Zodiak, Sugesti atau Kenyataan?

Ilustrasi rasi bintang atau zodiak
Ilustrasi rasi bintang atau zodiak. (Foto: klikdokter.com)
Share:

 “Taurus itu orangnya keras kepala banget, deh!”

Eh, gua cocok banget sama dia, soalnya gua Libra, dia Gemini.”

JAKARTA, ULTIMAGZ.comUltimates pernah sadar tidak bahwa zodiak seringkali dijadikan bahan obrolan di kala senggang.  Tidak sedikit pula yang mempercayai bahwa kepribadian, cinta, keuangan manusia dapat diketahui melalui zodiak. Namun, apakah sebenarnya ramalan berdasarkan zodiak dapat benar-benar dipercayai?

 

Munculnya Ilmu Astrologi

Ilmu astrologi muncul sejak diperkenalkan oleh bangsa Mesir Kuno pada tahun 400 SM, tetapi bangsa Yunani Kuno lah yang mematenkan kata zodiak itu sendiri. Zodiak berasal dari kata Yunani “zoodiacos cyclos” yang memiliki arti lingkaran hewan, bangsa Yunani juga memberikan nama-nama zodiak yang dikenal sekarang.

Kemudian, ilmu astrologi dilanjutkan oleh bangsa Babilonia atau suku Babel yang memang terkenal suka menyembah benda-benda langit. Pada tahun 539 SM, Persia mengambil alih kekuasaan bangsa Babel dan akhirnya banyak yang melarikan diri ke daratan Eropa Selatan. Dari sinilah praktik meramal bintang semakin marak dikenal hingga ke seluruh dunia.

 

Seberapa Sering Zodiak Dibicarakan dan Bukti Ilmiah

Di Indonesia sendiri, zodiak memang seringkali dibicarakan, mulai dari majalah, tabloid wanita, media daring, hingga media sosial. Perbincangan mengenai zodiak tidak pernah usang dan membosankan. Malah, banyak masyarakat yang mencari ramalan bintang setiap harinya. Hal ini dapat dilihat dari, hingga saat ini terdapat 26.200,000 artikel bertemakan zodiak hanya berdasarkan pencarian Google. Belum lagi banyaknya pembuat konten di media sosial yang membicarkan mengenai zodiak dalam kehidupannya sehari-hari. Terdapat juga banyak buku dan video yang mengulas mengenai zodiak.

Melansir kompas.com, menurut sebuah penelitian pada tahun 2015, tanggal dan bulan lahir manusia dapat memenuhi sifat dan kepribadian seorang pribadi. Di dalam penelitian tersebut, dilakukan sebuah pengamatan terhadap 300 publik figur dari berbagai bidang, seperti politik, sains, sastra, dan seni. Para peneliti mencoba menghubungkannya dengan astrologi barat tradisional, yaitu elemen air, bumi, udara, dan api dengan bulan-bulan masehi.

Selain itu, para astronom juga telah meneliti matahari dan rasi bintang, tetapi belum diketahui secara pasti pergerakan bumi dan gravitasi bulan. Pergerakan bumi sendiri dapat menyebabkan lokasi rasi bintang berubah seiring waktu sehingga letak rasi bintang juga dapat berpindah seiring waktu. Maka dari itu, sampai sekarang belum ada bukti konkret yang dapat membuktikan bahwa zodiak dapat memengaruhi sifat, keuangan, dan percintaan manusia.

 

Kok, Masih Dipercaya?

Meskipun demikian, ada beberapa alasan mengapa manusia dapat mempercayai zodiak secara psikologis:

1). Efek Barnum

Merupakan sebuah kondisi psikologis ketika manusia cenderung menganggap sebuah informasi yang ditujukkan khusus untuk dirinya adalah kebenaran. Kondisi ini dapat terjadi ketika manusia meyakini sebuah deskripsi hanya ditujukkan kepada dirinya secara personal. Padahal, deskripsi tersebut sebenarnya juga ditujukkan secara general kepada semua orang.

Misalnya, ada sebuah artikel yang membicarakan bahwa Taurus merupakan seorang pribadi yang setia dan tangguh, otak manusia akan mencocokkan dan meyakini bahwa hal itu benar sesuai dengan kepribadian dirinya dengan alasan dirinya merupakan seorang Taurus. Namun, jika manusia disuguhkan dengan fakta-fakta yang negatif, otak manusia dapat menyanggah hal tersebut atau menjadikan hal tersebut sebagai alasan dirinya memiliki kekurangan.

2). Bersosialisasi

Kecenderungan manusia untuk bersosialisasi dengan sekitarnya dapat menjadi salah satu alasan mengapa zodiak dipercaya oleh banyak orang.

Misalnya, seorang publik figur di media sosial berbicara mengenai kecocokan antara zodiak Libra dengan Sagitarius karena Libra lebih cenderung mengontrol, tetapi Sagitarius tetap mendapatkan kebebasan dalam hubungannya bersama Libra.

Dengan mendengar hal tersebut, kedua orang yang berzodiak Sagitarius dan Libra akan lebih mudah mengenal satu sama lain karena di dalam otak sudah memproses bahwa mereka akan cocok. Pemikiran di otak inilah yang lama kelamaan akan memunculkan sugesti dan diimplementasikan ke dalam sikap dan perilaku.

3). Cocoklogi

Pada dasarnya, manusia suka menyambungkan sebuah kejadian dengan kejadian lainnya, merasa bahwa sesuatu selalu memiliki sebab-akibat.

Misalnya, Andi baru saja putus dari pacarnya yang berzodiak Pisces. Kemudian, salah satu temannya menanyakan alasan mengapa mereka putus, Andi menjawab, “Biasalah, Pisces ‘kan suka victim blaming,”. Padahal, hal tersebut belum tentu benar dan tidak semua orang yang memiliki zodiak Pisces melakukan victim blaming. Hal ini dapat terjadi karena Andi membaca sebuah unggahan mengenai zodiak Pisces, menghubungkanya dengan mantan pacarnya, lalu menyimpulkan sesuai dengan yang Ia baca.

Zodiak memang obrolan yang menyenangkan untuk dibicarakan bersama teman, dibaca di dalam artikel, dan dapat membuat manusia merasa spesial ketika mendapatkan ramalan yang menyanjung, tetapi perlu diingat bahwa bersikap skeptis dan kritis merupakan sebuah keharusan, bahkan terhadap pemikiran sendiri sekali pun.

 

Reporter: Keisya Librani Chandra

Editor: Nadia Indrawinata

Sumber: Asumsi.com, Kompas.com, Idntimes.com, Kok Bisa?

Foto: Klikdokter.com