Greta Thunberg: Aktivis 16 Tahun yang Sadarkan Dunia

Aktivis perubahan iklim berusia 16 tahun Greta Thunberg duduk bersama spanduk buatan tangannya yang bertuliskan “skolstrejk för klimatet” atau "aksi mogok sekolah untuk iklim" di depan parlemen Swedia. Aksi ini dimulai sejak 20 Agustus 2018. (Foto: www.independent.co.uk)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Masalah lingkungan dan polusi kembali hangat di mata publik. Berdasarkan pantauan AirVisual pada Jumat (02/08/2019) lalu, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai angka 167. Angka ini menunjukkan kondisi tidak sehat (151 hingga 200) dan mengandung polutan PM2.5 86.6 mikogram/m3, yang melebihi ambang batas World Health Organization (WHO) dengan jumlah 25 mikrogram/mserta Kementerian Lingkungan Hidup dengan jumlah 65 mikrogram/m3.

Masalah polusi ini dianggap ironis. Orang-orang sadar akan besarnya masalah ini dan mereka juga mengetahui solusinya. Misalnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menuturkan salah satu masalah terbesarnya adalah transportasi, tetapi beberapa dari mereka masih segan memotret abu-abunya langit Jakarta dari dalam mobil pribadi lalu mengunggahnya ke media sosial untuk mengungkapkan kesedihannya mengenai polusi di kota ini.

Adapun kemungkinkan penghambatnya adalah masyarakat yang tidak begitu merasakan bagaimana kerusakan lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari. Memangnya mengapa kalau es di Greenland mencair karena asap kendaraan bermotor? Sekarang, kita masih bisa bangun tidur, makan, dan bekerja di Indonesia.

Ketakutan Remaja 16 Tahun

 “Orang dewasa selalu mengatakan, kami (anak-anak) berutang pada orang muda karena mereka memberikan kami harapan,” kata seorang gadis berkepang. “Tapi, saya tidak menginginkan harapan itu. Saya tidak ingin kalian mempunyai harapan, saya mau kalian panik. Saya mau kalian merasakan ketakutan yang saya rasakan setiap hari dan saya mau kalian melakukan sesuatu.”

Itulah salah satu bagian pidato Greta Thunberg, aktivis perubahan iklim berusia 16 tahun kepada para elit dunia melalui World Economic Forum di Davos, Swiss pada Januari 2019 lalu. Gadis asal Swedia itu mengutip laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), yang menjelaskan mengenai potensi bahaya jika suhu pemanasan global meningkat 1.5C. Demi menghindari hal tersebut, emisi gas harus berkurang drastis sebelum tahun 2030. Namun, Greta menyatakan bahwa gerakan politik ramah lingkungan telah kandas dan media gagal untuk memunculkan kewaspadaan publik mengenai masalah ini.

Rasa takut Greta berawal ketika ia berusia delapan tahun, dimana guru di sekolahnya memperlihatkan film-film dokumenter mengenai isu lingkungan, seperti sampah-sampah plastik di laut dan beruang kutub yang kelaparan. Begitu anak-anak lain sudah melupakannya, tampilan miris tersebut masih terbayang jelas baginya.

Kemudian, ia tak henti-hentinya merasa khawatir tentang keadaan bumi bagi dirinya di masa depan. Rasa takut ini pun membuat dirinya depresi, salah satunya karena tanggapannya mengenai ketidakpedulian orang dewasa terhadap masalah ini. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan bercerita dengan orangtuanya mengenai krisis iklim dan lingkungan.

Awalnya, orangtua Greta bersikeras bahwa lingkungan akan ‘baik-baik’ saja, tetapi ia menolak pendapat mereka secara mentah-mentah. Ia kemudian menunjukkan berbagai foto, grafik, film dokumenter, artikel, dan laporan mengenai krisis lingkungan kepada mereka. Sejak itu, keluarga Greta memulai hidup baru yang ramah lingkungan.

“Setelah bertahun-tahun, saya kehilangan bahan argumen. Dia terus menunjukkan film dokumenter, dan kami membaca buku bersama,” ujar ayah Greta, Svante Thunberg.

Sang ibu, Malena Ernman, seorang penyanyi opera kelas dunia, berhenti berpergian menggunakan pesawat sehingga berefek cukup besar pada karir internasionalnya, sedangkan Svante dan Greta beralih menjadi vegetarian. Svante juga berinvestasi pada Tesla, sebuah mobil listrik yang ramah lingkungan.

