Meira Anastasia: “Insecure” itu Manusiawi tetapi Harus Dikelola

Meira Anastasia
SeHati 2020 menghadirkan penulis buku dan film "Imperfect", Meira Anastasia, pada acara Virtual Healing hari Minggu (29/11/20). (ULTIMAGZ/Amartya Kejora)
Share:
 BANDUNG, ULTIMAGZ.com  Penulis buku dan naskah film “Imperfect” Meira Anastasia membagikan pengalamannya ketika menghadapi rasa insecure dalam webinar bertajuk Introducing: The New You di acara Virtual Healing SeHaTi 2020 yang diadakan pada Minggu (29/11/20). Baginya, perasaan tersebut merupakan hal yang manusiawi, tetapi penting untuk disadari dan dikelola dengan baik.

“Jadi, insecure itu enggak apa-apa. Kita bisa me-manage rasa insecure tersebut dengan bertanya pada diri kita sendiri, apa yang bisa kita lakukan dengan perasaan insecure ini, ” papar Meira.

Kunci utama dalam mengelola perasaan insecure adalah dengan sadar bahwa perasaan tersebut perlu dialihkan ke hal-hal positif agar tidak menghambat potensi seseorang untuk berkembang. Hal positif tersebut salah satunya adalah dengan disalurkan ke dalam sebuah karya, seperti yang ia lakukan dengan menulis buku “Imperfect” yang akhirnya meraih sukses dan masuk ke layar lebar pada Desember 2019.

Insecure adalah istilah untuk menggambarkan perasaan tidak aman yang membuat seseorang merasa gelisah, takut, malu, hingga tidak percaya diri. Menurut Meira, jika seseorang merasa insecure, orang tersebut akan merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri sehingga bisa berdampak pada pola pikir dan kemampuannya untuk berkembang menjadi lebih baik.

“Perasaan ini yang akan membuat kita jadi enggak percaya sama diri sendiri. Kalau kita enggak mencari solusi untuk keluar dari perasaan itu, damage terbesarnya akan menghambat kita untuk berkembang menjadi lebih baik,” jelas Meira.

Istri dari aktor sekaligus sutradara Ernest Prakasa ini juga menceritakan pengalamannya ketika mengalami perasaan insecure. Ia pernah mendapatkan komentar buruk melalui Instagram yang membuatnya menjadi tidak nyaman dengan fisiknya. Ia kerap menyalahkan diri sendiri dan merasa rendah diri.

Saat berusaha keluar dari perasaan insecure tersebut, Meira juga mengaku bahwa dirinya sempat meminta bantuan kepada psikolog. Baginya, mencari pertolongan merupakan cara yang tepat untuk keluar dari rasa tidak aman.

“Setelah ke psikolog dan ngobrol-ngobrol, aku jadi aware dan belajar untuk berdamai dengan diriku sendiri. Akhirnya aku jadi ngerasa nyaman lagi dengan diriku sendiri,” tutur Meira.

 

Penulis: Carolyn Nathasa Dharmadhi

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: Amartya Kejora