Mengenal Toxic Relationship dalam Relasi Pacaran

Ilustrasi toxic relationship.
Ilustrasi toxic relationship. (Foto: pro.psychcentral.com)
Share:

“We’re in a very weird and strange relationship,

We crush each other (Crush),

And hug each other (And hug)”

– Red Velvet, Psycho

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sepenggal lagu Psycho milik Red Velvet, salah satu girlband asal Korea Selatan, memberikan sedikit gambaran kepada kita tentang bagaimana rasanya masuk ke dalam toxic relationship, spesifiknya dalam berpacaran. Hubungan cinta sendiri merupakan hal yang lumrah di kalangan manusia, terlebih remaja.

Mengutip pendapat Sternberg (1988) yang tercantum dalam buku berjudul “The Interpersonal Communication Book” karya Joseph A. Devito, cinta adalah sebuah perasaan yang dibangun dari kedekatan dan kepedulian, juga intimacy, passion, dan komitmen. Rasa cinta sendiri merupakan rasa yang kemudian membuat orang yang merasakannya, ingin terus hidup bersama dengan orang yang ia cintai, dan membahagiakan orang itu. Tadinya, cinta hanya sepolos itu.

Rasa ingin bersama dengan orang yang dicintai kemudian membuat orang yang jatuh cinta memberikan label ‘miliknya’ kepada pasangannya. Mereka pun menjadi pasangan kekasih. Namun, manusia tak luput dari masalah. Masalah datang dari berbagai sumber, entah dari luar maupun dari dalam diri, disadari maupun tidak disadari, dan memengaruhi hubungan seseorang dengan pasangan. Toxic relationship merupakan salah satu contoh dari bagaimana kemudian sebuah masalah memengaruhi hubungan seseorang dengan pasangannya.

Pengertian Toxic Relationship

Dilansir dari time.com, menurut Dr. Lilian Glass toxic relationship sendiri diartikan sebagai setiap hubungan antar orang yang tidak saling mendukung, menunjukkan konflik dalam hubungan ketika satu orang berusaha untuk merusak pasangannya. Hal tersebut biasanya ditunjukkan oleh adanya persaingan, tidak hormat dan kurangnya kekompakan.

Selain itu, Glass juga mengatakan bahwa toxic relationship membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya merasa lelah dan tidak nyaman secara berkepanjangan, sampai pada titik momen negatif mengalahkan momen positif.

Salah satu psikolog di bidang klinis, Rebeka Pinaima mengatakan setiap individu memiliki nilai yang dipercayai. “Seseorang, in every kind of dating relationship, itu tahu betul mana yang menjadi value dia sehingga ketika dia bertemu sama seseorang, dia memastikan value-nya sama atau tidak dengan pasangannya,” ujar Rebeka kepada tim Ultimagz.

Selain itu, Rebeka juga mengatakan jika seseorang sudah menyadari kalau pasangannya melanggar value yang dipegang, contohnya posesif berlebih atau kekerasan, hal pertama yang bisa dilakukan adalah mengomunikasikan hal itu terlebih dahulu. Rebeka juga menghimbau dalam suatu hubungan, dibutuhkan boundaries sebagai tahap pencegahan seseorang masuk ke dalam toxic relationship.

Tanda Hubungan Masuk ke Toxic Relationship

Menurut psikolog keluarga Anna Surti Ariani (Nina) terdapat beberapa gejala yang menunjukkan hubungan yang toksik. “Ada banyak tanda toxic relationship, contohnya gini, relationship itu seharusnya take and give. Tapi, ada yang terus-terusan minta, tapi ga ngasih. Contohnya kayak ngutang mulu, tapi gapernah bayarin pasangannya, atau menuntut terus,” ujar Nina.

Darlene Lancer, dalam psychologytoday.com memberikan tanda-tanda hubungan yang sedang dijalani merupakan toxic relationship:

  • Merasa sangat lelah (terkuras), bukannya dipedulikan saat bersama pasangan.
  • Perilaku dimotivasi oleh rasa takut, marah, atau bersalah kepada pasangan.
  • Kebutuhan dan perasaan diabaikan oleh pasangan.
  • Merasa ‘berjalan di atas kulit telur’ karena takut mengecewakan pasangan.
  • Sering merasa digunakan, dieksploitasi, atau tidak dihargai oleh pasangan.

