Opini: Apakah Ada Alasan Rasional untuk Membenci Kelompok LGBTQ+?

(Foto: istockphoto.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Isu mengenai seksualitas kerap kali masih menjadi kurang akrab di telinga publik. Namun, membicarakan isu seksualitas mau tidak mau, akan menjadi terus relevan dan tidak akan hilang dalam waktu dekat.

Dalam waktu dua bulan sejak 2020 dimulai, banyak terjadi peristiwa yang menyasar isu seksualitas, baik di Indonesia maupun luar negeri. Misalnya kasus pemerkosaan predator seks Reynhard Sinaga dan Swiss yang membuat referendum agar diskriminasi berbasis orientasi seksual menjadi ilegal.

Baca juga: Swiss Buat Referendum agar Diskriminasi Kelompok LGBTQ+ Ilegal

Walaupun kasus Reynhard Sinaga lebih mengarah pada kekerasan seksual, membicarakan bagaimana butanya publik mengenai seksualitas masih menjadi relevan. Hal ini dikarenakan kasus tersebut memprovokasi narasi kebencian dan diskriminasi terhadap kelompok LGBTQ+ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer, dan lainnya).

Sebagai contoh wacana Walikota Depok untuk merazia kelompok LGBT karena kasus kekerasan seksual yang dilakukan Reynhard Sinaga. Tentunya, alasan tersebut tidak berdasar karena kekerasan seksual tidak eksklusif dilakukan orang yang menyukai sesama jenis, tetapi juga dilakukan oleh orang heteroseksual.

Sayangnya, publik belum banyak mengetahui ilmu untuk mengkritisi wacana diskriminasi tersebut. Oleh karena itu, menjadi penting untuk membedah banyak persepsi publik yang kurang tepat yang digunakan untuk membenarkan prasangka negatif, perundungan, kebencian, dan diskriminasi kepada kelompok minoritas seksual. Apakah ada alasan rasional untuk membenci kelompok LGBTQ+?

“Orang LGBT akan Melakukan Pemerkosaan”

Argumen ini adalah Hasty Generalization Fallacy yang biasanya muncul ketika kasus pemerkosaan seperti yang dilakukan Reynhard Sinaga muncul. Dilansir dari  logicallyfallacious.com, fallacy atau sesat pikir tersebut artinya membuat kesimpulan berdasarkan jumlah sampel yang kecil daripada melihat angka statistik yang lebih relevan dengan situasi sekarang.

Faktanya, berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2019, kekerasan di ranah privat terhadap perempuan dan anak perempuan, baik dalam ranah rumah tangga maupun di luar rumah tangga adalah kasus yang dominan dilaporkan. Jumlah kasus tertinggi adalah Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), diikuti oleh Kekerasan dalam Pacaran (KDP), dan ketiga inses. Oleh karena itu, pernikahan hanya legal bagi pasangan lawan jenis, mengasumsikan kasus tertinggi dilakukan oleh orang heteroseksual menjadi masuk akal.

Hal ini tidak membenarkan tindakan pemerkosaan, tetapi menunjukkan bahwa orientasi seksual tidak berperan sebagai motif kekerasan seksual seperti pemerkosaan. Lantas apa yang menyebebkan pemerkosaan terjadi?

Studi 2016 dari organisasi perempuan Rifka Annisa menjelaskan, ada faktor tunggal penyebab kekerasan terhadap perempuan, yaitu faktor sosial budaya yang disebabkan budaya patriarki dan ketimpangan gender. Singkat kata, relasi kuasa yang terjadi antara pelaku dan korban yang terlibat, sebagaimana yang dilansir dari kompas.com.

“LGBT adalah Penyakit Jiwa dan Menular”

Di dunia kedokteran, pakar neurologi Ryu Hasan sudah menyampaikan kepada media berulang kali bahwa orientasi seksual bukan termasuk penyakit. Melansir kompas.com, dalam singkatan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender), hanya T dari transgender yang harus ditangani oleh dokter agar seseorang bisa nyaman dengan identitas seksualnya, tetapi tidak mengubah orientasi seksual orang tersebut. Selain itu, buku panduan diagnosis dan statistik psikiatri (DSM) menyatakan bahwa orientasi seksual bukan penyakit sejak tahun 1973.

Selain itu, orientasi seksual bukanlah penyakit jiwa. Faktanya, penyakit jiwa atau yang seharusnya lebih pantas disebut gangguang jiwa (ODGJ) tidak bisa menular. Dilansir dari hellosehat.com, gangguan jiwa merupakan penyakit yang memengaruhi otak sehingga menggangu keseimbangan kimiawi. Orang yang depresi atau memiliki trauma tidak bisa menularkan masalah milik mereka kepada orang lain.

