“Dekat dan Nyaring”: Melihat Kemiskinan Sehari Penuh

Sampul depan buku Dekat dan Nyaring
(Foto: goodreads.com)
Share:

“Kalau kau pernah mencintaiku, tundalah kelegaan yang ditawarkan kematian dan hiduplah cukup lama di dunia yang ganas ini untuk menceritakan kisahku.”

– Hamlet, Babak 5, Adegan 2

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Di tengah masyarakat urban seperti Jakarta, kemiskinan sebenarnya begitu dekat dan nyaring. Ia terhimpit di antara gedung-gedung tinggi dan pemukiman elit, di balik tembok pemisah yang umumnya tak lebih dari tujuh meter. Paling tidak, ironi itulah yang coba digambarkan Sabda Armandio dalam novel “Dekat dan Nyaring”.

Pembaca diajak berkenalan dengan orang-orang yang menghuni Gang Patos, sebuah pemukiman ilegal yang berdampingan dengan Permata Permai Residence. Di kampung yang gelap dan nyaris tak tersentuh cahaya matahari itu, orang-orang bergulat dengan kemiskinan 24 jam sehari. Bertahan hidup dengan apa saja yang bisa mereka lakukan. Edi, misalnya, membuka warung 24 jam yang menjual segala hal, mulai dari daging ular asap hingga ganja palsu dari bunga bokor.

Jangan bayangkan Gang Patos serupa dengan pemukiman kumuh padat penduduk yang umum kita lihat di Jakarta. Kampung itu telah ditinggal sebagian besar penghuninya. Mereka yang tersisa kini harus berurusan dengan pemukiman elit di balik tembok yang menyuruh mereka pergi. Namun, walau dihimpit kemiskinan orang-orang Patos selalu punya cara untuk tetap hidup dan riuh.

Kisah penghuni Gang Patos yang disajikan Dio sedikit banyak mengingatkan saya pada pertunjukan musikal In The Heights karya Lin-Manuel Miranda. Keduanya sama-sama bercerita tentang riuh pemukiman kaum marjinal, ketika semua orang saling kenal dan terasa seperti keluarga. Bedanya, “Dekat dan Nyaring” terasa lebih dekat dan nyata. Terlebih, dengan sisipan legenda pertentangan Orang Patos dan Orang Koksi di dalamnya yang menyimbolkan pertentangan pendatang dan penduduk asli.

Membaca “Dekat dan Nyaring” dan ‘tinggal’ di Gang Patos selama 24 jam tak ubahnya sebuah bentuk perlawanan terhadap kelas sosial. Orang-orang Patos hidup berselimut kemiskinan. Tak jauh dari sana, penghuni Permata Indah Residence hidup bergelimang kenyamanan. “Dekat dan Nyaring” ialah refleksi kehidupan urban sesungguhnya. Realistis, sekaligus ironis.

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Xena Olivia

Foto: goodreads.com