SERPONG, ULTIMAGZ.com – Apa pandangan Ultimates saat mendengar obsessive compulsive disorder (OCD)? Di lingkungan masyarakat, sering kali orang dengan kepribadian perfeksionis, peduli akan kebersihan, hingga terbiasa dengan kehidupan yang teratur seolah-olah layak diindikasikan sebagai pengidap OCD. Kenyataannya, stigma tersebut tak sepenuhnya sesuai dengan realita.
Berdasarkan penelitian dari Community Mental Health Journal pada 2019 mengenai “Public Recognition and Perceptions of Obsessive Compulsive Disorder”, sebanyak 20% dari 806 responden menganggap bahwa OCD berkaitan dengan obsessive compulsive personality disorder (OCDP). OCDP sendiri merupakan sebuah keadaan yang memungkinkan penderitanya memiliki kebiasaan hidup sangat perfeksionis dan terobsesi akan kesempurnaan dalam kehidupannya.
Baca juga “Mengenal Hoarding Disorder, Kebiasaan Menimbun Benda”
Hal serupa juga didapatkan dari survei mandiri melalui Instagram. Sebagian besar Ultimates memiliki persepsi bahwa OCD merupakan suatu golongan permasalahan kepribadian yang memungkinkan para penderitanya memiliki obsesi kehidupan serba sempurna bahkan dari hal kecil.
“Kayak kalau liat barang yang kurang rapi dikit langsung gak nyaman dan pengen dibenerin,” ujar Darlene Verica Angel, mahasiswi Jurnalistik UMN angkatan 2021.
Namun, ada pula asumsi terkait sisi kepuasan diri yang dialami oleh seorang pengidap OCD.
“OCD itu orang yang harus ngelakuin sesuatu secara berulang sampai dia ngerasa enough (cukup),” ujar Shiva Clarancia, mahasiswi Jurnalistik UMN angkatan 2021.
Melansir dari nimh.nih.gov, OCD sebenarnya adalah permasalahan mental jangka panjang yang memungkinkan seseorang memiliki obsesi untuk melakukan tindakan berulang atau disebut juga dengan kompulsif. Tindakan kompulsif yang dialami oleh penderita OCD ini dapat mendistraksi kegiatan sehari-hari.
Penderita OCD terdiri dari anak-anak hingga dewasa. Berdasarkan riset National Institute of Mental Health, rata-rata usia terdiagnosis, yakni sekitar 19 tahun. Adapun International OCD Foundation memberikan estimasi bahwa terdapat 2-3 juta orang dewasa yang menderita OCD, sedangkan anak-anak kurang lebih mencapai 500 ribu. Jika dibandingkan dengan populasi penduduk Amerika, tentu angka ini tergolong cukup tinggi.
Hal inilah yang turut dialami oleh Aisyah Kamila. Gadis berusia 20 tahun ini telah terdiagnosis OCD pada usia menjelang dewasa. Namun, ia mengaku sudah merasakan adanya indikasi sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD).
“Saya sudah mengalami (terdiagnosis) OCD sejak 2 tahun yang lalu. Awal mula kena OCD itu sebenarnya sejak SD sudah merasakan ada yang salah,” tutur Aisyah ketika berbincang-bincang di kanal YouTube 15 Minutes Metro TV pada Rabu (16/12/20).
Aisyah turut membagikan kisahnya yang kerap melakukan berbagai kegiatan berulang dalam jumlah ganjil.
“Jadi, aku sering banget ngelus-ngelus barang berkali-kali, entah itu troli atau lemari yang aku lewati, memang harus aku elus-elus sampai 3 kali, di angka ganjil,” ucap Aisyah.
Menurut Aisyah, tindakan ini dilakukan agar membuat dirinya lebih tenang sekaligus untuk menghalau pikiran tidak rasional yang sering terlintas dalam pikirannya.
“Jadi, kalau aku naik anak tangga, aku harus berhenti di angka ganjil. Misalnya, itu gak ganjil, anak tangga yang sebelumnya aku longkap. Itu biar aku merasa tenang. Kalau enggak, aku merasa bakal tersambar petir, padahal itu kan pemikirannya irasional, tapi aku merasa kayak bakal banget terjadi,” ujarnya.
Aisyah sempat mengalami pengalaman yang membuatnya merasakan distraksi yang cukup besar hingga membuat dirinya menangis.
“Kalau mau ganti baju, biasanya bajunya suka aku putar berkali-kali sampai 3-5 kali. Pernah aku sampai nangis gak pake baju gitu, loh. Kayak, kapan gue pakainya kalau gue balik-balik terus?’ gitu,” jelas Aisyah terkait pengalaman yang kerap mengganggunya.
