SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sebuah selat sepanjang 33 kilometer di ujung Teluk Persia kembali menjadi perhatian dunia. Selat Hormuz, jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini bukan sekadar perairan biasa. Mayoritas perdagangan minyak dunia bergantung pada jalur sempit ini, menjadikannya salah satu titik paling penting dalam peta energi global.
Geografi Selat Hormuz
Secara geografis, Selat Hormuz diapit oleh Iran di utara dan Oman di selatan. Di titik tersempitnya, jalur pelayaran efektif dua arah masing-masing hanya sekitar tiga kilometer, dilansir dari kompas.id. Selat ini menjadi lalu lintas utama bagi minyak dan gas dari hampir seluruh negara besar Teluk Persia. Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, hingga Iran mengandalkan jalur ini untuk mengantarkan minyak dan gas mereka ke pasar Asia.
Baca juga: Desas-desus Perang AS–Iran, Apa Nasib Indonesia?
Nilai Ekonomi dari Selat Hormuz
Melansir idntimes.com, berdasarkan data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), lebih dari 20 juta barel melewati selat ini setiap harinya. Angka itu menjadikannya salah satu titik paling krusial dalam perdagangan energi dunia. Melansir nationalgeographic.grid.id, jalur ini juga menanggung sekitar 30 persen minyak mentah yang diangkut lewat laut, termasuk hampir 20 persen bahan bakar jet global. Dengan demikian, kondisi di satu selat sempit ini bisa mendikte harga energi di negara yang bahkan tidak berbatasan langsung dengannya.
Siapa yang Paling Bergantung?
Melansir fortuneidn.com, sebagian besar minyak dan gas alam cair yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia. EIA memperkirakan 84 persen minyak mentah dan 83 persen gas alam cair yang melintasi selat itu menuju kawasan tersebut, dengan Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan sebagai importir utama.
Negara-negara importir terbesar tersebut telah lama membangun cadangan minyak strategis sebagai antisipasi gangguan pasokan. Jepang tercatat memiliki cadangan hingga 254 hari, Korea Selatan sekitar 219 hari, dan Cina diperkirakan lebih dari 115 hari, dilansir dari kompas.com. Sementara itu, cadangan minyak nasional Indonesia saat ini hanya berada di angka 20 hari, dilansir dari tempo.co.
Baca juga: Harga Emas: Antara Strategi Pasar dan Ketakutan Global
Gangguan sekecil apapun di Selat Hormuz sudah cukup memicu kepanikan pasar. Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, dampaknya bisa menjalar ke beban subsidi energi, nilai tukar rupiah, hingga inflasi domestik, dilansir dari kompas.com.
Selat Hormuz bukan isu baru dan ancaman terhadapnya juga bukan yang pertama. Yang membedakan kali ini adalah seberapa jelas angka-angka itu berbicara, dan seberapa lama angka-angka itu akan terus diabaikan.
Penulis: Aurelia Lisbeth
Editor: Kezia Laurencia
Foto: Unsplash
Sumber: fortuneidn.com, idntimes.com, kompas.com, kompas.id, nationalgeographic.grid.id, tempo.co




