Opini: Keprihatian pada Kemampuan Berbahasa Indonesia Anak Muda

Pendidikan bahasa Indonesia yang kurang mendapat perhatian lebih dari pemerintah maupun masyarakat Indonesia sendiri
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Memperingati hari pendidikan yang jatuh pada tanggal 2 Mei lalu, salah satu dosen Bahasa Indonesia Universitas Multimedia Indonesia (UMN) Niknik M. Kuntarto menuturkan pandangannya mengenai pendidikan dan kemampuan berbahasa Indonesia generasi muda Indonesia.

“Sudah nasib jika pelajaran bahasa indonesia saat ini kurang mendapatkan perhatian yang baik, ini terjadi karena semakin terbukanya Indonesia menerima budaya termasuk bahasa asing,” ucap Niknik.

Ia menguatkan pendapatnya dengan rata-rata nilai Ujian Nasional 2017 tingkat SMA yang masih rendah, sekitar 5,5. Dirinya menambahkan, perkembangan teknologi yang pesat memudahkan siapapun mempelajari bahasa-bahasa asing dari belahan dunia manapun.

“Akibatnya generasi muda berpaling hati kebahasa lain, boleh saja menyukai bahasa lain, namun penguasaan bahasa Indonesianya sendiri haruslah kuat. Ini juga termasuk bahasa daerah, sehingga kemampuan berbahasa Indonesia dan daerah akan bersinergi baik dengan kemampuan berbahasa asing,” lanjutnya. “Nah, yang bahaya jika yang terjadi sebaliknya. Demi mengejar gaya hidup hanya mempelajari bahasa asing tetapi melupakan bahasanya sendiri.” 

Niknik menganggap ada banyak hal yang menyebabkan anak muda kurang mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

“Pertama, mereka merasa bahasa Indonesia sudah digunakan sehari-hari jadi untuk apa belajar bahasa Indonesia lagi,” terangnya.

Menurutnya, generasi muda menganggap bahwa bahasa Indonesia sudah dipelajari secara alami sejak dini dan di sekolah. Alasan-alasan tersebut pada akhirnya membuat mereka merasa sudah menguasai bahasa Indonesia. Padahal, saat memasuki dunia akademik ilmiah dan kerja, mereka akan tersadar belum mempelajari Bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Lalu, peran orangtua dalam mendukung anak-anak mereka. Orang tua umumnya lebih mementingkan anaknya belajar tambahan mata pelajaran seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam, daripada memberi pelajaran tambahan bahasa Indonesia. Cara pandang orangtua inilah yang juga turut memicu kurang minatnya anak muda pada bahasa Indonesia, akibatnya melemah penguasaan bahasa Indonesia pada anak muda.

Ketiga, adanya hubungan dengan peran pemerintah dalam merancang kurikulum pelajaran bahasa Indonesia.

“Sebenarnya Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah merancang dan melahirkan standart kemahiran berbahasa Indonesia yaitu Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI),” jelasnya

Pengujian tersebut memiliki tujuh level yaitu terbatas, marginal, semenjana, madya, unggul , sangat unggul dan istimewa.

“Ketika pemerintah merancang kurikulum yang akhirnya melahirkan silabus dan diwujudkan melalui tujuan pembelajaran dalam materi ajar atau seharusnya disesuikan dengan UKBI. Ada ungkapan dari bahan bahasa, bahasa kita akan terpuji bila teruji, wajibnya pemerintah atau sekolah menyesuaikan materi ajar, evaluasi, jadi pada tingkat pendidikan SD hingga pasca sarjana dengan pelevelan kemahiran dengan alat ukurnya, UKBI,” terang Niknik.

Bersumber dari Badan Bahasa, standartkemahiran berbahasa bagi pelajar dari sekolah dasar pada level marginal akan meningkat seiring tingkat pendidikan hingga tingkat pasca sarjana pada level sangat unggul.

“Menurut saya, permasalahannya terkadang badan bahasa kurang galak dalam menerapkan aturan, mungkin ada berbagai alasan tapi menurut saya seharusnya ada ketegasan dari pemerintah untuk menerapkan kemahiran berbahasa ini yang sesuai dengan pelevelan dan jenjang kemahiran anak didik,” katanya penuh hati-hati dengan meminta maaf dahulu.

Lalu peran guru juga menjadi sebabnya, menurut Badan Bahasa seorang guru bahasa ada pada level unggul.

“Pertanyaannya apakah guru bahasa Indonesia disekolah-sekolah sudah melakukan uji kemahiran? Itu merupakan agenda besar bagi sekolah dan pemerintah,” tegas Niknik

Dosen sekaligus penulis ini menuturkan beberapa cara yang bisa menjadi solusi atas masalah kemapuan berbahasa Indonesia yang benar.

“Hal yang pertama kali dilakukan adalah ketika seorang guru akan menerapkan ilmu pengetahuan apapun kepada siswanya harus terlebih dahulu diterapkan pada dirinya sendiri, itu yang terpenting,” katanya.

Niknik mengimbuhi adanya ungkapan di atas pengetahuan selalu ada seni yang akan menjadikannya lebih indah dan bermakna, begitu pula ketika pengajar menerapkan ilmu dan pengetahuan harus memiliki sesuatu yang bermakna bagaimana caranya mengajarlah dengan seni.

“Bagaimana seorang guru atau dosen mengajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, menulis, berbicara yang menarik jika tidak pernah mengunakan atau kurang peduli pada penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan menunjukan karyanya dalam tulis menulis atau malah tidak bisa menulis, serta menjadi pembicara yang baik dan menarik? Bagimana anak didik mereka bisa percaya dengan mereka?” tanya Niknik.

Dirinya mengungkapkan pengajar bahasa Indonesia menjadi contoh bagi muridnya. Ketika penguasaan bahasa Indonesia dosen baik, ini akan berimbas pada penguasaan bahasa Indonesia yang baik pada mahasiswanya.

“Jadi jika dosen atau guru menerapkan ilmunya pada dirinya terlebih dahulu maka penguasaan berbahasa murid-muridnya akan meningkat, akhirnya akan terciptalah pembelajaran yang menggugah dan mengairahkan,” tutup Niknik melalui WhatsApp.

 

Penulis : Theresia Amadea

Editor : Hilel Hodawya

Foto : plukme.com