The Nova Effect: Batas Tipis Keberuntungan dan Kesialan

the nova effect
Ilustrasi The Nova Effect. (foto: iynk.in)
Share:

Kok bisa. ya, dia sukses lebih dulu dibanding gue, padahal gue juga udah usaha?

Enak. ya, kalau punya privilege. Pasti lebih mudah mencapai hal-hal yang diinginkan!

Pantas aja dia sukses. Punya orang dalem!

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Apakah Ultimates pernah berpikir seperti kutipan di atas? Jika pernah, rupanya, menurut sebuah penelitian di Amerika, peluang sukses seseorang yang terlahir di keluarga yang kaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang tidak terlahir kaya tetapi cerdas. Lantas, kalau begitu, apakah orang yang ‘unprivileged’ tidak dapat sukses?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keberuntungan memiliki pengertian nasib; kemujuran, keadaan beruntung; keberhasilan sedangkan kesialan memiliki arti keadaaan sial; ketidakmujuran; kemalangan; kecelakaan. Jika dibaca berdasarkan arti, kedua hal ini menggambarkan keadaan yang sangat bertolak belakang, tetapi sebenarnya batas di antara keduanya sangat tipis.

Mari melihat sebuah contoh nyata. Jack Ma merupakan orang paling kaya di Cina. Kenyataannya, ia pernah ditolak oleh tiga kampus di Tiongkok, sepuluh kali ditolak oleh Harvard, dan tiga puluh kali ditolak dalam lamaran pekerjaan. Ketika melihat dari sisi nasib, dapat dikatakan keadaan yang dialami Jack Ma saat itu merupakan kesialan. Namun, di sisi yang lain, jika Jack Ma tidak mengalami semua penolakan itu, mungkin saja dia tidak akan menciptakan Alibaba dan menjadi orang terkaya di Cina.

Contoh di atas merupakan bukti nyata bahwa nasib buruk dapat menjadi nasib baik. Teori yang menjelaskan mengenai hal ini disebut sebagai The Nova Effect.

Mengenal The Nova Effect

Teori ini pertama kali diutarakan melalui sebuah channel YouTube bernama Pursuit of Wonder. Dikemas menjadi sebuah cerita, The Nova Effect dapat menunjukkan batasan tipis di antara keberuntungan dan kesialan, serta misteri mengenai nasib manusia dalam menjalankan kehidupan.

The Nova Effect berawal dari seorang pemuda bernama Eric yang sedang berjalan-jalan bersama anjingnya, Nova, di taman. Tiba-tiba seorang kelinci melompat dari semak-semak, menyebabkan Nova berlari kencang dan terlepas dari genggaman Eric. Nova pun hilang. Eric mulai menyebarkan selebaran untuk mencari Nova, tetapi Nova tidak kunjung ditemukan.

Kejadian tersebut membuat Eric berpikir mengenai nasib sialnya. Kalau saja ia tidak keluar pada hari itu dan kelinci tidak melompat di saat dia sedang lengah memegang Nova, mungkin Nova tidak akan hilang.

Seorang perempuan bernama Vanessa kemudian datang untuk mengembalikan Nova yang telah hilang selama berhari-hari. Setelah itu, Eric dan Vanessa menjadi akrab. Mereka beberapa kali pergi bersama untuk menghabiskan waktu. Keduanya merasa cocok dan akhirnya berpacaran.

Eric kembali berpikir dan merasa bahwa dirinya beruntung. Kalau saja Nova tidak hilang, dia tidak akan bertemu dengan Vanessa.

Suatu hari, Eric pergi untuk menjemput Vanessa. Di perjalanan, Eric mengalami kecelakaan. Ia pun harus pergi ke rumah sakit dan melakukan pengecekan tubuh secara menyeluruh untuk memastikan apakah terdapat dampak dari kecelakaan tersebut.

