Dua Mahasiswa UMN Wujudkan Impian Belajar di Luar Negeri

logo iisma
Logo Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) (Foto: io.ub.ac.id)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Terkadang ada beberapa kesempatan untuk lebih memberi warna dalam kehidupan studi perguruan tinggi, salah satunya adalah dengan menjalani studi di luar negeri. Selain menambah pengalaman, juga menambah wawasan di lingkungan yang benar-benar baru. Kemendikbud ikut mewujudkan ini dalam program Indonesia International Students Mobility Awards (IISMA). Bahkan, ada dua mahasiswa asal Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang berhasil mendapat kesempatan untuk mengikutinya.

IISMA sendiri merupakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa semester empat hingga tujuh yang memenuhi syarat untuk belajar di perguruan tinggi mitra luar negeri secara gratis. IISMA diharapkan dapat menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri dan memperkuat jejaring internasional sehingga nantinya menjadi lulusan yang siap bersaing di dunia kerja.

Cathlin Andiny: Kesempatan Emas Meraih Impian

Salah satu penerima beasiswa IISMA Cathlin Andiny. (Foto: Dokumentasi narasumber)

Salah satu mahasiswa UMN yang berhasil menerima beasiswa IISMA ialah Cathlin Andiny, mahasiswa semester 5 program studi Ilmu Komunikasi. Baginya, program ini menjadi sebuah kesempatan emas untuk mewujudkan impiannya belajar di luar negeri.

“Motivasinya karena aku memang pengen dapat pengalaman untuk bisa belajar di luar negeri,” ujar Cathlin.

Awalnya, Cathlin berhasil mendapat informasi terkait program ini melalui platform Twitter. Hal itulah yang mengawali langkahnya untuk mencari tahu tentang IISMA lebih dalam lagi hingga akhirnya terjun mengikuti rangkaian proses seleksinya.

“Karena memang pengen student exchange, kalau ada kesempatan kenapa nggak kan. Jadi, aku tanya ke Global Office UMN via e-mail. Terus aku daftar, ikutin persyaratan-persyaratan dari UMN gitu,” ceritanya.

Cathlin juga membagikan pengalamannya ketika menjalani proses seleksi. Salah satu kesulitan yang ia jumpai adalah ketika ia harus memenuhi english proficiency test dalam waktu yang singkat sehingga tak memiliki persiapan yang cukup matang.

“Kalau untuk IELTS sama TOEFL itu gak mungkin karena perlu persiapan banget, dari belajar sama daftarnya pun butuh seminggu atau sebulan kurang dari hari tes nya. Akhirnya aku ambil Duolingo English Test. Yaudah aku belajar dari Youtube dan Google untuk ambil tes itu,” ungkap Cathlin.

Proses seleksi yang tidak mudah dan bersamaan dengan jalannya Ujian Akhir Semester kala itu membuat Cathlin sempat berpikir untuk menghentikan langkahnya. Namun, ia merasa bahwa impian dan kesempatan yang sudah ada di depan mata akan sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.

“Aku sampai udah kayak ‘aduh apa gak usah ikut aja ya?’ tapi sayang karena ini kesempatan belajar di luar negeri gratis,” katanya.

Perjuangan Cathlin selama mengikuti proses seleksi pun membuahkan hasil yang manis. Ia berhasil mendapatkan kesempatan belajar selama satu semester di Korea University, Korea Selatan. Sayangnya, keberangkatan Cathlin ke Korea yang semula dijadwalkan semester ini, harus ditunda hingga tahun depan lantaran kondisi pandemi COVID-19. Kini, ia fokus mempersiapkan beberapa dokumen untuk visa dan melengkapi tes kesehatan yang diperlukan.

Jeane Hilary: Berawal dari Ingin Hidup ‘Tidak Datar’

mahasiswa iisma jeane hilary
Salah satu penerima beasiswa IISMA Jeane Hilary di depan Schuman Building, University of Limerick, Irlandia. (Foto: Dokumentasi narasumber)

Penerima beasiswa lainnya adalah Jeane Hilary dari DKV 2019. Ia mengaku bahwa motivasinya untuk mengikuti Program IISMA adalah karena merasa hidup perkuliahannya ‘datar’ setelah pandemi.

