SERPONG, ULTIMAGZ.com — Di Indonesia, apa pun yang berhubungan seks masih dianggap tabu. Namun, vaginismus adalah masalah yang sangat umum tetapi jarang dibahas. Keheningan yang melingkupi masalah dan rasa malu yang dialami terkadang menambah kesulitan itu sendiri.
Vaginismus adalah ketegangan atau kontraksi otot yang tidak disengaja di sekitar vagina. Kejang otot yang tidak disengaja ini terjadi ketika sesuatu seperti penis, jari, tampon atau alat medis mencoba menembus vagina. Kejang mungkin sedikit tidak nyaman atau sangat menyakitkan.
Kondisi ini terjadi ketika otot-otot di sekitar pintu masuk vagina berkontraksi tanpa sadar. Ini adalah tindakan refleksif otomatis, perempuan tersebut tidak bermaksud atau berusaha untuk mengencangkan otot-ototnya.
Beberapa perempuan mengalami vaginismus dalam semua situasi dan dengan objek apa pun. Yang lain hanya memilikinya dalam kasus-kasus tertentu, seperti dengan satu pasangan tetapi tidak dengan yang lain, atau mereka mungkin mengalaminya dengan hubungan seksual tetapi tidak dengan tampon atau selama pemeriksaan medis.
Vaginismus diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni vaginismus primer dan sekunder sebagaimana dilansir dari kompas.com. Vaginismus primer terjadi ketika penetrasi vagina tidak pernah tercapai. Sementara vaginismus sekunder merupakan kondisi ketika penetrasi vagina pernah dicapai tetapi tidak mungkin lagi berulang, dan berpotensi karena faktor-faktor seperti operasi ginekologi, trauma, atau radiasi.
“Terkadang baru disentuh sudah kesakitan, enggak sadar dan involunter,” ungkap dokter kandungan, dr. Yassin Yanuar, Sp.OG.
Belum diketahui pasti apa yang bisa menyebabkan vaginismus. Dilansir dari healthdirect.gov.au, ada beberapa kemungkinan penyebab vaginismus. Ini termasuk faktor fisik dan psikologis. Sebut saja trauma saat melahirkan, kondisi medis seperti infeksi saluran kemih (ISK) berulang, infeksi jamur (sariawan), hingga sindrom nyeri kronis.
Demikian juga pemerkosaan, pelecehan seksual atau penyerangan di masa lalu, pemeriksaan yang menyakitkan di masa lalu, hubungan seksual yang tidak menyenangkan, takut hamil, dan takut vagina mungkin terlalu kecil untuk penetrasi.
Melansir dari detik.com, hingga kini belum diketahui berapa jumlah pengidap vaginismus di Indonesia. Namun, mengacu pada angka di Amerika Serikat, jumlahnya mencapai 7% hingga 17% dari populasi perempuan negara tersebut.
Hal-hal seperti ini seringkali tidak dibicarakan dan pesan menakutkan disampaikan tampak dirancang untuk mengontrol seksualitas anak perempuan. Terlebih lagi, menekankan bahwa anak perempuan harus menjauh dari anak laki-laki, atau bahwa reputasi anak perempuan dapat rusak dan hancur oleh kehamilan.
Keheningan seputar masalah seksual terlalu dinormalisasikan, sehingga baik perempuan maupun laki-laki sulit berbicara dengan saudara atau teman baik tentang masalah seksual.

Stigma yang Terus Dihadapi Pengidap Vaginismus
Namun, bukan berarti seseorang yang memiliki penyakit ini lantas terbebas dari stigma. Bahkan untuk urusan kemaluan pun, stigma hingga persepsi gender dari lingkungan sekitar tetap menggerogoti seorang perempuan. Hal tersebut tentu saja berdampak pada kondisi psikis pengidap vaginismus.
Mengutip detik.com, Psikiater Elvine Gunawan mengungkapkan hampir semua perempuan dengan vaginismus datang ke ruang praktiknya dengan kondisi kejiwaan yang sudah hancur.
Menurut Elvine, stigma yang ada begitu kuat untuk perempuan, pasangannya, dan keluarga. Salah satunya mengenai konsep bahwa perempuan harus melayani suami. Sehingga, ketika tidak bisa melayani, sang perempuan dianggap sebagai suatu kedurhakaan.
“Ini yang menyebabkan ketika datang sering kali konsul dirujuk dan dia merasa ‘saya wanita tidak utuh, saya wanita yang sangat berdosa kepada suami saya’. Ini menjadi gambar diri dia yang dibawa seumur hidupnya selama proses pernikahan,” papar Elvine.
Parahnya, terdapat pula pasien yang berpikir lebih baik mati dibanding punya penyakit seperti ini.
Selama ini, masyarakat membingkai seks sebagai suatu tindakan melayani kesenangan penis heteroseksual. Dengannya, tindakan seksual yang tidak sejalan dengan bingkai tersebut dinilai menyimpang atau kurang dari apa yang sepatutnya terjadi, termasuk bagi pengidap vaginismus.
Pandangan kaku tentang seksualitas ini jadi membatasi eksplorasi seksual kita, dan memperparah stigma yang sudah dihadapi oleh orang-orang yang terpinggirkan. Perlu digaris bawahi, yang salah bukanlah penyakitnya, melainkan pandangan buruk dan mispersepsi yang salah terhadap pengidap vaginismus.
Stigma dan mispersepsi semacam ini sepatutnya menimbulkan pertanyaan di benak kita semua. Apakah nilai seorang perempuan terbatas pada kemampuannya di atas ranjang dan melayani pasangannya? Mengapa sesuatu yang berhubungan dengan penyakit seksual harus dianggap penyimpangan ketika itu merupakan kondisi yang tidak bisa kita tolak eksistensinya?

Pentingnya Pendidikan Seksual Terhadap Kondisi Vaginismus
Kesulitan ini mungkin telah diperparah oleh kurangnya pendidikan seks di Indonesia. Yang mungkin telah tercakup dalam kelas biologi pun masih kurang komprehensif sehingga mengabaikan pendidikan pada aspek emosional atau hubungan seks.
Stigma negatif yang ada telah melingkupi diskusi tentang masalah seksual yang mungkin membuat para perempuan yang mengalami kesulitan seksual merasa malu dan terisolasi.
Tidak ada yang salah ketika seorang perempuan mengidap vaginismus, tetapi justru ada yang salah ketika masyarakat memberikan penilaian buruk seolah-olah pengidap lebih rendah daripada yang lain.
Tidak sulit untuk merangkul sesama perempuan. Sekalipun terdapat kondisi yang membuat kita merasa ‘berbeda’ dari yang lain, bukan berarti seorang wanita tidak bisa berdaya. Kekurangan dan kelebihan yang kita miliki masing-masing tetap mampu membuat wanita berdaya dan berdampak.
Vaginismus merupakan salah satu dari banyaknya penyakit yang berhubungan dengan seksualitas. Dengannya, penting untuk mengangkat hal ini karena masih banyak yang hidup diselubungi rasa malu dan kerahasiaan.
Sex education menjadi langkah penting bagi kita supaya dapat mengetahui tentang tubuh dan mengevaluasi kembali konsep yang kita pahami tentang kehidupan seks yang sehat, menyenangkan, dan penuh tanggung jawab.
Penulis: Andia Christy (Jurnalistik 2019), Alycia Catelyn (Jurnalistik 2020)
Editor: Andi Annisa Ivana Putri
Foto: Elisha Widirga
Sumber: kompas.com, detik.com, healthdirect.gov.au, hellosehat.com, my.clevelandclinic.org