Pejuang Perempuan Indonesia dari Masa ke Masa

pejuang perempuan Indonesia
Perjuangan perempuan dari masa ke masa (ULTIMAGZ/ Theresia Amadea)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sejarah Indonesia merupakan hasil perjuangan dari beberapa tokoh yang berjuang demi keberlangsungan Ibu Pertiwi. Dari masa sebelum bangsa Barat datang, masa Kolonial, pasca kemerdekaan, hingga saat ini. Para tokoh itu berasal dari berbagai kalangan yang berbeda latar belakang, termasuk para perempuan yang memperjuangkan keadilan.

Nama seperti R.A. Kartini, Cut Nyak Dien, dan Martha Christina Tiahahu sudah tidak asing di telinga Ultimates. Namun, masih banyak tokoh maupun pergerakan perempuan yang berjuang untuk hak perempuan, menjadi pendobrak nilai dan norma, serta menyuarakan keadilan lewat karya-karyanya.

Sultanah Taj ul-Alam Safiatuddin Syah

Sultanah Taj ul-Alam Safiatuddin Syah
Sultanah Taj ul-Alam Safiatuddin Syah

Di masa kolonial muncul ratu dari Kesultanan Aceh, Sultanah Taj ul-Alam Safiatuddin Syah. Ratu dengan nama lahir Putri Sri Alam merupakan putri dari salah satu pahlawan nasional Indonesia, Sultan Iskandar Muda. Ratu Safiatuddin naik tahta saat suaminya, Sultan Iskandar Tsani wafat. Meski banyak pihak menentang seorang perempuan naik taktah akhirnya Ratu Safiatuddin menjadi sultanah pertama di Kesultanan Aceh.

Selama masa pemerintahannya Ratu Safiatuddin memperhatikan ilmu pengetahuan dan sastra. Dirinya mendirikan perpustakaan agar bisa mencerdaskan rakyatnya. Ratu Safiatuddin juga mengangkat derajat perempuan Aceh masa itu dengan membentuk barisan prajuit perempuan saat Perang Malaka melawan Belanda.

Siti Aisyah We Tenriolle

Siti Aisyah We Tenriolle
Siti Aisyah We Tenriolle

Sama seperti Ratu Safiatuddin dari Aceh, Siti Asiyah menjadi ratu di Kerajaan Tanette meski ditentang beberapa pihak. Salah satu jasa Aisyah adalah membantu BF Matthes dalam menerjemahkan epos sastra I La Galigo yang berbahasa Bugis Kuno. Dengan kemampuannya membaca tulisan Bugis Kuno, Aisyah berhasil mewujudkan rencana membuka epos tersebut.

Ratu Kerajaan Tanette sangat memperhatikan pendidikan rakyatnya. BF Matthes dan Siti Aisyah bekerja sama menyusun rencana strategis dalam meningkatkan kesejahteraan dan kehidupan bangsa Tanette melalui pendidikan. Namun, BF Matthes hanya mendirikan sekolah khusus laki-laki golongan bangsawan yang kaya. Oleh karena itu Aisyah mendirikan sekolah tanpa bantuan Belanda (1908) yang memberikan pendidikan yang terbuka untuk seluruh golongan masyarakat, tanpa diskriminasi ekonomi, sosial, dan gender.

Meski jaman terus berganti, semangat perempuan Indonesia akan kesejahteraan kaumnya tida padam. Perempuan Indonesia yang menjadi perintis pendidikan perempuan selain R.A. Kartini adalah Dewi Sartika.

Dewi Sartika

Dewi Sartika
Dewi Sartika

“Leuh barudak, ari jadi awewe kudu sagala bisa, ambeh bisa hirup!”

Perkataan Dewi Sartika yang terkenal di masyarakat Sunda yang berarti, “Anak-anakku, sebagai perempuan, kalian harus memiliki banyak kecakapan agar mampu hidup,”

Dewi Saritika merasa miris dengan ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki di masyarakat feodal Sunda masa itu. Anak perempuan tidak diberikan pendidikan layak yang sama dengan laki-laki.

