Pola Tidur Polifasik: Di Balik Jadwal Tidur yang Tersebar

Ilustrasi Pola Tidur Polifasik
Pola tidur polifasik menggunakan jadwal tidur yang tersebar dalam kurun waktu sehari. (Foto: pexels.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Bagi orang sibuk, terkadang padatnya jadwal dan banyaknya tugas mencegah mereka untuk mampu mendapatkan istirahat yang cukup. Hal ini dapat menghasilkan usaha yang tidak produktif akibat tubuh yang lelah.

Oleh karena itu, muncul suatu pola tidur polifasi dengan membagi jadwal tidur menjadi beberapa sesi dalam kurun waktu satu hari. Pembagian waktu tidur dalam pola ini terbagi dalam beberapa tipe, antara lain: Everyman, Uberman, dan Dymaxion. Berikut adalah penjelasan dari ketiga tipe pola tidur tersebut dilansir dari sleepcouncil.org.uk.

1. Everyman
Pola tidur yang dikemukakan oleh Marie Staver ini terdiri dari satu tidur panjang sekitar tiga jam ditambah dengan tiga kali istirahat singkat selama 20 menit. Total waktu tidur yang diperoleh mencapai empat jam dalam kurun waktu sehari.

2. Uberman
Pola tidur ini juga dikemukakan oleh Marie Staver dan terdiri dari enam kali istirahat singkat selama 30 menit. Total waktu tidur yang diperoleh mencapai tiga jam dalam kurun waktu sehari.

3. Dymaxion
Pola tidur yang dikemukakan oleh Buckminster Fuller ini terdiri dari dua kali istirahat singkat selama 30 menit setiap enam jam. Total waktu tidur yang diperoleh mencapai dua jam dalam kurun waktu sehari.

Tentu saja pola tidur seperti ini akan memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Dilansir dari verywellhealth.com, pola tidur ini dapat membantu meningkatkan produktivitas kerja karena waktu tidur yang berkurang. Selain itu, pola tidur ini dapat memenuhi tuntutan pekerjaan yang terkadang membuat kita tidak memiliki waktu tidur yang cukup. Akan tetapi, pola tidur ini dapat mengakibatkan kekurangan tidur karena normalnya manusia harus tidur setidaknya selama 7-8 jam.

Dilansir dari time.com, direktur dari University of California Los Angeles Sleep Disorders Center, Dr. Alon Avidan mengatakan “Ada sangat sedikit data — tidak satu pun dalam literatur medis — dari studi klinis yang dirancang dengan cermat yang menunjukkan bahwa pola tidur polifasik memiliki keunggulan dalam pengobatan tidur manusia.”

Dr. Alon menambahkan “Jika individu yang tidur dengan cara tersebar berakhir kurang tidur secara keseluruhan, maka itu memiliki konsekuensi terhadap kesehatan.” Konsekuensi yang dimaksud termasuk gangguan kognitif, masalah pada ingatan dan risiko kecelakaan yang lebih tinggi.

Melihat hal tersebut, ada baiknya jika Ultimates berpikir ulang apabila tertarik untuk mengimplementasikan pola tidur polifasik. Ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum memulai pola tidur ini. Maka dari itu, ada baiknya untuk mempertimbangkan pro dan kontra dari pola tidur ini sesuai dengan kondisi tubuh sebelum mencobanya.

Penulis: Louis Brighton Putramarvino
Editor: Agatha Lintang
Foto: pexels.com
Sumber: sleepcouncil.org.uk, www.verywellhealth.com, time.com