Hustle Culture, Gaya Hidup si Penggiat Kerja

Hustle Culture, Gaya Hidup Si Penggiat Kerja (ULTIMAGZ)
Ilustrasi Hustle Culture. (Foto: repeller.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Produktif mungkin bisa menjadi satu kata yang menggambarkan keseharian manusia saat ini. Bahkan, tidak jarang kita melihat kutipan, seperti “discipline takes you to the next level” dan “pantang istirahat sebelum sukses” yang banyak digunakan. Ditambah, lingkungan yang semakin kompetitif juga mendukung kita untuk ikut sibuk tanpa memikirkan waktu.

Bagi sebagian orang, hal ini bisa menjadi motivasi diri untuk menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Ada pula yang menjadikan hal ini sebagai acuan untuk hidup sukses di kemudian hari dan untuk mengejarnya, sudah banyak yang menerapkan dan membiasakan diri dengan gaya hidup hustle culture.

Hustle culture berasal dari hustle yang artinya terus-menerus dan culture yang berarti budaya. Istilah ini menggambarkan gaya hidup seseorang yang harus bekerja kapan pun dan di mana pun untuk menghasilkan sesuatu. Umumnya, masyarakat lebih mengenal dengan istilah “gila kerja” atau “workaholic”.

Dalam buku “Organizational Behavior“, McShane dan Von Glinow menjabarkan seorang workaholic merupakan pribadi yang sangat terlibat dalam pekerjaanya. Mereka selalu merasa terdorong untuk terus bekerja sampai-sampai mengesampingkan masalah lain selain pekerjaanya. 

Munculnya hustle culture

Fenomena ini tidak muncul dengan sendirinya, tetapi karena faktor lingkungan yang berawal dari kaum milenial dan generasi Z yang memiliki banyak tekanan karena Revolusi Industri 4.0 bergerak serba cepat.

Lahirnya hal ini pastinya juga tak lepas dari perkembangan teknologi. Dilansir dari economica.id, Dosen Sosiologi Universitas Indonesia Lugina Setyawati menjelaskan, perkembangan teknologi yang pesat melahirkan gagasan technocapitalism atau kemunculan sektor teknologi baru dalam perkembangan kapitalisme. Technocapitalism memicu semua hal dapat diperdagangkan yang membuat masyarakat lebih giat bekerja.

Baca juga: Eco-Anxiety, Kecemasan Akibat Masalah Lingkungan

Sebagai contoh, generasi milenial yang menjadi YouTuber dan selebgram berlomba-lomba menggunakan media sosial untuk promosi. Dari sini, kita dapat melihat teknologi memfasilitasi masyarakat untuk melakukan hustle culture.

Dengan terus-terusan bekerja, mereka memiliki gaya hidup dengan waktu istirahat yang minim. Sebagai contoh, mahasiswa yang selain sibuk mengerjakan tugas kuliah, juga mengikuti organisasi kampus dan belajar untuk ujian esok hari.

Menurut mereka, lebih baik memiliki waktu istirahat yang sedikit dibandingkan harus meninggalkan kesibukan tersebut. Hal ini mendorong kebiasaan baru, seperti tidur hanya tiga jam dan makan jika sempat.

Di negara lain seperti Amerika, jam kerja harian ditetapkan hanya delapan jam. Walaupun mendadak ada pekerjaan tambahan, pegawai diperbolehkan meninggalkan kantor. Sangat berbeda dengan Indonesia, terutama mereka yang menerapkan hustle culture.

Gaya hidup hustle culture menguntungkan atau merugikan?

Gaya hidup ini membuat orang terobsesi untuk bekerja agar sukses di usia muda. Bahkan, tidak sedikit hustler, sebutan bagi orang yang menerapkan hustle culture, yang menantang dirinya bahwa bekerja keras penting untuk masa depan.

