Opini: Malfungsi Kemanusiaan di Jantung Merah Putih

Share:

Kita duduk bersandingan,

menyaksikan hidup yang kumal.

Dan perlahan tersirap darah kita,

melihat sekuntum bunga sedang mekar,

dari puingan masa yang putus asa. – WS Rendra, Sajak Widuri untuk Joki Tobing

SERPONG, ULTIMAGZ.com–Gemuruh teriakan massa serta tangan yang sibuk pukul sana-sini tanpa peduli cipratan darah mengalir dari tubuh seseorang menjadi saksi bahwa Indonesia masih terpuruk dalam penyakit lamanya: malfungsi kemanusiaan. Terekam jelas dalam video amatir berdurasi kurang lebih 60 detik, Haringga Siria menjadi korban sebuah pengecilan dan pelecehan kemanusiaan di masa yang ‘merdeka’ ini.

Sebuah tamparan keras bagi Indonesia dan kemanusiaannya terjadi pada Minggu (24/09/18). Hanya karena perbedaan, nyawa berharga Haringga Sirila dipaksa meninggalkan raganya dengan dihujani makian dan pukulan biadab sana-sini. Apa kita akan kembali pada masa-masa paling putus asa dalam sejarah Indonesia?

Jika memilih dua masa paling putus asa dalam sejarah Indonesia, maka tragedi ’65 dan ’98 akan jadi menu utama. Pada masa itu, nyawa manusia dianggap sebagai sebuah hal remeh-temeh. Pada Indonesia ’65, sosok manapun yang dianggap ‘terlalu kiri’ dan tidak sejalan dengan pemerintah yang berkuasa kala itu akan ‘diamankan’. Para tahanan politik (tapol) dan keluarganya didera rasa takut dengan ancaman verbal, fisik, psikologis, hingga seksual. Para tapol, eks-tapol, dan keluarganya dianggap sebagai manusia kotor yang tidak sederajat dengan masyarakat tanpa cap.

Dalam sebuah artikel BBC bertajuk Saya Dituduh Anggota Gerwani yang Mencukil Mata Jenderal, seorang perempuan bernama Deborah Sumini menceritakan perlakuan biadab pemerintah kala itu kepada masyarakat yang dianggap sebagai oknum Partai Komunis Indonesia (PKI) selama lima bulan ditahan.

“Karena saya tidak melakukannya, saya tidak mengakuinya. Kemudian, saya disiksa. Penyiksanya sampai 10 orang. Kaki saya diletakkan di bawah kaki meja, kemudian meja itu diinjak mereka,” ucap Deborah seperti dikutip dalam artikel tersebut.

“Dalam kondisi tidak sadar, saya kemudian ditelanjangi. Lalu, tubuh saya disundut dengan puntung rokok dan dialiri listrik. Saya baru tahu saya ditelanjangi setelah terbangun dan mengetahui pakaian saya sudah diganti,” tambahnya.

Tak hanya dirinya seorang yang merana menjadi seorang tapol. Pun, kehidupan orang-orang terdekatnya juga ikut tenggelam dalam kekelaman. Dari lansiran yang sama, perempuan kelahiran 1942 ini mengaku anaknya yang memiliki nilai baik bahkan tak mendapat peringkat di sekolahnya karena cap anak eks-tapol lekat menempel.

Peristiwa berdarah dan penyiksaan yang menunjukkan malfungsi kemanusiaan juga terjadi pada Indonesia ’98. Kali ini bukan sentimen terhadap komunis saja, rasa sentimen diperluas kepada semua orang yang dianggap ‘mengancam’ pemerintahan Soeharto kala itu.

Berbagai penculikan dan penembakan misterius terjadi, terutama di kalangan mahasiswa yang gemar menyerangkan protes dan amarah kepada pemerintahan Soeharto yang dinilai korup dalam bentuk tulisan, sajak, atau demonstrasi. Kesaksian para korban penculikan ’98 membuktikan seberapa besar kemungkinan manusia menjelma menjadi sosok yang jauh dari citra Allah itu sendiri.

Melansir dari CNNIndonesia.com, artikel bertajuk Kisah Mencekam Mugiyanto Korban Penculikan 1998 Dekati Maut mampu memberikan secuil gambaran akan penyiksaan yang kerap diterima mahasiswa dan aktivis oleh oknum pemerintah yang seharusnya melindungi masyarakat sipil.

“Begitu mereka enggak suka dengan jawaban saya, saya langsung dihajar, disiksa, setelah sebelumnya mendapat pukulan. Saya juga disetrum, dihajar. Muka saya hancur. Bibir dan mulut saya enggak bisa makan,” ungkapnya dalam artikel tersebut.

Tak hanya itu, Mugi juga harus bertahan untuk tidak memberi tahu tempat persembunyian aktivis mahasiswa lainnya. Ia mengaku, batas antara mengompromikan ketahanannya menghadapi rasa sakit dengan tujuan melindungi kawan supaya tidak ditangkap itu paling berat. Belum lagi, ia harus mendengarkan teriakan dan lenguhan pedih teman-temannya yang juga disiksa dalam ruangan yang sama.

Meski terseok-seok, Indonesia berhasil melewati dua masa kelam ini. Masa reformasi bahkan sudah dimulai sejak 20 tahun silam. Munculnya sosok pemimpin baru dan program Revolusi Mental Joko Widodo menawarkan bangsa ini sebuah harapan untuk membangkitkan kembali kemanusiaan yang tercederai pada ’65 dan ’98.

Melewati bukan berarti tidak menghadapi kembali. Bisa saja yang lewat itu kembali datang untuk menguji kembali apakah kita sudah benar-benar ‘sembuh’. Apakah setelah 73 tahun Indonesia merdeka dengan berbagai rentetan sejarah masih membuat masyarakatnya menganggap nyawa seseorang semurah harga kacang rebus?

Haringga Sirila tidak pergi dengan sia-sia. Kepergiannya menyuguhkan sebuah cermin besar untuk masyarakat dan pemerintah Indonesia bahwa level penghargaan kemanusiaan masih mengalami malfungsi yang setali tiga uang seperti tahun ’65 dan ’98. Sudah layak dan sepantasnya, setiap nyawa tidak dianggap sebagai sebuah objek yang mudah diatur dan disingkirkan bak pion catur. Setiap nyawa berharga karena setiap manusia adalah aset berharga bangsa, tanpa terkecuali.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?

Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan,

ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka. – WS Rendra, Aku Tulis Pamflet Ini

 

Penulis: Diana Valencia, mahasiswi Jurnalistik UMN angkatan 2015

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: PSSI.org