Opini: Orang Banyak Tertawa Juga Bisa Alami Depresi

Tri Retno Prayudati atau Nunung (kanan) dan suaminya July Jan Sambiran (kiri) meninggalkan ruang sidang terkait kasus penyelahgunaan narkoba di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (02/10/2019). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pada sidang lanjutan penyalahgunaan narkoba, Rabu (23/10/19) yang menjerat pelawak Tri Retno Prayudati alias Nunung, Dokter Herny Taruli Tambunan hadir sebagai saksi dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di Jakarta Timur. Dokter tersebut bersaksi, Nunung mengalami depresi selama tiga tahun terakhir sehingga memerlukan obat-obatan.

Namun, Hakim Djokon Indiarto mengaku keheranan mengapa pelawak berumur 55 tahun itu bisa mengalami depresi karena sering ‘cengengesan’ atau tertawa di televisi setiap hari saat masih aktif.

“Ini kan kerjanya setiap hari cengengesan (di televisi) kok bisa stres?” kata Djoko sambil sedikit tertawa di ruang sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (23/10/19), seperti yang dilansir dari kompas.com.

Kasus-kasus di masa lalu menunjukkan bahwa bukan hanya hanya depresi, orang-orang yang ‘biasa saja’ malah bisa saja melakukan aksi bunuh diri. Belum lama ini, Korea Selatan telah kehilangan Sulli, mantan anggota girl group f(x) yang menggantung dirinya lantaran depresi yang dipicu cyberbullying pada Senin (14/10/19).

Padahal, sehari sebelumnya, beberapa jam sebelum ditemukan tak bernyawa, Suli masih melakukan syuting iklan Stretch Angels. Tak hanya itu, perempuan bernama asli Choi Jin-ri ini juga mengunggah konten iklan Stretch Angels setelah syuting selesai. Singkat kata, tidak ada seorang pun yang menduga Sulli yang masih rajin bekerja akan meninggalkan dunia pada keesokan paginya.

Di sini, muncul pertanyaan, memangnya benar jika seseorang yang sering tertawa, tersenyum, atau ‘biasa saja’ tidak bisa mengalami depresi?

“Tentu tidak benar,” kata salah satu psikolog, Fiona melalui surel (28/10/19).

Psikolog di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini menjelaskan, ciri-ciri orang-orang yang mengalami depresi tidak terbatas pada penampakan murung, senang menyendiri, dan tidak senang berelasi, tapi juga mereka yang juga tampak baik-baik saja seperti tertawa dan cengengesan.

“Yang paling tahu terkait dengan keadaan diri seseorang adalah diri sendiri. Walaupun terdapat psikolog atau psikiater, tidak akan ada yang tahu terkait apa yang orang lain pikirkan atau rasakan,” jelas Fiona. “Maka diperlukan kebijaksanaan untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri dan mengukur, apakah diri mereka memerlukan bantuan atau bisa ditanggung sendiri.”

Menurut Fiona, kebijaksanaan tersebut diperlukan karena setiap orang mempunyai mekanisme pertahanan diri yang berbeda-beda. Ada yang memilih melindungi diri sendiri dengan memperlihatkan bahwa dirinya memerlukan bantuan, sedangkan di pihak lain, ada yang melindungi diri dengan tidak memberitahu siapa pun mengenai kondisi dirinya.

Selain itu, dijelaskan bahwa ada beberapa kemungkinan mengapa Hakim Djoko mengatakan pernyataan kontroversial terkait kasus Nunung. Pertama, pemahaman betapa pentingnya psikologi masih kurang terpapar di lingkungan pemerintah. Kedua, karena belum ada urgensi bagi pemerintah seperti tokoh-tokoh pemerintah yang belum mengalami depresi atau masih terkurung dalam stigma bahwa orang depresi itu gila, kurang iman, dan prasangka-prasangka tak berdasar lainnya.

Walaupun demikian, Fiona mengakui bahwa lebih baik mengadakan penelitian yang lebih matang untuk menilai level kewaspadaan pemerintah terhadap depresi.

Fiona menambahkan, kaum awam seperti mahasiswa sesungguhnya bisa berkontribusi menangani depresi, baik bagi orang-orang terdekat atau masyarakat. Caranya adalah mempersiapkan lingkungan yang baik agar orang lain bisa bertumbuh.

“Jadi, walaupun ‘ah, aku enggak depresi kok’, tapi kita perhatikan, perilaku kita ini, apabila berada di tengah-tengah orang yang depresi, membuat mereka semakin baik, biasa, atau buruk?” kata Fiona.

Ultimates, depresi bukanlah masalah sepele. Jika Ultimates memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, menyakiti diri sendiri, atau mengenal keluarga dan teman bertendensi demikian, sangat disarankan untuk menghubungi atau berdiskusi dengan pihak profesional, seperti psikolog, psikiater, dan klinik kesehatan jiwa. Ultimates juga bisa datang ke Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.idYayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Ivan Jonathan

Foto: Antara Foto