Eric berpikir bahwa kecelakaan tersebut merupakan nasib buruk bagi dirinya. Kalau saja dia tidak pergi menjemput Vanessa melalui jalan itu, pada jam itu, pada hari itu, mungkin saja dia tidak akan mengalami kecelakaan.

Setelah menunggu beberapa saat, dokter datang menghampiri Eric dan menyampaikan dua kabar. Kabar buruknya adalah ternyata Eric memiliki sebuah tumor di kepalanya, sedangkan kabar baiknya ialah tumor tersebut dapat ditangani sebelum ganas.

Dokter menjelaskan bahwa kecelakaan yang dialami Eric tidak mengakibatkan hal fatal pada tubuhnya, sebaliknya kecelakaan ini membawa dampak baik kepada Eric yaitu dapat mengetahui tumor pada kepalanya sebelum menjadi ganas.

Eric pun terdiam beberapa saat dan kembali berpikir betapa beruntung dirinya dapat mengetahui tumor tersebut sebelum terlambat. Eric mulai menyadari bahwa segala hal tentang nasibnya ke depan tidak dapat ia prediksi. Ia tidak akan pernah tahu satu tindakan hari ini dapat berakibat kepada hal apa.

Sesuatu yang seorang anggap sial, dapat saja menjadi keberuntungan di masa depan. Sebaliknya, sesuatu yang seorang anggap beruntung, dapat saja menjadi kesialan di waktu ke depan.

Keberuntungan tidak pernah murni kebetulan

Menurut seorang filsuf bernama Seneca, keberuntungan tidak pernah murni sebuah kebetulan. Terdapat sebuah rumus untuk mencapai keberuntungan, yaitu kesiapan dan kesempatan.

Artinya, kesempatan dapat datang kapan saja sehingga hal pertama yang harus dilakukan adalah kesiapan. Kesiapan untuk bekerja, menghadapi tantangan, menjadi orang yang dapat dipercaya, dan berkualitas.

Sebaliknya, ketika manusia sudah sangat siap dan telah menjadi orang yang berkualitas, tetapi tidak pernah membuka diri dan bertemu dengan banyak orang, kesempatan tidak akan datang.

Misalnya, Rani mendapat tawaran pekerjaan dari salah satu temannya. Pada saat melakukan wawancara, Rani dapat menunjukkan kualitas dirinya, Maka dari itu, ia mendapat kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Jika pada saat itu pihak yang mewawancarai Rani tidak melihat adanya kapabilitas dalam dirinya, apakah Rani dapat mendapat kesempatan? Tentu saja tidak.

Jika Rani merupakan orang yang tertutup dan tidak suka berteman dengan orang lain, apakah kesempatan akan datang kepada Rani? Tentu saja tidak.

Selain menjadi pribadi yang memiliki kesiapan dan pintar mencari kesempatan, perlu juga menjadi pribadi yang dapat berpikir optimis, optimis bukan berarti selalu positif, tetapi mampu melihat hal-hal baik di setiap kegagalan.

Baca juga: Kualitas Diri dan Melek Literasi, Kunci Utama Pendidikan yang Berkualitas

Contohnya, ketika gagal dalam suatu hal, cobalah berpikir bahwa mungkin saja dengan gagal, diri sendiri dapat belajar untuk pantang menyerah dan mencari peluang-peluang baru.

Penting untuk tidak terlalu takut menghadapi masa depan karena dunia selalu penuh dengan misteri. Perlu juga untuk tetap menjadi diri sendiri, tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain atau membandingkan pencapaian orang lain dengan diri sendiri. 

Terakhir, bersikap sabar dalam mencapai apa yang diinginkan menjadi sangat penting karena tidak ada yang instan dalam meraih kesuksesan.

Keputusan memilih jalan hidup ada di tangan sendiri. Kalau Ultimates, ingin hidup seperti apa?

 

Penulis: Keisya Librani Chandra

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: iynk.in

Sumber: Pursuit of Wonder, Satu Persen