Opini: BEM UNJ, Seksisme, dan Misogini yang Tak Disadari

BEM UNJ & Seksisme
(Foto: comstocksmag.com)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Seminggu ke belakang, media sosial dihebohkan dengan beberapa unggahan di akun Instagram Space UNJ. Organisasi mahasiswa asal Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang bergerak di bidang kesetaraan gender ini menampilkan tangkapan layar dari akun Instagram Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM FT) UNJ. Terlihat, BEM FT UNJ memudarkan foto-foto anggota perempuannya dalam poster susunan kabinet.

Berbeda dengan para anggota perempuan, semua foto anggota laki-laki dalam kepengurusan tersebut ditampilkan secara penuh. Berdasarkan pengamatan penulis, praktik ini bukan pertama kali terjadi dalam Instagram BEM FT UNJ. Kepengurusan BEM FT UNJ tahun lalu pun melakukan hal yang sama. Sayangnya, unggahan-unggahan tersebut telah dihapus dari akun Instagram BEM FT UNJ.

Tak hanya BEM FT, praktik penghilangan foto anggota perempuan juga terlihat di akun Instagram beberapa organisasi lain di UNJ. BEM Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan BEM Prodi Pendidikan Fisika UNJ serta beberapa organisasi di bawahnya bahkan mengganti foto anggota perempuan mereka dengan kartun perempuan berjilbab yang generik.

Dalam klarifikasi yang diunggah lewat Instastory, BEM FT UNJ menyatakan bahwa pemudaran foto tersebut merupakan kesepakatan bersama para Badan Pengurus Harian (BPH) perempuan. Hal ini disebabkan beberapa BPH perempuan menolak dipublikasikan wajahnya, sementara beberapa lainnya menyetujui wajahnya dipublikasi. BEM FT UNJ juga membantah tuduhan adanya ‘feminisme, patriarki, dan seksisme’ dalam tata cara kepengurusannya.

Klarifikasi ini jelas menunjukkan inkompetensi dan ketidaktahuan BEM FT UNJ akan isu-isu kesetaraan gender. Lingkungan UNJ yang agamis juga secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi terhadap budaya patriarkis yang terbentuk di kalangan mahasiswanya.  Seksisme tumbuh subur. Merendahkan gender tertentu dengan dalil agama menjadi lumrah. Padahal, nilai-nilai kesetaraan gender selalu ada dalam setiap agama. Tafsir yang salah kemudian mengaburkan nilai-nilai tersebut.

Tidak adanya protes dari anggota-anggota perempuan organisasi yang melakukan praktik tersebut juga membingungkan. Memang, kebanyakan perempuan di Indonesia hidup di lingkungan yang patriarkis dan misoginis sejak kecil. Perempuan dituntut untuk patuh, menjaga sikap, dan menjadi lemah lembut. Sementara itu, laki-laki dituntut untuk kuat, tidak cengeng, dan kebal terhadap emosi. Nilai-nilai ini akhirnya diinternalisasi oleh perempuan sehingga timbul fenomena yang umum disebut internalized misogyny (misogini yang tidak disadari).

Internalized misogyny dapat didefiniskan sebagai perilaku maupun pemikiran perempuan yang turut melanggengkan nilai-nilai misoginis. Bentuknya beragam, mulai dari merendahkan perempuan lain hingga percaya pada bias gender yang selama ini diajarkan oleh lingkungan. Orang-orang dengan internalized misogyny umumnya merasa bahwa bias gender yang ada saat ini merupakan sesuatu yang benar. Oleh sebab itu, mereka rentan menjadi korban perilaku seksis, karena kerap kali tidak sadar sedang diopresi.

Sebenarnya, tak apa bila masih ada nilai-nilai misoginis dalam diri. Pengaruh pola asuh dan lingkungan memang kuat dan sulit dilawan. Namun, tak ada salahnya juga bila kita mulai menyadari pikiran-pikiran tersebut dan mencoba mengubahnya pelan-pelan. Setidaknya, dengan begitu, kita tak lagi diopresi pikiran sendiri.

 

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie, Jurnalistik 2018

Editor: Xena Olivia

Ilustrasi: comstocksmag.com

Sumber: coe.int, instagram.com, magdalene.co, vice.com