Mengapa Manusia Dapat Mencintai?

cinta
Ilustrasi pasangan jatuh cinta (Foto: lifestyle.cybertecz.in)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.comUltimates sering dengar ‘kan kalau cinta itu indah, tetapi juga menyakitkan? Ada yang bilang juga kalau cinta itu seperti sebuah seni sejak banyak orang mengungkapkan rasa cintanya lewat lagu, tulisan, dan lainnya. Namun, sebenarnya kenapa, sih, manusia dapat mencintai?

Cinta merupakan bahasan yang menarik sekaligus misterius. Cinta kadang bisa datang secara tiba-tiba, tetapi dapat pula melintasi proses yang panjang. Cinta juga tak dapat selalu dimengerti oleh manusia karena impaknya yang dapat membuat seseorang berubah, bertahan, dan berpisah.

Ilmu Pengetahuan tentang Cinta

Berdasarkan sebab dan akibat, jatuh cinta dapat terjadi karena hormon yang dimiliki manusia, menjadikan cinta sebagai sesuatu yang alamiah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hellen Fisher, jatuh cinta dibagi menjadi tiga bagian, yakni nafsu, daya tarik, dan keterikatan.

Nafsu datang dari pengaruh hormon testoteron dan estrogen. Kedua hormon ini menyebabkan libido dan sikap agresif seseorang meningkat. Hal ini menimbulkan kecenderungan manusia untuk mengejar seseorang yang disukai. Walau nafsu terjadi secara natural, manusia juga memiliki sentimen yang dapat mengontrol nafsunya terhadap orang lain.

Daya tarik dapat tercipta karena tiga jenis hormon, yaitu dopamin, norepinefrin, dan serotonin. Hormon dopamin, atau yang biasa disebut sebagai reward hormone, diproduksi saat manusia merasakan rasa nikmat saat bertemu dengan orang yang dicintai. Di sisi lain, norepinefrin dan serotonin menimbulkan euforia akibat kasus serupa.

Menariknya, ketika manusia memiliki ketertarikan kepada seseorang, otak manusia mengeluarkan reaksi yang sama saat kecanduan narkoba. Maka dari itu, ketertarikan dapat membuat manusia kecanduan dengan orang tersebut.

Terakhir, keterikatan disebabkan oleh hormon oksitosin dan vasopresin. Keduanya memicu manusia untuk melakukan kegiatan yang memunculkan sebuah ikatan dengan orang lain, seperti berhubungan seksual.

Bisakah Cinta Dikaitkan dengan Psikologi?

Melansir kompas.com, cinta (romantic feeling) dalam psikologi dimasukkan ke dalam kategori emosi. Banyak penilitian psikologis mengaitkan jatuh cinta dengan emosi dan perasaan.

Alan S. Cowen dan Dachner Keltner mengelompokkan emosi ke dalam 27 kategori. Beberapa di antaranya adalah perasaan romantik (romance), takut (fear), dan cemas (anxiety).

Ketika kita jatuh cinta, tanda-tanda fisik umumnya muncul, seperti susah tidur, grogi berat, dan detak jantung meningkat. Gejala fisik ini serupa dengan gejala yang muncul ketika manusia menghadapi sesuatu yang mendesak, seperti mengikuti ujian nasional, wawancara kerja, atau melakukan sidang skripsi. Gejala yang sama juga muncul kala menonton film horor sendirian di rumah pada tengah malam.

Baca juga: Berencana Tidur Larut Malam? Kenali Dulu Bahaya Kurang Tidur

Ini membuktikan bahwa sebenarnya ketiga macam emosi ini–cinta, takut, dan cemas–memiliki gejala fisiologis yang sama. Uniknya, manusia bisa mencampuradukkan ketiganya tanpa sadar. Fenomena ini dinamakan “misattribution of arousal”.

Fenomena ini pertama kali diteliti pada 1974 oleh Donald G. Dutton and Arthur P. Aron, profesor psikologi dari State University of New York dalam penelitian bernama “Eksperimen Jembatan Cinta (Love Bridge Experiment)” yang diikuti oleh 199 laki-laki lajang.

Para lelaki tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diharuskan berdiri pada sebuah jembatan besi solid sepanjang tiga meter, sedangkan kelompok lainnya berdiri pada sebuah jembatan gantung sepanjang 140 meter dengan tinggi 70 meter yang bergoyang diterpa angin kencang.

Saat berdiri di atas jembatan, semua peserta diminta mengisi kuesioner oleh seorang wanita cantik dengan penampilan menarik. Wanita ini mengaku sebagai seorang mahasiswi psikologi yang butuh bantuan menyelesaikan tugas kuliahnya. Selain mengisi kuesioner, peserta eksperimen juga diminta merespons sebuah gambar dari sebuah tes psikologi proyektif, Thematic Apperception Test (TAT).

