Simple Stories for a SIMPLE INVESTOR: Investasi Saham Itu Tidak Menyeramkan

Mantan Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) luncurkan buku "Simple Stories for a Simple Investor, Stop Being Njlimet" di Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI), Cimahi, Selasa (02/04/19). Dalam buku terbarunya ini, Nicky mendekatkan diri dengan pembaca melalui nilai humanis, bagaimana sebenarnya "investasi saham" terlibat dan berperan penting di dalam hidup kita dari segi kemanusiaan. (Foto: wartaekonomi.co.id)
Share:

“Tidak ada satu pun lembaga pemeringkat internasional yang tidak memberikan predikat “Layak Investasi” kepada Indonesia. Kok malah kamu sendiri yang masih meragukan negara kamu? Sayang, kita semua adalah rakyat Indonesia dan tinggal di Indonesia. Mungkin kamu lupa?” – Mantan Direktur Pengembang Bursa Efek Indonesia (2015-2018) Nicky Hogan.

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Kutipan tersebut merupakan curahan hati Mantan Direktur Pengembang Bursa Efek Indonesia (BEI) (2015-2018) Nicky Hogan. Nicky prihatin bahwa investasi saham merupakan hal yang masih terkesan asing atau bahkan menyeramkan di Indonesia. Padahal, investasi saham bukan hanya ranah orang-orang elit yang memakai jas hitam berdasi dan mempunyai mobil mewah, melainkan ranah bagi semua orang.

Mantan Direktur itu juga mengutip Bo Sanchez, “Tahukah Anda apa masalahnya dengan dunia pasar saham? Mereka tidak berbahasa kita. Betul. Mereka berbicara dalam logat asing yang hanya diucapkan dalam bulan kedua di Planet Uranus.”

Nicky pun menganggap, masyarakat tidak mengerti dan tertarik dengan investasi saham karena bahasanya yang rumit, tinggi, dan asing.

Sampul buku “Simple Stories for a SIMPLE INVESTOR: Stop being njlimet!” (Foto: Nickyhogan.com)

Oleh karena itu, ia ingin mengenalkan dunia investasi saham pada masyarakat menggunakan “bahasa bumi” melalui buku keduanya bertajuk “Simple Stories for a SIMPLE INVESTOR: Stop being njlimet!” Secara garis besar, Nicky menuangkan pengalamannya sebagai Direktur Pengembang BEI, opini pribadinya, serta tulisannya di media massa menjadi satu. Namun, ada yang unik dari tulisan Nicky mengenai investasi saham di buku ini, yaitu ia sama sekali tidak membahas kapan waktunya untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu.

Kendati demikian, Nicky membahas nilai yang jauh lebih penting, yaitu nilai kemanusiaan. Semua orang seharusnya bisa menikmati investasi saham untuk masa depan mereka masing-masing, baik itu orang elit maupun orang dengan “profesi-profesi terpinggirkan”, seperti mahasiswa, buruh pabrik, sopir taksi, petani lada, tukang ojek, dan lainnya.

Sebagai salah satu penggerak kampanye nasional “Yuk Nabung Saham” yang diselenggarakan BEI, Nicky sadar bahwa melakukan sosialisasi investasi saham pada masyarakat dari Sabang sampai Marauke bukanlah hal yang mudah. Misalnya, di Kecamatan Sidumulyo, Lampung Selatan, dimana penipuan investasi atau “investasi bodong”, sebuah istilah yang tidak disukai Nicky karena produk palsu bukanlah investasi melainkan murni penipuan, telah memberikan pengalaman pahit bagi 85% warga di kecamatan tersebut. Alhasil, melakukan sosialisasi merupakan hal yang sulit pada awalnya.

Namun, Nicky menceritakan bagaimana rekan-rekan dari kantor BEI rajin mengunjungi Lampung untuk terus mengajak para warga. Secara perlahan, camat, kepala desa, peladang, seniman, dan akhirnya para warga mau belajar bersama untuk berinvestasi saham.

Hal ini pun dibuktikan lebih lanjut dengan aksi para masyarakat di sana, dimana camat langsung membuka rekening, kepala desa mengorbankan rumahnya menjadi galeri investasi saham, dan warga yang pernah tertipu “investasi bodong” mengajak warga lainnya untuk berinvestasi saham. Daerah tersebut pun kemudian disebut sebagai Desa Nabung Saham. Hasilnya, para warga di desa itu bisa memiliki saham perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, yaitu Bank BRI, Beton, Mayora, Unilever, dan Kalbe Farma.

Kemudian, bagi para pembaca yang merupakan investor pemula atau muda, bersiaplah, karena Nicky tahu betul pemikiran mereka dan akan menunjuk berbagai macam kesalahan mereka dalam berinvestasi. Misalnya, mereka menganggap bahwa mereka sedang berinvestasi, tetapi malah melakukan jual-beli saham dalam hitungan hari atau minggu. Kesalahan lainnya termasuk membeli saham karena ‘katanya’ orang lain atau malah mamakai uang kebutuhan sehari-hari untuk “investasi”, atau bahkan trading, dalam keuntungan jangka pendek yang sangat sulit diterka bagi pemula. Ditambah lagi, investor yang melakukan jual-beli saham menggunakan emosi, bukan analisis. Sayangnya, beberapa cara investasi ini banyak terjadi.

Secara keseluruhan, tulisan Nicky Hogan menjadi penting untuk memahami manfaat investasi saham yang sesungguhnya. Ia berargumen bahwa investor tidak hanya menabung saham untuk masa depan, melainkan berperan sebagai warga negara Indonesia yang optimis terhadap kinerja bangsanya sendiri.

Menurut Nicky, berinvestasi saham juga menumbuhkan para investor menjadi orang-orang yang optimis. Bagaimana tidak? Mereka tahu adanya risiko kehilangan uang dalam jumlah yang tak sedikit, tetapi risiko tersebut layak diambil ketika melihat harapan dan potensi keuntungan dari investasi saham di tanah air.

Jika pembaca tertarik untuk mengetahui nilai, manfaat, dan peran investasi saham bagi diri sendiri dan orang lain di Indonesia, baik fisik maupun spiritual, maka buku ini bisa memberikan arti yang lebih pada investasi Anda sehari-hari. Buku ini bukan untuk memberikan uang, tapi memberikan arti dan nilai dari uang yang Anda investasikan.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Audrie Safira Maulana

Foto: nickyhogan.com