Nama Greta mulai dikenal baik sejak “skolstrejk för klimatet” atau “aksi mogok sekolah untuk iklim” di depan Parlemen Swedia pada 20 Agustus 2018 silam. Kala itu, Eropa Utara mencapai rekor suhu tertinggi akibat gelombang panas dan kebakaran hutan telah menghancurkan sebagain besar tanah Swedia hingga ke Kutub Utara.

Greta duduk dengan sendirinya di trotoar dengan spanduk bertuliskan kata-kata tersebut dan memberitahu rangkuman dari laporan IPCC kepada mereka yang lewat. Pada akhirnya, banyak warga Swedia yang ikut menemaninya untuk melakukan aksi protes. Namanya pun semakin dikenal dunia setelah menjadi sorotan media atas aksinya tersebut.

“Mengapa kami harus belajar untuk masa depan yang akan tidak ada, ketika tidak ada seorang pun yang melakukan sesuatu untuk menyelamatkan masa depan itu?” tuturnya kepada para peserta Climate March di Stockholm pada November 2018 silam.

Greta seringkali diundang oleh berbagai macam platform diskusi dunia seperti TED conference, World Economic Forum, dan COP24. Di setiap pidatonya, Greta menekankan beberapa argumen yang serupa, yaitu bumi yang sedang berada di situasi krisis karena perubahan iklim dan ketidakpedulian negara maju dengan kehidupan generasi selanjutnya:

            “Bagaimana bisa kami berharap negara-negara seperti India atau Nigeria peduli dengan krisi iklim, jika kita, yang mempunyai segalanya, tidak mengkhawatirkan, bahkan hanya untuk sedetik saja, mengenai komitmen kita tentang Perubahan Iklim? tentang Paris Agreement?” – Greta Thunberg pada TED Conference di Stockholm.

            “Yang terhormat Mr. Macron, Anda harus beraksi sekarang dan tidak hanya mengatakan bahwa Anda akan beraksi. Jika Anda terus-menerus berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa, Anda akan gagal, dan jika Anda gagal, Anda akan diingat sebagai salah satu penjahat terbesar di sejarah umat manusia,” – Greta Thunberg kepada Presiden Republik Prancis Emmanuel Marcon dalam sebuah video daring.

            “Kalian tidak cukup dewasa untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. (…) Kalian mengatakan bahwa kalian mencintai anak-anak kalian daripada apa pun dan meskipun begitu, kalian mencuri masa depan mereka di depan mata mereka,” Greta Thunberg kepada para tokoh politik dan ekonomi dunia melalui COP24 di Polandia.

Pada 15 Maret 2019 lalu, Greta juga memimpin aksi mogok global untuk iklim, yang merupakan salah satu aksi protes lingkungan terbesar di dunia. Peserta berasal dari 71 negara dan berlokasi pada 700 tempat yang berbeda. Walaupun ia senang bahwa kewaspadaan pada perubahan iklim terus meningkat, ia masih menganggap bahwa masalah ini belum terselesaikan. Menurutnya, emisi gas masih meningkat dan itu merupakan hal penting untuk diperhitungkan.

Greta pun menjadi salah satu tokoh yang berhasil menekan para jurnalis dan politikus dunia. Banyak dari mereka yang mengkritik atau bahkan mencoba untuk membunuh karakternya, seperti beranggapan bahwa Greta telah didorong oleh para kelompok lingkungan dan kepentingan bisnis. Bahkan, baru-baru ini, kolumnis Australia Andrew Bolt menyerangnya secara pribadi sebagai “gadis dengan sejumlah kegangguan mental”.

Perjuangan Greta adalah tamparan keras bagi dunia, termasuk Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang plastik ke laut terbanyak serta memiliki ibu kota paling berpolusi udara di dunia. Efek dari perubahan iklim tidak instan, tetapi mempunyai efek jangka panjang bagi generasi selanjutnya, termasuk Greta sendiri. Saat ini, bumi telah mencapai situasi di mana manusia tidak mempunyai pilihan apa pun kecuali bertindak untuk mengurangi perubahan iklim.

Secara garis besar, Greta menyampaikan bahwa hidup akan menjadi menakutkan di masa depan jika perubahan iklim tidak terkendali. Ketika anak dan cucu kelak menatap miris dan bertanya pada generasi masa kini, “Kalian ke mana saja ketika perubahan iklim masih bisa diperbaiki?”

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Audrie Safira Maulana

Foto: independent.co.uk

Sumber: tirto.id, Theguardian.com, francetvinfo.fr, merdeka.com