Berangkat dari semangat untuk menaikan kedudukan sosial perempuan Dewi Sartika berinisiatif membangun sekolah untuk perempuan. Dengan izin dari Bupati Martanagara, Sakola Istri pertama dibuka di pendopo Kabupaten Bandung pada 1904. Pendidikan perempuan yang dirintis Dewi Sartika terus berkembang. Berawal hanya dengan dua kelas pada 1912 Sakola Istri telah memiliki cabang di sembilan kabupaten di Priangan.

Tidak hanya dalam pendidikan untuk perempuan, Dewi Sartika juga memperhatikan masalah kesenjangan upah perempuan dan poligami. Dewi Sartika menjadi salah satu yang pertama bicara tentang kesetaraan upah pekerja perempuan yang lebih sedikit dari laki-laki dan masalah poligami dan perkawinan di bawah umur.

Kembali ke Pulau Sumatra, tepatnya di Tanah Mingangkabau. Lahir sosok perempuan yang nantinya menjadi yang pertama menceburkan diri di dunia jurnalistik, bernama Roehanna Koeddoes.

Roehanna Koeddoes

Roehanna Koeddoes
Roehanna Koeddoes

Roehanna masuk di bidang jurnalistik pada 1908, bergabung di surat kabar Poetri Hindia yang kemudian diberedel oleh Belanda. Maka dari itu, saudara tiri Soetan Sjahrir ini berinisiatif membuat media sendiri dan terbentuklah Soenting Melajoe (1912). Media yang didirikan bibi Chairil Anwar tersebut kemudian menjadi suara dari gagasan yang berguna untuk kemajuan Nusantara, khususnya kemajuan perempuan Nusantara.

Semangat juang Roehanna membuat dirinya berani mengirim surat kepada Oetoesan Melajoe. Suratnya menggugah hati Maharadja, wartawan senior Oetoesan Melajoe, yang membantu Roehanna mendirikan surat kabar, 

Sebelum mendirikan Soenting Melajoe Roehanna sudah aktif dalam dunia pendidikan. Pada 11 Februari 1911 Roehanna mendidikan sekolah khusus keterampilan perempuan, Sekolah Kerajinan Amai Setia. Namun, mendirikan sekolah tidak cukup bagi Roehanna.

Dilansir dari historia.id, Roehanna menceritakan keinginannya untuk memperluas perjuangan kepada suaminya Abdul Kudus.

“Kalaupun hanya mengajar, yang bertambah pintar hanya murid-murid saya saja. Saya ingin sekali berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan kaum perempuan di daerah lain sehingga bisa membantu lebih banyak lagi,” kata Rohana pada suaminya, seperti ditulis Fitriyanti dalam Rohana Kudus, Wartawan Perempuan Pertama Indonesia.

(Baca juga: Sosok Ruhana Kuddus, Jurnalis Perempuan Pertama yang Raih Gelar Pahlawan Nasional)

Kongres Perempoean Indonesia

Kongres Perempoean Indonesia
Kongres Perempoean Indonesia

Sumpah Pemuda yang  diikrarkan  dalam  Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928 mengobarkan semangat pergerakan perempuan Indonesia untuk menyelenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta.  Menjadi pembahasan pokok  Kongres  adalah untuk menyatukan persatuan dan kesatuan antar organisasi-organisasi perempuan Indonesia yang pada kala itu masih bergerak sendiri-sendiri. Kongres ini telah berhasil membentuk badan federasi organisasi wanita yang mandiri dengan nama “Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia” disingkat PPPI.

Peristiwa  besar   tersebut dijadikan tonggak sejarah bagi kesatuan pergerakan perempuan Indonesia. PPPI mengalami perubahan nama beberapa kali, pada tahun 1929 menjadi Perikatan Perkoempoelan Isteri Indonesia (PPII). 

Pada peringatan ke-25 Kongres ini tepatnya tanggal 22 Desember 1953, Presiden RI Soekarno menetapkan hari Kongres tersebut sebagai Hari Ibu Nasional melalui Dekret Presiden RI No. 316 Tahun 1953. Oleh karena itu kini setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia.

infografik1

 

Penulis: Theresia Amadea

Editor: Agatha Lintang

Sumber: tirto.id, sister-hood.com, journal.uinjkt.ac.id, kenangan.com, archive.lenteratimur.com, pwmu.co, media.neliti.com, kumparan.com, communication.binus.ac.id, journal.student.uny.ac.id, kowani.or.id

Foto: historynusantara.com, wikipedia, erabaru.net