“Kelompok LGBT rentan mengalami gangguan mental, maka LGBT adalah penyebabnya”

Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dwi Estiningsih sempat membuat Twitter gaduh karena mencomot berbagai kutipan jurnal ilmiah untuk mendorong narasi anti-LGBT (06/12/19). Singkat kata, kader PKS itu mengutip jurnal seperti artikel Jaime M. Grant berjudul “Injustive at Every Turn” yang menyatakan bahwa 93,8 persen LGBT mempunyai setidaknya satu gangguan kepribadian. Dengan demikian, Estiningsih menyimpulkan bahwa LGBT itu adalah penyebab gangguan tersebut.

Selain itu, Estiningsih juga mengutip artikel Brian Mustanski berjudul Mental Health Disorders, Psychological Distress, and Suicidality in Diverse Sample of Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender Youtihs. Estiningsih mengutip, sejumlah 17 persen LGBT mengalami conduct disorder, 15 persen depresi berat, 9 persen Post-traumatic stress disorder (PTSD), dan 31 persen percobaan bunuh diri.

“Itu adalah interpretasi yang salah terhadap hasil kerja saya. Kami telah menunjukkan bahwa disparitas kesehatan mental didorong oleh kondisi sosial yang menentukan (contoh: bullying, kebijakan anti-gay). Orang-orang LGBTQ secara inheren BUKAN suatu gangguan,” tulis Brian, salah satu penulis artikel jurnal itu sendiri menanggapi cuitan Estiningsih.

Maka dari itu, yang menyebabkan orang LGBTQ+ menderita gangguan mental karena disebabkan reaksi sosial yang diskriminatif, bukan LGBTQ+ itu sendiri.

Sebenarnya, argumen ini juga sudah memiliki contoh kecacatannya dalam sejarah Amerika Serikat. Yuval Noah Harari melalui bukunya, “Sapiens”, menuliskan bahwa pada 1865 dulu, orang berkulit putih di Amerika Serikat percaya bahwa orang berkulit hitam kalah cerdas, lebih kasar, lebih malas, dan tidak peduli soal kebersihan pribadi daripada orang berkulit putih. Hal itu ‘dibuktikkan’ melalui realita sosial dan tes yang menunjukkan bahwa orang berkulit hitam tidak bekerja dan tidak cerdas.

Kenyatannya, orang berkulit hitam tidak bisa mengakses pekerjaan dan pendidikan karena diskriminasi, bagaimana bisa mereka menjadi cekatan dan cerdas? Hal ini sama dengan kelompok LGBTQ+. Kalau mareka sering dirundung, bahkan dijadikan kambing hitam politik terus-menerus, bagaimana mungkin mereka tidak merasa terganggu?

“Tidak ada orang LGBT yang berakhir bahagia”

Faktanya, banyak orang LGBTQ+ yang menduduki posisi penting di dunia. Tim Cook, CEO Apple, adalah seorang homoseksual. Selain itu, perdana menteri Finlandia sekarang merupakan putri dari pasangan orangtua sesama jenis.

Seperti pembahasan sebelumnya, orientasi seksual tidak berhubungan dengan kesehatan mental maupun kebahagiaan mereka. Pada kenyataannya, mereka mengalami penderitaan karena masyarakat yang tidak mau menerima mereka apa adanya tanpa dasar yang jelas.

Misalnya, Matematikawan Alan Turing, pionir sains komputer. Ia memecahkan kode tantara Nazi dan membantu sekutu untuk memenangkan perang dunia ke-2, tetapi berujung membunuh dirinya sendiri setelah dikriminalisasi karena orientasi seksual homonya. Sekarang, Alan Turing dianggap sebagai pahlawan dan wajahya diabadikan dalam mata uang Inggris, seperti yang dikutip dari Aljazeera.com.

Oleh karena itu, sebenarnya kebencian terhadap LGBT sangat kontraproduktif. Ketika seharusnya semua orang diberdayakan, masih banyak diskriminasi yang terjadi kepada kelompok LGBTQ+ di Indonesia. Padahal, mereka adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang mempunyai hak sebagai warga negara sehingga memiliki kesempatan kerja dan hak bersuara yang setara.

Jadi, apakah ada alasan rasional untuk membenci kelompok LGBTQ+? Sejauh ini dalam sains atau dunia kedokteran, jawabannya adalah tidak ada.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha, Jurnalistik 2017

Editor:  Agatha Lintang 

Sumber: komnasperempuan.go.id, kompas.com, hellosehat.com, “Sapiens” oleh Yuval Noah Harari, aljazeera.com

Foto: istockphoto.com