Sexy Killers: Batu Bara, Politik, dan Kepentingan Elit

Poster Film 'Sexy Killers' (Foto: Twitter @watchdoc_ID)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Setelah setahun penuh berkeliling Indonesia untuk merekam konflik seputar alam dan lingkungan hidup pada 2015, Tim Ekspedisi Indonesia Biru bersama WatchDoc Documentary mengakhiri perjalanan dengan merilis film pamungkasnya, Sexy Killers. Film ini tayang secara daring di kanal YouTube WatchDoc Image sejak Sabtu (13/04/19). Bekerja sama dengan Gerakan #BersihkanIndonesia, kali ini WatchDoc mengangkat isu pertambangan batu bara di Indonesia.

Secara garis besar, Sexy Killers berkisah tentang dampak tambang batu bara dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terhadap masyarakat Kalimantan. Mulai dari kesulitan air bersih, gangguan pernapasan akibat debu PLTU, hingga bekas galian tambang yang memakan korban karena tak kunjung direklamasi. Namun, lebih dari itu, Sexy Killers pun turut membuka data para elit politik yang punya kepentingan di bisnis-bisnis tersebut.

Selama 89 menit, penonton disuguhi kisah pilu masyarakat yang terpaksa menanggung akibat dari keserakahan segelintir elit perusahaan dan pemerintah. Dipenuhi dengan data, baik dalam bentuk angka, bagan, maupun pernyataan pejabat terkait pertambangan, Sexy Killers dirasa kuat dan mampu menggugah emosi penontonnya untuk bergerak. Bahkan di berbagai media sosial, film ini digadang-gadang dapat mengubah sikap politik masyarakat pada Pemilihan Umum 17 April mendatang.

Sang sutradara Dandhy Dwi Laksono nampaknya memiliki agenda politik sendiri. Dalam Sexy Killers, penonton diajak untuk mengaitkan jaringan para elit yang bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Kedua pasang calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo-Ma’aruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menduduki posisi sentral dalam jaringan ini. Dandhy ingin memperlihatkan bahwa kedua kubu yang berkompetisi di panggung politik nyatanya saling terkait dalam bisnis batu bara yang perlahan ‘membunuh’ masyarakat dan lingkungan.

Namun, ada hal-hal lain yang luput dari pendekatan Pemilu yang dipakai WatchDoc. Pendekatan ini menyebabkan pembahasan menjadi sempit, padahal masalah energi batu bara adalah hal yang sangat kompleks dan tak hanya melibatkan elit politik yang sedang bersaing di Pemilu 2019.

Misal, masalah analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) 50 PLTU batu bara yang selalu lolos sejak 2013 tak mendapat porsi yang cukup walau sempat disinggung. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya ada lebih banyak aktor yang turut bermain dalam pusaran bisnis batu bara, seperti Komisi Penilai AMDAL dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Keterlibatan para purnawirawan TNI yang dahulu dekat dengan Soeharto dan kini berkutat di bisnis batu bara pun bisa digali secara lebih mendalam.

Mungkin di lain waktu, saat hiruk pikuk pesta demokrasi telah reda, WatchDoc dapat mengangkat kembali isu ini dari sisi yang berbeda. Seperti halnya film dokumenter Jakarta Unfair (2016) yang mendapat epilog pada 2017, Sexy Killers pun pantas mendapatkan penelusuran lanjutan.

Sampai ulasan ini ditayangkan, film Sexy Killers telah ditayangkan dalam lebih dari 150 acara nonton bareng dan diputar lebih dari 1 juta kali di layanan pemutar video YouTube.

 

 

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Twitter @watchdoc_ID