“Bangun tidur, online class (Zoom), ngerjain tugas, begadang, tidur. Kayak ada rasa kurang gitu, ya,” ceritanya.

Mahasiswa yang kini sedang menjalani studinya di University of Limerick itu pertama kali mengetahui adanya program melalui salah satu dosennya. Jeane mengaku bahwa universitasnya sekarang sebenarnya bukan harapan pertamanya. Tadinya ia ingin ke Belanda. Namun, tingkat penerimaannya ternyata hanya lima orang. 

“Di Belanda kuotanya dikit, jadi mereka lebih menyortir berdasarkan IPK, english proficiency test, dan wawancara.”

Setelah pengumuman diterima, ada beberapa berkas lain yang harus diurus seperti visa dan tes PCR. Kalau untuk urusan ke universitas, Jeane terbantu oleh lembaga pendidikan Irlandia di Indonesia yaitu Education of Ireland. 

“Perwakilannya sangat membantu kami. Dari proses menanyakan kepada pihak universitas, kemudian menyortir dan membantu. Kedutaan besar Irlandia ini juga memberikan kami kemudahan di beberapa aspek,” tambahnya. Oleh karena itu, dia hanya perlu menyiapkan tes PCR negatif yang akan digunakan saat transit ke Dubai dan saat tiba di Irlandia.

Ternyata ada beberapa hal yang tidak sesuai dugaan bagi Jeane dan teman-temannya saat akhirnya tiba. Salah satunya adalah soal suhu udara.

“Kita kira Irlandia dingin banget kan, ternyata pas kita nyampe itu panas banget kayak di Bandung, Lembang, siang-siang, panas banget untuk satu minggu pertama,” ceritanya sambil bercanda-canda. Saat diwawancara pun ia sempat menyalakan gawainya untuk mengecek cuaca. Suhunya di bawah 20 derajat celcius, tetapi masih terasa panas dan matahari bersinar terang. 

Selain itu, ia sempat terkejut karena protokol kesehatan di Irlandia berbeda dengan Indonesia. Misalnya, banyak orang tidak memakai masker saat berada di luar ruangan dan hanya memakainya jika di dalam ruangan. Namun, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sudah berpesan agar mereka tetap menaati protokol kesehatan.

Sama seperti di Indonesia, siapapun dari luar negeri juga wajib dikarantina saat baru tiba di Irlandia. Namun, hanya selama lima hari dan tidak selama di Indonesia yang diwajibkan untuk karatina selama delapan hari sejak Juli lalu. Para mahasiswa IISMA di Irlandia pun langsung dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menjalani karantina di apartemen yang sama. Setelahnya, akan dites PCR lagi.

Pesan untuk Peserta di Masa Depan

Menurut Cathlin, hal yang penting untuk dimiliki oleh mereka yang berminat mengikuti program pertukaran pelajar ialah niat dan semangat yang tinggi. Tanpa kedua hal tersebut, proses seleksi akan terasa lebih berat untuk dijalani. Selain itu, penting juga untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, salah satunya adalah dengan mulai belajar sejak jauh-jauh hari sebelum mengikuti tes.

Salah satu hal yang Jeane pesankan pada mereka yang ingin mendaftar program IISMA adalah untuk mulai menabung agar bisa mengikuti TOEFL dan IELTS. Hal ini karena lebih banyak pilihan universitas jika mengikuti dua tes itu. Namun, TOEFL dan IELTS memang lebih mahal dibandingkan dengan Duolingo English Test. Selain itu, riset dan latihan wawancara juga penting karena ada kemungkinan saingannya akan terus bertambah.

 

Penulis: Christabella Abigail, Nadia Indrawinata

Editor: Andi Annisa Ivana P.

Foto: Dokumentasi Narasumber