Namun, dengan segala ketidakteraturan yang menjadi aspeknya, hustle culture bisa berdampak buruk bagi berbagai faktor, salah satunya adalah kesehatan.

Gaya hidup ini berujung dengan waktu tidur yang kurang. Rezita dalam jurnalnya yang berjudul Fungsi Tidur dalam Manajemen Kesehatan menjelaskan, kurang tidur dapat mengubah regulasi napsu makan dan dapat dikaitkan dengan meningkatnya napsu makan, rasa lapar, dan asupan makanan.

Dari penelitian yang dilakukan, mereka yang dibatasi waktu tidurnya mengonsumsi kalori ekstra atau yang biasa disebut dengan Emotional Eating, yaitu perilaku makan berlebihan karena perasaan negatif dari diri sendiri. Hal ini memungkinkan untuk menyebabkan obesitas.

Selain makan berlebihan, mereka seringkali melupakan waktu untuk makan. Jarang makan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan baru seperti Cognitive Restraint, membatasi mengonsumsi makanan dengan tujuan untuk mengurangi berat badan, dan Uncontrolled Eating atau perasaan tidak bisa mengontrol makanan yang masuk.

Baca juga: “Eating Disorder”, Pola Makan Berantakan dengan Risiko Tinggi

Jam kerja yang bukan lagi nine to five, beban yang ditanggung terlalu berat, dan lingkungan kerja yang tidak sehat juga membuat hustler mengalami masalah kesehatan mental. Dilansir dari kemkes.go.id, Perwakilan Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia Nuri Purwito Adi menyebutkan, terdapat 60,6 persen pekerja industri kecil dan menengah mengalami depresi dan sebesar 57,6 persen mengalami insomnia.

Terlalu lelah dengan kesibukan mampu mempengaruhi kesehatan mental yang berujung dengan burnout atau istilah yang digunakan untuk mereka yang stres berat karena pekerjaan. Menurut World Health Organization (WHO), burnout sudah masuk ke ranah masalah mental dan bisa berujung pada depresi.

Perlukah menerapkan hustle culture?

Kebanyakan hustler termotivasi untuk hidup sukses di usia muda. Namun, hustle culture bisa menjadi gangguan bagi mereka yang memaksakan diri. 

Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki kapasitas daya tahan yang berbeda-beda. Seseorang tidak bisa memaksa dirinya untuk sama dan setara seperti orang lain. Tanpa bisa “mengerem”, bekerja terus-menerus bisa berujung merugikan diri sendiri.

Oleh karena itu, Ultimates harus mengenali batasan masing-masing. Tanamkan juga dalam diri, bahwa hidup bukan merupakan sebuah perlombaan menjadi yang terbaik. Pencapaian orang lain bukanlah kegagalan bagi diri sendiri, melainkan motivasi bahwa kita juga bisa sampai pada tahap tersebut. 

Baca juga: Praktik Mindfulness, Cara Nikmati ‘Saat Ini’

Ultimates juga bisa mencari hobi baru, seperti memasak dan olahraga, agar pemikiran kita tidak hanya fokus pada pekerjaan.

Sudah saatnya Ultimates memperbaiki pola hidup agar tidak menjadi bagian dari hustle culture. Memang ada kepuasan tersendiri jika kita berhasil atau bisa membantu orang lain, tetapi bukan berarti Ultimates tidak memperhatikan faktor penopang terkrusial, yaitu kesehatan.

Ingat, sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Maka dari itu, mulailah menyeimbangkan aktivitas sehari-hari Ultimates, ya!

 

Penulis: Maria Katarina 

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: repeller.com

Sumber: idntimes.com, economica.id, kemkes.go.id, McShane, S.L. & Glinow, M.A.V. (2010). Organizational Behavior (5th edition). New York: McGraw-Hill., Reza, Rezita R. (2019). Fungsi Tidur dalam Manajemen Kesehatan. Medical Journal of Lampung University. 8(2), 247-253.