Mengenal Menstrual Cup, Alternatif Penampung Darah Haid Perempuan dari Lateks

mentrual cup
Menstrual cup merupakan alat berbentuk cawan yang terbuat dari silikon untuk menampung darah haid perempuan. Menstrual cup dinilai lebih aman, ekonomis, dan ramah lingkungan. (Foto: rubycup.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Menstruasi merupakan proses keluarnya darah dari vagina akibat luruhnya dinding rahim yang tidak dibuahi. Datang bulan mulai dialami perempuan yang sudah menginjak masa pubertas, biasanya pada umur 12 tahun. Siklus alamiah ini idealnya berjalan sekitar 4 minggu. Namun, tak jarang siklus menstruasi datang lebih lambat ataupun lebih cepat dengan rentang perbedaan waktu antara 21-35 hari.

Selama siklus menstruasi, perempuan akan mengeluarkan darah dari vagina selama tiga hingga tujuh hari. Mengutip alodokter.com, rata-rata darah yang keluar selama siklus datang bulan ini mencapai 30-70 mililiter. Walaupun demikian, biasanya darah paling banyak keluar pada hari pertama dan kedua pada siklus haid.

Selama siklus haid berlangsung, perempuan lazimnya menggunakan pembalut sekali pakai untuk menampung darah haid yang keluar. Tak jarang pula, perempuan menggunakan tampon sebagai alteratif lainnya. Namun, dengan perkembangan teknologi munculah menstrual cup sebagai inovasi terbaru dari alat penampung darah haid perempuan. Lalu, apa itu menstrual cup?

Mengenal Menstrual cup

Menstrual cup atau cawan menstruasi merupakan sebuah alat berupa wadah yang dapat menampung darah haid perempuan. Cawan menstruasi ini terbuat dari bahan dasar silikon atau lateks, sehingga menghasilkan sifat yang lembut dan lentur. Uniknya, cawan ini bisa digunakan selama 12 jam per hari, lalu dicuci, kemudian bisa dipakai berulang kali. Mengutip cnnindonesia.com, menstrual cup ini memiliki daya tampung yang cukup besar yakni mencapai 30 mililiter. Padahal, rata-rata darah yang keluar saat siklus datang bulan hanya sekitar 15-25 mililiter per harinya.  

Menstrual cup ini dilengkapi dengan pilihan berbagai macam ukuran yang harus disesuaikan dengan ukuran vagina si pemakainya. Cara pemakaiannya pun berbeda dari pembalut dan tampon sekali pakai. Sebelum menggunakannya, Anda perlu mengetahui ukuran menstrual cup yang tepat. Mengutip cnnindonesia.com, perempuan di bawah usia 30 tahun dan belum memiliki pengalaman melahirkan biasanya direkomendasikan untuk menggunakan cawan menstruasi berukuran kecil.

Sedangkan cawan berukuran besar biasanya direkomendasikan untuk perempuan yang berumur lebih dari 30 tahun, sudah pernah melahirkan secara normal, serta memiliki aliran darah menstruasi yang banyak. Dengan kata lain, Anda perlu mempertimbangkan usia, panjang ukuran serviks, banyaknya alirah darah menstruasi, dan pengalaman melahirkan untuk menentukan ukuran menstrual cup yang tepat.

Berbagai bentuk dan ukuran menstrual cup
Menstrual cup hadir dengan beragam pilihan model dan ukuran. (Foto: pinterest.com)

Jika sudah menemukan ukuran yang cocok, pengguna perlu memasukkan cawan ini ke dalam vagina dengan cara melipatnya. Cara melipat cawan ini juga beragam, misalnya model lipatan C, 7, S, dan punchdown. Proses awal yang tidak mudah dalam pengaplikasian menstrual cup ini mengharuskan perempuan untuk melakukan beberapa kali percobaan atau dapat mengonsultasikannya dengan dokter ahli penyakit sistem reproduksi perempuan.

Walaupun di Indonesia cawan menstruasi ini belum sepopuler pembalut dan tampon sekali pakai, tapi ternyata menurut laporan The Journal of Women’s Health, cawan ini sudah ada sejak tahun 1937. Saat ini, menstrual cup dibanderol dengan harga sekitar Rp100.000,00 hingga Rp800.000,00, tergantung dari mereknya. Walaupun lebih mahal dari pada pembalut dan tampon sekali pakai, menstrual cup bisa bertahan sekitar 2-4 tahun, tergantung cara penggunaan dan perawatannya.

Selain itu, penggunaan menstrual cup ini juga dianggap lebih ramah lingkungan dan mampu mengurangi limbah pembalut di Indonesia. Melansir tirto.id, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia memperkirakan bahwa pada tahun 2015 lalu jumlah sampah pembalut di Indonesia mencapai 1,4 miliar buah per bulannya.

Waspadai Beberapa Kerugian Menstrual Cup

Cawan menstruasi ini memang dinilai lebih aman, ekonomis, dan ramah lingkungan dibandingkan dengan dua pendahulunya, yaitu pembalut dan tampon. Namun, para perempuan yang ingin menggunakan menstrual cup ini harus mewaspadai beberapa kerugian yang mungkin bisa terjadi.

Pertama, karena menstrual cup ini berbahan dasar silikon atau lateks maka para perempuan perlu memastikan bahwa dirinya tidak memiliki alergi terhadap jenis bahan ini. Lalu, para perempuan perlu menjaga kebersihan dari cawan ini untuk menghindari iritasi pada vagina. Saat akan memasukkan cawan ke dalam vagina, Anda perlu memastikan tangan dalam keadaan bersih. Walaupun mampu bertahan 12 jam sehari, Anda juga harus rajin mencucinya menggunakan sabun dan dibilas hingga bersih.

Selain itu, para perempuan juga perlu sabar saat harus memilih ukuran cawan menstruasi yang tepat untuk dirinya. Lalu, yang tak kalah pentingnya adalah proses melepaskan menstrual cup dari vagina. Proses ini harus dilakukan secara hati-hati, jika tidak darah haid akan tumpah dan mengotori sekeliling Anda.

Hal lain yang perlu diwaspadai adalah soal risiko toxic shock syndrome (TSS). Merangkum dari alodokter.com dan cnnindonesia.com, terlepas dari bahan dan perawatan cawan menstruasi, pertumbuhan bakteri berlebih terkait TSS juga bisa terjadi pada menstrual cup. TSS ditandai dengan gejala demam tinggi, mual, nyeri otot, diare,  lemas, hingga ruam kemerahan di sekitar vagina.

 

Penulis: Galuh Putri Riyanto

Editor: Hilel Hodawya

Sumber: cnnindonesia.com, tirto.id, alodokter.com

Ilustrasi: rubycup.com, pinterest.com