Penyebab dan Dampak Toxic Relationship

Mengutip pendapat Dr. Kristen Fuller dalam time.com, toxic relationship dapat merusak mental, emosi, bahkan fisik salah satu atau kedua orang yang terlibat dalam hubungan tersebut. Fuller berpendapat, orang-orang yang dengan atau tanpa disadari, menyakiti pasangannya secara konsisten, sering memiliki alasan dari perilaku tersebut, walaupun kadang hal itu tidak disadari.

“Mungkin mereka pernah berada dalam hubungan yang beracun, baik secara romantis maupun sebagai anak-anak. Mungkin mereka tidak memiliki pendidikan yang mendukung dan penuh kasih, ”ujar Fuller.

Sementara itu, Nina berpendapat bahwa penyebab seseorang kemudian melakukan dan menerima perilaku toxic dari pasangannya relatif sama. Nina mengatakan bahwa pada intinya, faktor seseseorang menerima dan melakukan perilaku toxic adalah karena adanya pengalaman buruk di masa lalu, sehingga orang tersebut tidak memiliki contoh membangun hubungan yang baik. Selain itu, self esteem seseorang juga berpengaruh kepada kesadaran toxic relationship.

“Sebenarnya, baik pelaku maupun korban, self esteem-nya kurang oke. Kalau dia self esteem-nya bagus, maka ketika ia sampai masuk ke toxic relationship, ia akan berusaha lepas karena ia sadar kalau hal itu gak sehat untuk dirinya,” ujar Nina dalam wawancara, Rabu (11/3/2020).

Menghadapi Toxic Relationship

Thomas L. Cory, Ph.D. dalam healthscopemag.com mengungkapkan ketika menghadapi toxic relationship, perlu diingat bahwa kita tidak bisa mengubah pasangan. Namun, kita bisa mengubah diri kita yang kemudian akan mengarahkan perubahan perilaku kita kepada pasangan, yang kemudian membuat pasangan kita kemudian memutuskan untuk mengubah perilakunya.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi perilaku toxic yang dilakukan oleh pasangan. Setelah itu, kita harus bisa mengkomunikasikan kepada pasangan bahwa perlakuannya tidak bisa kita terima lagi. Barulah kemudian kita mencari jalan keluar yang cocok untuk tetap mempertahankan hubungan, tetapi tidak membuat kita kehilangan kewarasan karena lelah dan stres yang berkepanjangan.

“Untuk semua relationship sebaiknya dibicarakan dulu, bukan hanya bicara, tapi juga dari kesepakatan yang ada coba dilakukan. Namun, bila kesepakatan tersebut sering dilanggar, maka harus mulai dipikirkan untuk melepaskan itu,” kata Nina.

Selain itu, Nina mengatakan bahwa kita membutuhkan support system yang baik untuk menyelesaikan toxic relationship, entah dari keluarga atau teman.

Memiliki hubungan toxic relationship bukan berarti kita harus memutuskan pasangan. Hal itu harus dilakukan jika pasangan sudah melakukan hal yang terlalu parah, seperti bersikap abusive dan mengancam. Namun, ada pula orang yang kemudian mampu mengubah sikap toxic-nya demi orang yang ia sayangi.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengidentifikasi pasangan kita adalah orang yang seperti apa. Dibutuhkan komunikasi dan komitmen untuk memperbaik toxic relationship. Selain itu, support system yang baik merupakan hal yang wajib kita miliki untuk menemukan arah dari penyelesaian masalah toxic relationship. Ketiga unsur itu kemudian bahu-membahu membantu kita menyelesaikan permasalahan toxic relationship ini.

“When being in a toxic relationship in life at times you may have to step outside yourself, to see yourself, so you can find yourself and love yourself again.”

― Angel Moreira

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena V.

Editor: Agatha Lintang Kinasih 

Sumber: time.com, healthscopemag.com, psychologytoday.com

Foto: pro.psychcentral.com