Hasil dari penelitian ini adalah kelompok laki-laki kedua mengalami respons emosi lebih kuat daripada kelompok pertama, yaitu fusi rasa takut karena tidak yakin dengan kekuatan jembatan yang terus bergoyang, rasa cemas karena berdiri cukup lama, juga rasa tertarik kala bertemu wanita cantik.

Setelah melewati jembatan, emosi mengerucut menjadi satu, yaitu rasa tertarik dengan gejala fisiologis tiga kali lipat.

Perspektif Filsafat

Melansir betangfilsafat.org, Plato menjelaskan proses jatuh cinta menurut ilmu filsafat. Menurutnya, cinta adalah sebuah kekuatan, sebuah penggerak untuk selalu mengarah kembali ke Sang Idea. Di dunia, jiwa manusia adalah pengembara yang berjalan untuk kembali kepada Sang Idea untuk kembali pada kesatuan aslinya. Maka dari itu, manusia membutuhkan cinta karena cinta dapat memberi penghidupan juga penyegaran jiwa yang lelah menggembara.

Plato menilai, manusia-manusia terbaik adalah mereka yang memiliki cinta di dalam dirinya. Mereka yang jatuh cinta senantiasa mencari cara untuk menjadi versi terbaik diri dan akhirnya menemukan kebijaksanaan. Oleh karenanya, cinta menggerakkan manusia menemukan hal terbaik bagi hidupnya.

Di sisi lain, filsuf Paul Tillich merasa, cinta merupakan kekuasaan yang menggerakkan kehidupan. Kehidupan bukan berada dalam ranah “maya”, melainkan “nyata”. Hakikat ontologis cinta sendiri adalah permulaan dari sesuatu yang ada (kehidupan). Tanpa cinta, sesuatu yang ada akan menjadi tidak ada.

Dalam hidup, cinta menjadi pengikat yang menyatukan segala sesuatu. Cinta bukan berarti menyatukan apa yang terpisah, melainkan apa yang utuh sejak awal. Contohnya, jalinan relasi antarmanusia yang menjadi dasar komunitas tercipta karena cinta yang menggerakkan mereka untuk berkumpul. 

Sering kali, manusia diajarkan bahwa cinta memiliki banyak jenis berbeda seperti Eros dan Agape. Padahal, pada hakikatnya cinta adalah satu dan hanya sifatnya yang beragam. Keberagaman sifat cinta ini tidak menjadikan cinta dalam jenis yang berbeda.

Cinta dan Kebebasan

Pernah tidak mempertanyakan, mengapa seseorang yang menyukai kebebasan tetapi tetap memilih untuk mencintai? Padahal, dengan manusia mencintai, akan ada beberapa batasan baru, seperti tidak mencari orang lain dan harus mampu menjaga perasaan pasangan.

Beberapa orang mungkin akan menjawab, “Karena ketika bertemu dengan orang yang tepat, dia akan memberikan kebebasan” atau “Karena bersama dengan orang yang tepat, kamu akan melakukan segala hal tanpa merasa terbebani”.

Baca juga: Belajar Konsep Terima dan Cintai Diri dalam Jalin Hubungan Percintaan

Namun, sebenarnya apa, sih, makna bebas dalam hidup ini? Bukankah manusia memang perlu sebuah batasan, seperti peraturan dan undang-undang agar tidak bertabrakan dan merugikan orang lain?

Manusia mencintai karena membutuhkan batasan. Dengan mencintai, arah seseorang dapat terbentuk untuk kemudian mengetahui ke mana dirinya harus melangkah. Hal ini karena sedari kecil manusia memang sudah dibatasi dengan dikte tentang apa yang baik dan buruk, juga apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan.

Maka dari itu, insting manusia menganggap bahwa batasan merupakan hal yang wajar. Justru, kalau diberikan satu hari untuk melakukan apa saja yang diinginkan tanpa sebuah batasan, manusia akan bingung dan kehilangan arah.

Selain itu, mencintai seseorang juga dapat dijadikan motivasi untuk mencapai mimpi secara bersama-sama. Manusia juga suka diberi kontrol, merasa bahwa memiliki seseorang untuk diri sendiri adalah hal yang membahagiakan.

Akhir kata, mencintai seseorang memanglah bagian dari proses kehidupan, tetapi perlu diingat bahwa mencintai secara berlebihan tidaklah baik. Manusia juga perlu mencintai dirinya sendiri sama besarnya dengan mencintai orang lain.

 

Penulis: Keisya Librani Chandra

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: lifestyle.cybertecz.in

Sumber: Neuron, betangfilsafat.org, kompas.com