Pengidap OCD tak melulu tentang kebersihan ataupun perfeksionis. Hal ini dibuktikan oleh Aisyah yang mengalami tindakan kompulsif dan tak dapat dicegah. Seorang yang memiliki sikap perfeksionis dan peduli kebersihan bukanlah faktor utama penentu indikasi OCD dalam diri seseorang. Lalu, apa sebenarnya gejala dan faktor OCD?
Baca juga “Mengenal Lebih Jauh Social Anxiety Disorder”
Gejala OCD
Sesuai namanya, OCD memiliki dua gejala, yaitu obsesi dan kompulsif. Gejala obsesi memungkinkan seseorang mengalami gangguan pikiran secara terus menerus. Sementara itu, kompulsif merupakan perilaku yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan berulang dan ada keinginan besar untuk melakukan pemikiran yang menjadi obsesi dalam benaknya.
Penderita OCD dapat mengidap salah satu gejala obsesi dan kompulsif atau keduanya. Ia bisa sadar atau bahkan tidak menyadari pemikiran maupun perilaku yang sebenarnya mengganggunya di dalam aktivitas sehari-hari, kehidupan sosial, dan bahkan pekerjaan.
Berikut ini penjelasan terkait kedua gejala obsesi dan kompulsif secara lebih mendalam.
- Gejala Obsesi
Gejala obsesi akan terus berlalu-lalang pada pikiran penderita. Tak menutup kemungkinan bahwa dirinya akan terus menerus memikirkan suatu hal yang menyebabkannya merasa takut dan cemas. Memang, semua orang pasti akan merasakan hal seperti ini, tetapi lain untuk penderita OCD. Dalam pikirannya, pikiran takut tersebut terus hadir saat sedang melakukan atau memikirkan sesuatu dan menetap.
Inilah contoh beberapa pemikiran yang terus menerus dan menetap penderita OCD obsesi:
- Menghindari bersalaman dengan orang lain atau menghindari memegang suatu benda yang sudah dipegang oleh banyak orang. Sebab penderita OCD obsesi takut akan terpapar kuman atau penyakit.
- Merasa gelisah dan takut terhadap sesuatu yang tidak pasti. Contohnya, ragu sudah mematikan kompor atau sudah mengunci pintu rapat-rapat.
- Sangat terobsesi dan memikirkan hal-hal yang simetris atau tersusun rapi. Lalu, merasa kesal atau kurang suka terhadap suatu benda yang disusun tidak simetris.
- Gejala kompulsif
Gejala kompulsif membuat penderita melakukan sesuatu hal secara berulang guna memuaskan perasaan obsesi yang muncul di pikirannya. Dengan melakukan perilaku kompulsif, penderita akan merasa tenang karena seperti sudah melunasi beberapa kegiatan yang berisik di kepala.
Apabila pikiran obsesi hadir kembali, penderita akan mengulangi kembali perilaku kompulsif walaupun ia sadar hal yang dilakukannya berlebihan. Namun, penderita tidak bisa menghentikannya dan tetap melakukan perilaku kompulsif.
Inilah beberapa perilaku berulang yang dialami penderita OCD kompulsif:
- Mencuci tangan berkali-kali sampai bisa melukai tangannya karena khawatir masih ada kotoran yang menempel.
- Mengecek secara berulang barang atau sesuatu yang tidak pasti dalam pikirannya seperti mengecek kunci pintu dan keadaan kompor.
- Menyusun atau merapikan kembali benda yang menurut penderita berantakan dan merapikannya sesuai dengan standarnya.
Baca juga “Gangguan Bipolar dan Semua yang Berawal dari Sebuah Kesadaran”
Faktor dan penyebab OCD
OCD dapat diderita karena faktor keturunan, struktur dan fungsi otak, serta pengaruh lingkungan hidup. Namun, pengaruh lingkungan hiduplah yang paling berpengaruh bagi seseorang sampai menderita OCD.
Contohnya, seseorang tumbuh di lingkungan masa kecil dengan tuntutan keharusan untuk sempurna atau direndahkan, maka tidak menutup kemungkinan akan timbul gangguan psikis di dalam diri. Dari sinilah, OCD malah kerap kali berimbas saat fase beranjak dewasa hingga memunculkan keinginan untuk mencapai kesempurnaan dalam hidup.
Apabila Ultimates merasakan gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas sampai bisa mengganggu aktivitas sehari-hari? Jika iya, segera konsultasi ke psikolog atau psikiater untuk penanganan yang lebih khusus. Namun, jangan langsung diagnosa diri sendiri, ya!
Penulis: Aqeela Ara, Graciella Olivia Widjaja
Editor: Vellanda
Foto: nytimes.com
Sumber: kompas.com, pubmed.gov, nimh.nih.gov, iocdf.org, cnnindonesia.com, halodoc.com, alodokter.com, klikdokter.com
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!