Berbagi Pengetahuan Kesehatan Mental Bersama Student Support

Psikolog Student Support Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Fiona Valentina Damanik menjadi pembicara pada Seminar Mental Health Awareness yang diadakan di Lecture Hall UMN, Jumat (08/02/19). Tema yang diangkat pada seminar ini adalah 'Be Aware, Be Happy'. (ULTIMAGZ/Devonseta)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Student Support Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengadakan seminar bertajuk Mental Health Awareness: Be Aware, Be Happy di Lecture Hall UMN, Jumat (08/02/19). Dengan Psikolog Student Support Fiona Valentina Damanik sebagai pembicara, seminar ini mengajak peserta mengenali kesehatan mental yang dimulai dari diri sendiri.

Fiona mengatakan bahwa topik kesehatan mental ini diambil karena prediksi dari World Health Organization (WHO) yang menyebutkan bahwa pada tahun 2030, kesehatan mental bisa menjadi penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung. Ia juga menyebutkan bahwa kesehatan mental sulit untuk dikenali sehingga membutuhkan sense of threatening yang dibangun dari tiap pribadi.

Selanjutnya, Fiona juga menjelaskan bahwa kesehatan mental bisa dikenali dengan beberapa tanda dalam diri sendiri. Tanda tersebut akan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah melalui pikiran, emosi, dan perilaku. 

“Ketidaknyamanan di dalam tiga hal ini merupakan suatu tanda yang harus di follow up oleh yang punya badan. Jangan diabaikan,” ujar Fiona.

Fiona juga mengungkapkan, seseorang harus memahami kapan dirinya membutuhkan sebuah pertolongan. Menurutnya, hal tersebut dapat dipahami setelah melakukan proses mengenali diri yang dilakukan terus menerus dengan melihat tiga tanda yang telah dijelaskan sebelumnya. 

“Jika kita terus mengenali diri sendiri hingga menjadi sebuah kebutuhan, kita akan tahu apakah kita masih kuat atau butuh pertolongan orang lain,” tutur Fiona.

Student Support sendiri selama ini telah membuka fasilitas konseling untuk mahasiswa yang mempunyai keluhan kesehatan mental. Fiona mengatakan bahwa saat ini pihak Student Support sedang menyiapkan tim konselor sebaya untuk menambah kebutuhan dalam melayani mahasiswa. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa proses konseling tidak bisa dilakukan dengan meminta seseorang yang memiliki tanda-tanda masalah dalam kesehatan mental untuk bercerita langsung.

“Syarat untuk menjadi klien atau konseli itu ada dua, yaitu kemauan dan kesiapan. Seminar berkali-kali kita adakan, kita terbuka. Jika seminarnya tepat, bisa muncul kemauan serta kesiapan dan langsung berani untuk melakukan konseling,” tutup Fiona.

 

Penulis: Adrianus Dwi Octaviano

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Devonseta Aldi