggemar, dinamika hubungan tersebut berpotensi terganggu. 

Selain itu, tekanan dari ekspektasi penggemar pun menjadi beban tersendiri. Melansir hercampus.com, budaya fandom Korea Selatan menempatkan idola dalam tekanan konstan untuk menjaga perilaku sempurna dan tetap dapat diakses penggemar, serta hubungan pribadi mereka kerap dianggap sebagai pengkhianatan jika tidak sesuai ekspektasi. Hal ini tergambar dari kasus Karina (anggota grup Aespa) yang terpaksa meminta maaf secara terbuka kepada publik hanya karena memiliki pacar, dilansir dari thekoreatimes.co.kr. Dalam konteks shipping culture, idola yang tidak memenuhi ekspektasi shipper berisiko mendapat respons serupa dari penggemarnya.

Meskipun demikian, tidak semua idola mengalami dampak negatif dari shipping culture. Sebagian tampak santai menghadapi fenomena ini dan merespons momen yang disukai shippers dengan lapang. “Sejujurnya, tergantung idolanya menanggapinya bagaimana. Ada yang terima-terima saja, ada yang tidak,” tulis seorang responden. 

Diperlukannya Garis Etis

Lantas, sampai batas apa shipping culture boleh berjalan? Pertanyaan ini dapat dijawab sesuai dengan beberapa prinsip yang menjadi panduan bersama. Pertama, shipping semestinya tetap berada di ranah fiksi. Mengidolakan kedekatan dua idola sebagai inspirasi berkarya adalah sah. Namun, mengeklaim sebagai kenyataan apalagi menyebarkannya sebagai rumor adalah pelanggaran nyata terhadap privasi dan martabat seseorang.

Kedua, konten eksplisit tidak seharusnya disebarkan ke ruang publik, terutama mengingat banyak penggemar K-pop yang masih berusia muda. Kreativitas dalam fandom memiliki nilai, tetapi tanggung jawab atas konten yang dihasilkan tetap berada di tangan penciptanya.

Ketiga, penggemar sebaiknya menghargai idola sebagai manusia. Ketika shipping berujung pada serangan terhadap idola yang berinteraksi dengan orang lain, atau penggemar merasa ‘memiliki’ suatu pasangan hingga menolak kenyataan, fandom telah kehilangan esensinya sebagai ruang apresiasi.

Pada akhirnya, shipping culture adalah cermin dari kreativitas dan afeksi penggemar yang jika dijaga sesuai batas dapat memperkaya pengalaman fandom. Namun, tanpa kesadaran kolektif akan batas tersebut, fenomena ini bisa dengan mudah berubah menjadi sumber tekanan, baik bagi idola maupun bagi penggemar. 

 

 

Penulis: Aurelia Lisbeth (Sistem Informasi, 2023) & Faith Terresa Tiominar Tambunan (Jurnalistik, 2025)

Editor: Jocellyn Lee Kurnianto

Foto: ULTIMAGZ/Iskandar Gautama, asianfanfics.com, X/@wwxwashere, YouTube/AADBSK Sub

Sumber: archiveofourown.org, hercampus.com, koreajoongangdaily.joins.com, kpopwise.com, oxfrodstudent.com, thekoreatimes.co.kr, usatoday.com, 

Sedlmeir, S. (n.d.). Institute for Cultural Management and Media Master’s Program in Cultural and Music Management Love, Fantasy, and Profit: The Utilization of Shipping and Boys Love as a Strategic Marketing Tool in the K-Pop Industry.

Tags: agensibatas etisboys lovebudaya fandomCyberbullyingfan artfan fictionfandomidolaIndustri Hiburank-popKesehatan MentalKorea Selatanparasosialqueerbaitingreal person fictionshippersshipping culturesub unittvxq
Aurelia Lisbeth

Aurelia Lisbeth

Related Posts

Ilustrasi seorang anak bermain Roblox di gawainya. (ULTIMAGZ/Tiffany Michiko P.)
Iptek

Batas Usia Media Sosial bagi Anak: Upaya Melindungi atau Mengekang?

March 18, 2026
Ilustrasi laptop yang ditempeli berbagai stiker. (ULTIMAGZ/Febrian Dwianto)
Budaya

Manifesto 13 Inci: Bagaimana Pesan dan Kepribadian Tersampaikan Lewat Stiker

March 16, 2026
Ilustrasi seseorang sedang bersantai dekat jendela sebagai representasi gaya hidup slow living.
Budaya

Menepi Sejenak, Kenali Budaya Slow Living Yang Sekarang Menjadi Impian Orang

March 16, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + 9 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021